Nb : typo bertebaran
Ini sudah dua hari Irene melakukan pekerjaan yang sama yaitu mengusap pelan punggung tangan bocah kecil kesayangannya. Ini juga menjadi pertanda sudah berapa lama Yeri terbaring di bangsal rumah sakit.
Dengan pelan Irene menghentikan usapannya dan mencium dahi Yeri saat anak itu sudah menjelajahi alam bawah sadarnya. Irene menghela nafasnya dengan berat, kondisi putri bungsunya belum juga membaik meskipun sudah dua hari dirawat.
Menyamankan dirinya duduk di sofa ruangan Yeri, pikiran Irene kembali pada kejadian saat dirinya dihubungi pihak sekolah putrinya jika putrinya dilarikan ke rumah sakit lantaran pingsan saat jam pelajaran berlangsung.
"Mah.."
Irene menolehkan kepalanya saat mendapati putri pertamanya memasuki ruangan Yeri sambil membawa beberapa kantong plastik.
"Sudah datang? " tanyanya menyambut kedatangan Wendy
Wendy hanya menganggukan kepalanya, lalu menjatuhkan dirinya duduk disamping Irene dan memeluknya erat.
"Kenapa hmb?" tanyanya membalas pelukan putrinya
"Rindu" cicitnya pelan
"Ei.. padahal hanya tidak bertemu tadi pagi, sudah rindu saja"
"Ish mamah, apa salahnya kalau kakak rindu" rajuknya
Irene terkekeh gemas, anak-anaknya begitu manja jika bersamanya dan Suho. "Iya gak papa kok kakak rindu"
"Jangan tertawa mah" lagi, Wendy mengeluarkn rajukannya disaat dia merasa ibunya tengah menggodanya.
Bukannya menghentikan tawanya, Irene justru gencar menggoda anaknya yang selalu mendeklarasikan kalau dia sudah dewasa dan tidak akan bertingkah seperti adiknya, tapi kenyataannya terkadang Wendy lebih manja daripada Yeri."Bisa minta tolong jaga adek sebentar? Mamah harus pergi sebentar" ujar Irene membuat Wendy melepaskan pelukannya dan menatap Irene sedikit khawatir.
"Tapi..."
"Hanya sebentar, mumpung adek masih tidur mamah jamin dia tidak akan rewel" bujuk Irene mengusap pelan surai hitam Wendy
Dengan sedikit ragu Wendy menganggukan kepalanya, menatap ibunya yang mulai beranjak meninggalkan ruangan adiknya. Bukannya tidak suka jika disuruh menjaga adiknya, tapi saat Yeri sakit tingkahnya lebih manja dari biasanya.
***
Brakk..
Sengaja. Sengaja Wendy membuka pintu ruangan adiknya dengan kasar. Dengan wajah ditekuknya Wendy menyerahkan satu kantong plastik berisi tteokbokki pesanan Yeri.
Yeri menerimanya dengan sumringah, berbanding terbalik dengan wajah masam Wendy yang sangat kentara.
"Kak__"
"Apalagi? Tidak telalu pedas dan porsi tidak banyak ditambah lima irisan daun bawang dan tiga butir telur puyuh rebus" Wendy memotong ucapan Yeri sebelum adiknya itu meminta yang macam-macam. Tidak masalah menuruti permintaan Yeri, tapi masalahnya ini sudah ketiga kali dirinya membelikan pesanan makanan sesuai dengan kemauan Yeri. Yang pertama kata Yeri tteokbokki nya terlalu pedas dan tidak ada telur puyuh rebusnya. Karena tidak sesuai adiknya merajuk mau tidak mau dirinya harus kembali membelikan tteokbokki. Yang kedua lagi-lagi adiknya itu merajuk karena rasanya yang tidak pedas dan irisan daun bawangnya tidak sesuai dengan yang Yeri harapkan, baru mengeluarkan kalimat penolakan untuk membelikannya lagi, adiknya itu menangis histeris dan mengatakan dirinya tidak menyanyangi Yeri. Dan untungnya yang ketiga ini Yeri menerimanya, jika tidak mungkin dirinya lebih baik akan gantung diri di pohon tauge.
