Pelukan Penuh Luka - Episode 19.
*----------*
Pagi hari - Mansion Antonio.
Antonio duduk di aula besar, jari-jarinya menari di atas tuts piano. Alunan musik mengalir indah, menenangkan suasana. Tapi tiba-tiba, sebuah nada salah terdengar dan Antonio langsung terkejut, seolah kesalahan kecil itu memicu ketakutan besar.
"Tunggu... apa masa lalu ini menghantuiku lagi?" gumamnya gelisah.
Tiba-tiba Victor datang dan meletakkan tangan di pundak Antonio. Pria itu tersenyum tipis, tapi tatapannya penuh arti.
"Apa yang kau takuti, Antonio?"
Antonio menatap Victor dengan mata penuh ketakutan. "Mereka... benar-benar sudah mati kan? Katakan padaku, Victor! Jangan biarkan mereka menyentuh Isabel... jangan biarkan itu terjadi."
Victor menarik napas panjang. "Tenang. Mereka sudah lama pergi. Kau dan Isabel tidak akan tersiksa lagi."
*----------*
Flashback.
Saat Antonio berusia delapan tahun dan Isabel lima tahun, rumah mereka menjadi penjara ketakutan yang senyap.
Antonio duduk di piano besar di aula, jarinya menari di atas tuts yang dingin. Ayah mereka berdiri di sudut ruangan, mata menatap tajam, napasnya berat. Suasana yang seharusnya hangat pecah ketika Isabel bermain di dekat Antonio, melompat-lompat tanpa sadar menabrak piano. Antonio tersenyum gemas, mencoba menenangkan adiknya, tapi satu nada salah terdengar dan semuanya berubah.
Ayah mereka meledak. Suara amarahnya menggema di dinding-dinding aula, gemuruh yang menelan ketenangan anak-anak. Antonio berusaha melindungi Isabel. "Jangan sakiti dia!" teriaknya, suaranya serak dan kecil, tak cukup untuk menahan kemarahan pria dewasa itu.
Dalam sekejap, Isabel diambil dan dibawa ke sebuah ruangan gelap, terkunci dengan satu jendela kecil yang menyisakan cahaya tipis. Tangisan Isabel teredam, tapi Antonio bisa merasakannya seperti tusukan di dadanya sendiri.
Malam itu, Antonio menyelinap ke luar kamar. Ia menempelkan matanya ke jendela kecil, melihat adiknya yang kurus, pucat, dan gemetar. Hatinya hancur.
"Isabel, kau sudah tidur?" bisiknya, suara nyaris tak terdengar.
"Di sini gelap, Kak... kalau aku menangis, ayah akan semakin marah," jawab Isabel pelan, suaranya serak dan penuh ketakutan.
Antonio menggenggam tepi jendela, bibirnya gemetar. "Kakak akan membebaskanmu... janji."
Keesokan harinya, Antonio mencoba cara ekstrem. Ia sengaja menekan nada-nada salah di piano, berharap ayahnya akan memenjarakan dirinya agar ia bisa melihat Isabel. Tapi rencananya gagal. Frustrasi dan putus asa, ia membenturkan kepalanya ke cermin, pecahan kaca menggores kulitnya, darah mulai mengalir di dahinya.
Orang tua mereka panik. Antonio terkulai, tubuhnya lemah, tetapi matanya tetap menyala dengan satu tujuan yaitu melindungi adiknya.
"Jika kalian menyakiti Isabel... aku... aku bisa bunuh diri!" ancamnya, suara kecil tapi penuh tekad, tatapannya menusuk, menantang kekuasaan ayahnya.
Namun tubuhnya akhirnya terjatuh, tak sadarkan diri, meninggalkan aula yang hening. Trauma itu menempel di dalam jiwanya, mengendap menjadi obsesi dan ketakutan yang akan membayanginya hingga dewasa.
*----------*
Antonio terbaring, wajahnya penuh luka batin dan penyesalan.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Lady Whitmore (ON GOING)
Mystery / ThrillerInggris, 1990. Keluarga Whitmore dikenal sebagai salah satu keluarga bangsawan paling terpandang. Namun sebuah kecelakaan tragis menghancurkan semuanya, menyisakan dua anak yang harus bertahan sendiri: Antonio dan Isabella. Di balik sikap lembut Ant...
