Bayang Ancaman - Episode 21.
*----------*
Giovanna merasakan nyeri di punggungnya, membuat setiap gerakan terasa berat dan canggung. Alexander berdiri di belakangnya, menekan perlahan bagian yang sakit, tangannya hangat namun penuh perhatian. Setiap tekanan terasa tepat, seolah ia tahu persis di mana rasa sakit itu berada.
"Apa sesakit itu?" suara Alexander rendah, nada serius. Ia menatap Alexander , mencoba membaca wajahnya, namun ada sesuatu yang aneh, mata Alexander, seakan menyimpan rahasia yang tak ingin diungkapkan.
Giovanna hanya mengangguk kecil, menahan diri. Rasa sakit perlahan mulai mereda, tapi ada ketegangan yang tersisa di udara, seperti sebuah rahasia yang menempel di ruangan itu. Ia memang sering mengangkat barang berat meski sudah dilarang, dan kini tubuhnya merasa lega, namun pikirannya tetap waspada.
Alexander tersenyum tipis, senyum yang hangat tapi misterius. "Aku harus pergi sebentar... tapi tidak akan lama, Gio" ucapnya, suara ringan namun meninggalkan rasa aneh yang sulit dijelaskan. Giovanna menelan ludah, merasakan sesuatu yang berbeda dari biasanya seolah ada sesuatu yang disembunyikan.
*----------*
Sementara itu, Isabel sibuk mencari Gavin yang tak kunjung ia temukan. Ia menelusuri setiap sudut rumah, membuka pintu demi pintu, memeriksa ruang tamu, dapur, bahkan teras belakang. Setiap langkahnya penuh waspada, mata tajam menelusuri setiap bayangan, seolah takut melewatkan satu jejak pun. Ia bertanya pada semua orang yang ia temui kecuali Alexander, yang memang sedang tidak di rumah.
"Aku yakin, tuan Gavin sedang mencari udara segar di luar," jawab Charles, mencoba menenangkan Isabel dengan nada tenang.
Isabel hanya menggeleng, bibirnya menekuk dan alisnya berkerut. Wajahnya memerah, menunjukkan betapa frustrasinya ia karena Gavin selalu sulit ditebak dan tak bisa ia temukan. Tangan Isabel terkepal perlahan, napasnya terengah, dan rasa khawatir bercampur dengan kekesalan.
Ia berjalan lebih cepat, menyusuri koridor panjang, setiap langkahnya memantul di lantai kayu. Sesekali ia menepuk pintu, berharap mendengar jawaban, tapi yang terdengar hanya gema kosong. Sebuah desah panjang keluar dari bibirnya, suara yang mengungkapkan betapa jengkel dan tak sabarnya ia.
"Ke mana kau pergi, Gavin? Selalu membuatku kesal!" gumam Isabel pelan, tapi nada suaranya tajam, hampir seperti ledakan kecil yang ia tahan. Rasa khawatirnya tetap ada, namun kekesalan itu lebih dominan, sebuah kombinasi emosi yang membuat langkahnya semakin cepat dan gerakannya semakin gelisah.
*----------*
Bangunan Tua
Di sebuah bangunan tua yang tersembunyi di tengah hutan, Antonio berdiri kaku, menggendong seekor anak anjing kecil dalam pelukannya. Bayangan pepohonan yang bergoyang diterpa cahaya remang lampu dari jendela retak, menciptakan siluet menakutkan di dinding. Ia menunggu Luke, yang hingga saat itu tak kunjung muncul.
Akhirnya, sosok Luke muncul dari gelap, langkahnya tenang namun membawa aura mengancam. Antonio menatapnya dengan senyum dingin, mata yang tajam seakan menelusuri niat Luke.
"Aku akan pergi dalam beberapa hari. Yang Mulia memanggilku. Jangan buat kekacauan selama aku pergi," ucap Antonio tegas, suara beratnya bergema di ruangan sunyi.
Luke hanya tertawa sinis, suaranya pecah di udara.
"Kita lihat nanti," balasnya, nada bosan tapi mengandung ancaman terselubung.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Lady Whitmore (ON GOING)
Mistero / ThrillerInggris, 1990. Keluarga Whitmore dikenal sebagai salah satu keluarga bangsawan paling terpandang. Namun sebuah kecelakaan tragis menghancurkan semuanya, menyisakan dua anak yang harus bertahan sendiri: Antonio dan Isabella. Di balik sikap lembut Ant...
