Topeng Putih

78 46 62
                                        

Topeng Putih  – Episode 17

*----------*

Ledakan tembakan membelah keheningan. Peluru menghantam kaki kiri Lisa, membuatnya menjerit dan tersungkur. Alice tiba di tempat kejadian, matanya bersinar penuh murka. Lisa merangkak panik namun peluru kedua menghajar kaki kanannya. Kini ia menyeret tubuhnya seperti binatang yang sekarat.

Rambutnya ditarik paksa. Alice membungkuk di hadapannya, napasnya panas, matanya kosong. "Kau pikir ini cukup untuk menebus semuanya?"

Alice menyeret tubuh Cornelia menuju sumur, niatnya jelas yaitu mengubur hidup-hidup wanita itu. Namun kehadiran Isabella dan kelompoknya menghentikan aksinya.

"Aku tak ingin mengganggu... tapi izinkan aku bertanya padanya dulu" ucap Isabella tenang.

Isabella berjongkok, mengangkat dagu Cornelia yang berdarah. "Kau pelakunya? Penculik para wanita desa? Yang menjual organ mereka?"

Cornelia mengangguk lemah. "Hanya Alice yang dikirim ke Destitution... yang lain... kami jual... dan paksa kerja..."

"Dan sungai? Racun itu?"

Cornelia mengangguk lagi, tubuhnya gemetar.

"Terima kasih." Isabella berdiri. "Lanjutkan, Alice. Terserah kau."

Cornelia berteriak lirih. Namun semua berpaling. Tak ada belas kasih.

Cornelia masih meringkuk di tanah dengan tubuh bersimbah darah, napasnya tersengal. Antonio tertawa pelan, lalu berdiri di depan Isabella yang hendak masuk ke rumah.

"Langkahkan kakimu satu kali lagi, dan aku pastikan kau tidak bisa kembali berdiri" ucap Antonio dingin, menahan Isabella dengan tubuhnya.

Isabel menatap tajam, tapi belum sempat bergerak, Gavin melangkah maju dan mencengkeram kerah baju Antonio dengan keras.

"Kau sudah melampaui batas" desis Gavin.

Hugo terkejut. Tak ada yang berani menyentuh Antonio seperti itu kecuali Victor.

Antonio menatap tajam, namun ia tak bergerak. Hanya diam, mengamati. Antonio, dengan senyum bengisnya, melirik Hector.

"Hector, katakan pada anak kucing ini siapa yang sedang ia lawan."

Gavin akhirnya melepaskan genggamannya dengan dingin. Ia tahu kapan harus berhenti, tapi sorot matanya menunjukkan ia tidak takut.

Charles mendekat dan berkata, "Biarkan mereka menyelesaikan ini, Gavin. Alice memilih jalannya sendiri."

Isabella tak tinggal diam. Ia mencoba menerobos masuk lagi, tapi Hugo mencegahnya.

"Maaf, nona, ini bukan urusanmu."

Dengan cepat, Isabel menginjak kaki Hugo dan menyikut perutnya. Hugo meringis, terhempas ke belakang. Tapi sebelum ia bisa bergerak lagi, Victor tiba-tiba mengangkat Isabel, menggendongnya di pundak seperti karung beras.

"Apa yang kau lakukan, Victor?! Turunkan aku sekarang juga!!"

Isabella meronta, memukul punggung Victor, bahkan menggigit bahunya sekeras yang ia bisa. Tapi Victor tetap diam, langkahnya menjauhi rumah itu.

"Victor! Aku serius! Turunkan aku! Aku akan menggigitmu sampai mati!!" teriaknya.

Victor tidak menjawab. Hanya angin yang menjawab keheningan mereka. Jauh di belakang, Alice masih berdiri di sisi Cornelia... dan segalanya baru akan dimulai.

Alexander menyerahkan botol air beracun kepada Alice. "Silakan. Perjamuan terakhirnya."

Air kotor itu dipaksa masuk ke mulut Cornelia. Ia tersedak, tubuhnya menggeliat seolah perutnya terbakar. Alice menodongkan pistol, larasnya menempel di tenggorokan Cornelia, matanya menatap penuh ancaman.

The Lady Whitmore (ON GOING)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang