12💌💔

377 40 0
                                    

"Nyebelin banget sih itu cowok!" kesal Lisa membuat Minnie yang sibuk dengan tugasnya menatap kearah Lisa.

"Ada masalah?" tanya Minnie.

"Besar,bahkan ingin kucincang tubuh pria itu dan memberikannya pada harimau!" ucap Lisa dengan kesal.

"Sabar Sa,kalo sampai kamu menyukainya pasti akan menyenangkan haha..." ucap Minnie.

"Sialan." namun seorang pria membuat atensi Lisa teralihkan.

"Jangan kesal begitu,ini kantor Nona, bagaimana jika kita berkenalan,namaku Bang Chan." mendapat uluran tangan itu Lisa tersenyum.

"Ouh ini teman pria Minnie boleh juga tampangmu brother tapi sayang kau sudah berpacaran dengan temanku ini haha.." seketika suasana mencair dengan gurauan receh Lisa.

Sedangkan Jeka saat ini menggerutu ia menjadi uring-uringan karena tidak bisa mendapat informasi tentang gadis yang dipasangkan dengannya.

"Mian tuan,saya sudah semaksimal mungkin mencari datanya tapi pihak dari sana tidak mau disuap sedikitpun dan ternyata kita tidak masuk kesana karena bukan peserta." ujar Jimin.

Brakk

"Tidak becus,kau bom saja tempat itu!" ucap Jeka emosi.

"Dan anda sampai kapanpun akan diliputi rasa penasaran karena tidak akan menemukan bukti lagi." ucap Jimin.

"Arghhh!" Jeka langsung melonggarkan dasinya berfikir bagaimana cara yang akan dilakukannya kali ini.

"Kau pergi kesalah satu sumber andalanmu bisa saja dia hacker yang baik dalam mencari data tersulit." ujar Jeka mencari akal.

"Ah sepertinya sulit,karena saat itu tuan mendaftar secara offline,sedangkan hacker bisa saja melacak dengan data Online." mendengar itu Jeka sungguh buntu,ia kehabisan kata tapi itu tidak akan membuatnya menyerah tekadnya bulat mencari tau siapa gadis itu.

Hari terus berlalu dan kini pesan mereka adalah pesan terakhir yang harus mereka tulis.
"Lis,pesanmu apa dalam kesan terakhir ini?" tanya Rose.

"Tidak banyak,mungkin hanya berbicara mengenai diriku sedikit." Rose mengangguk.

Rose bingung,ia tidak mau berurusan dengan pasangannya karena dia seorang lelaki penyuka olahraga dan salah satunya basket"kau melamun??"tanya Lisa membuat kesadaran Rose kembali.

"Ah tidak,eumm Lisa boleh aku tanya?" tanya Rose sedikit gugup.

Lisa menoleh dan menyimpan penanya,ia segera menatap sahabatnya dan mengangguk,mendapat persetujuan itu Rose tak akan melewatkannya"Umm...pasanganmu bekerja apa?"tanya Rose.

"Umm...dia bilang CEO perusahaan." mendengar itu sungguh Rose syok,bahkan dirinya yang lebih berminat pada CEO karena dia juga mungkin akan mendapatkan posisi itu kelak setelah lulus.

"Ouh ya,apakah dia baik?" tanya Rose seperti antusias.

"Eumm baik,pertama kan kau tau jika dia dingin tapi ternyata dia menyenangkan jika sudah lebih mengenal." Rose mengangguk,didalam hatinya ia menjadi iri dan ingin memiliki pasangan yang seperti Lisa.

Sedangkan disisi lain seorang pria sangat bingung akan menulis apa disurat terakhirnya ia harus bisa mengambil keputusan itu.

"Kenapa dengan wajahmu?" tanya Jeka.

"Dia memintaku berhenti dari olahraga Basket dia membencinya." ujar Jaehyun dengan wajah Lesu,ia sangat suka tapi justru pasangannya bertolak belakang.

Jeka menghela nafas,ia fikir dirinya yang akan menderita dalam hal ini tapi justru sahabatnya yang mengalami itu.
"Bagaimana jika kau membujuknya saja atau mencari tau apa alasan dia membenci olahraga itu?" Jaehyun menghela nafas,apa buruknya sebuah olahraga bukankah agar kita sehat dari penyakit,tapi kenapa gadis ini justru menatap tidak suka.

"Akan aku fikirkan." ucap Jaehyun pergi kekamarnya,Jeka menghela nafas ia tidak tau harus apa.

💔

Seorang gadis tengah menatap sebuah foto usang,ia membelainya dan tersenyum entah senyum apa yang ia berikan tapi ia langsung mendekap foto itu sesekali menciumnya,terlihat ada 3 gadis dan 1 pria.

"Aku merindukanmu hiks..." tangisnya terjatuh,ia sangat merindukan semua itu perhatian seorang pria yang ia cintai tapi sakit yang ia rasakan melalui kerinduan padanya.

Air mata mengalir begitu saja,rasanya sangat sakit masih terngiang ditelinganya"Honey aku kecapean apa kamu tidak memberiku air minum?"ujar pria dengan peluh yang terkesan sexy.

"Apakah harus aku berikan air dingin,kau terlalu tampan jika tidak terengah-engah." goda gadis bersurai panjang itu.

Pria itu terkekeh dan membelai lembut rambut gadis itu dan mengecup lembut kepala gadis itu membuat semua mahasiswa iri padanya.

Sedangkan gadis berponi menghampiri mereka"jangan mengumbar kemesraan didepan publik,aku sangat iri kau selalu mendapat kebahagiaan Rose."ucap Lisa cemberut membuat Rose terkekeh.

"Makannya cari pacar,tuh temanku Yugyeom katanya menyukaimu Lis." ucap Pria itu membuat Lisa acuh dan meninggalkan mereka"katakan dia harus jadi pilot dulu baru aku terima!"ucap Lisa membuat kekasih Rose terkekeh"Maka kau juga harus jadi pramugari dulu."ucapnya.

Rose langsung menyenggol kekasihnya"jangan menggoda sahabatku,kau terlalu jahat bahkan dia mengambil jurusan akutansi,sudah sana bermain basket lagi!"pria itu mengangguk dan berpamitan.

Mengingat memory itu Rose sangat rindu ia tidak bisa menyalurkan rasa rindu itu pada siapapun kecuali pergi ketempat pria itu,ia tidak akan mempu menahannya ia segera mengambil jaket dan topinya,kebetulan hari ini mulai turun salju membuat dia harus menggunakan pakaian tebal.

Lisa kini menatap ponselnya menscroll,ia sudah kehabisan alat make up,memang dasarnya dia mencintai make up walau ia menggunakan make up natural tapi apa salahnya mengoleksi banyak,bahkan sepertinya sudah ada satu lemari kecil masih banyak make up yang belum dibuka,memang boros tapi memang kegemarannya.

"Lisa,bedak Eomma sudah habis adakah koleksi kamu yang tidak dipakai?" tanya Sandra dengan santai.

"Haishh Eomma memang suka morotin anak,pantas saja dilemariku lipstiku sering hilang,Eomma berarti pencuri itu!" tunjuk Lisa.

"Sembarangan kamu,nuduh Eomma sendiri bukankah saat tidur Eomma selalu minta izin memintanya dan kamu mengizinkan?" tanya Sandra membuat Lisa mengingat kembali.

Lisa tengah terbaring diranjang,pada dasarnya setiap hari libur ia akan tidur seperti babi,dan sulit dibangunkan.
"Lisa Eomma minta lipstik merahmu ada arisan dirumah tetangga." ucap Sandra tak digubris.

"Lisa,anak pemalas cepat jawab atau Eomma akan seret kamu kesumur angker!" ancam Sandra.

"Heumm..." gumam Lisa yang masih menutup matanya mendapat izin anaknya Sandra langsung mengambilnya dan setiap kehabisan akan seprti itu.

"Sudah ingat kau izinkan,jadi jangan menuduh Eomma sendiri kamu,memang durhaka kamu!" Lisa memutar bola mata malas.

"Jika minta pada Lisa bisa tidak saat Lisa sadar,eomma memang sangat licik." ucap Lisa kesal.

"Bukankah licik lebih menyenangkan dan praktis?" tanya Sandra sambil menyeringai.

"Terlalu banyak drama!" Lisa segera pergi mengambil bedak itu,sungguh punya Eomma sepertinya harus banyak sabar,apa kalian punya Eomma yang memiliki sifat seperti Eommaku coment saja di bawah,ingin kutenggelamkan tapi takut dosa.

Tbc.

Mail Reply Cafe{£ND}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang