JANGAN LUPA VOTENYA!
Pagi. dimana orang orang memulai kesibukannya. Begitupun Jira yang sekarang berada di dimeja makan, untuk sarapan sebelum berkegiatan hari ini.
Untuk pagi ini sedikit berbeda, kali ini Jira tak sarapan sendirian. Ada keluarganya yang tumben menyempatkan sarapan pagi dirumah.
Tidak ada banyak perbincangan dimeja makan. Dan seperti biasa Jira hanya diam sembari memakan makanannya. Selalu seperti ini ketika ia bersama keluarganya. Jira merasa seperti ada atmosfer diantara ia dan keluarganya, yang membuatnya tak bisa ikut serta dalam perbincangan mereka. Bukan Jira yang tidak bisa bicara pada mereka, tapi mereka yang sepertinya tidak punya topik untuk berbicara dengan Jira.
Mereka hanya berbicara tentang homeschooling Jihan, kursus biolanya, Bahkan keadaan guru privatnya. Apakah mereka lebih tertarik tentang keadaan guru privat Jihan dibanding keadaannya? Pikir Jira.
"Jihan, kalo udah sarapan langsung diminum vitaminnya ya." Kata Yira mama Jihan dan Jira.
"Iya mah." Sahut Jihan.
"Bi, bekal Jira udah?" Tanya Jira pada bi Wati yang tengah menyiapkan bekalnya.
"Udah non, ini non saya buatin ayam goreng sama Sambal kesukaan non Jira." Sahut bi Wati sambil membawakan bekalnya kepada Jira.
Memang tadi pagi Jira yang request pada bi Wati agar dimasakan ayam goreng untuk jadi menu bekalnya. Padahal pagi ini mamanya juga memasak nasi goreng, yang merupakan menu kesukaannya.
"Wahh makasih bi pasti enak." Puji Jira, lalu menerima bekalnya dan memasukkannya ke tas.
"Jira, kamu gak mau bawa bekal nasi goreng buatan mama?" Tanya Yira.
"Nggak usah ma, ini udah dibikinin bi Wati." Kata Jira lalu pergi dari ruang makan.
Jira ingat kalo sekarang Hyunaka sudah berpacaran dengan Alia, pasti ia tidak akan bisa menjemputnya kali ini. Lalu ia berangkat dengan siapa? Apa ojol lagi?
"Shit!" Umpatnya pada pagi yang menyebalkan ini.
Terbesit ide dari otak Jira, bagaimana jika ia nebeng papanya saja? Lagi pula kantor papanya memang searah dengan sekolahnya, bahkan papanya selalu melewati sekolahnya ketika berangkat kekantor.
Dengan ragu ia kembali ke ruang makan untuk menanyakannya pada papanya.
"Pa, papa mau kekantor kan? Jira ikut nebeng donk sampai sekolah." Kata Jira pada papanya.
"Tumben biasanya kamu juga bareng temen kamu atau naik ojol?" Jawab papanya
"Ya.. temen aku lagi gak bisa jemput, akunya lagi males naik ojol. Jadi gimana boleh nebeng gak?"
"Kalo boleh nggaknya sih pasti boleh, cuman masalahnya papa nggak bisa karna mau anterin Jihan pagi ini ke pentas seni."
"Yaudah.. harusnya dari tadi kek ngomong kalo gak bisa, kan akunya bisa langsung order ojol." Kata Jira lalu pergi dari sana.
"Jira tunggu," pinta papanya agar Jira berhenti. Rasanya Jira ingin pura pura tuli saja saat ini. Namun ia tetap berhenti tanpa membalikkan tubuhnya.
"Ini ATM kamu, sekalian papa tambahin uang saku kamu buat naik ojek." Kata papanya membuat Jira melupakan egonya dan memilih mengambil apa yang diberi papanya. Baginya mengisi dompetnya lebih penting dari egonya.
"Makasih." Balas Jira lalu benar benar pergi dari sana.
Baru saja Jira berkutat dengan ponselnya untuk memesan ojol, namun tiba-tiba ada panggilan masuk dari Hyunaka yang Langsung Jira angkat.
"Apaan?!"
"Wehh santai nyai."
KAMU SEDANG MEMBACA
IYAgpp
Roman pour AdolescentsKEPOIN DULU YUK❗ JANGAN LUPA FOLLOW AUTHORNYA Y. Zero itu suka Jira, tapi Jira sayangnya sama Hyunaka. Hyunaka juga suka Jira,- bukan cuma Jira, tapi semua yang bergender cewek dan berparas cantik hyunaka menyukainya. BELUM DI REVISI MAAP KALO GAJEL...
