Soulmate
By : Yoora KinCeklek...
Jaemin yang tadinya sedang rebahan sambil main game tiba-tiba melompat dari kasurnya menuju meja belajar dan berpura-pura belajar.
"Ck, gaya lo belajar !", cibir Karina membuat Jaemin melempar buku di tangannya ke arah sepupunya itu.
Dia pikir itu Mami atau Papi nya. Hampir saja dia jantungan karena terkejut.
"Kebiasaan banget nggak ngetok pintu", omel Jaemin yang kembali melanjutkan kegiatan rebahan di kasurnya.
"Kayak lo pernah ngetok pintu kamar gue, ck !", cibir Karina.
"Tumben nyari gue. Biasanya kalo nyari gue pasti ada maunya", sindir Jaemin.
"Nggak kok ! cuma pengen nengok yang lagi dihukum", ejek Karina.
Matanya melirik layar laptop Jaemin yang menampilkan website sebuah universitas. Sekilas dia memutar matanya jengah.
"Lo ikutan Winter ?", tanya Karina menunjuk layar laptop Jaemin yang menyalah di atas meja belajar.
"Cuma ikutan kampusnya tapi jurusan beda", jawab Jaemin m
Karina duduk di atas karpet di samping kasur Jaemin. Dia menatap sepupunya itu sampai Jaemin terganggu.
"Kalo mau ngomong yah ngomong Kar !"
"Mama mau gue kuliah ke luar negeri", kata Karina membuat Jaemin terkejut hingga terduduk menatap sepupunya.
"Jeno tahu ?", Karina menggeleng ribut membuat Jaemin menghela nafas berat. "Dan lo mau disuruh ke luar negeri ?", Karina lagi-lagi menggeleng.
"Lo tahu sendiri gimana Mama-Papa. Mana ada mereka peduli gue mau apa enggak"
Jaemin gemas lalu mencubit kedua pipi sepupunya itu. "Ya lo ngomong kek orang gagu. Lo kalo nggak mau bilang nggak, terus volumenya dinaikin", nasehat Jaemin. "
Jaemin sudah sangat hafal kelakuan Karina. Dia seakan-akan menciut setiap kali bertemu kedua orangtua nya. Bisanya mengangguk patuh mirip hiasan mobil Siwon.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.Karina gelisa menunggu di salah satu meja resto. Beberapa kali dia berlatih kalimat yang akan diucapkannya nanti di depan kedua orangtuanya. Yah, hari ini Karina meminta dinner dengan kedua orangtuanya. Sempat batal dua kali karena kesibukan kedua orangtuanya. Dan semoga kali ini tidak ada masalah lain yang akan menganggu acara keluarga itu malam ini.
Seulas senyum ceria terbit di wajah cantiknya melihat kedua orangtuanya yang memasuki resto hampir bersamaan. Mereka tampak canggung satu sama lain. Yah, mereka sudah bercerai.
"Maaf sayang ! Tadi agak macet", Yunho mencium pucuk kepala anaknya sambil tersenyum hangat.
"Mama juga minta maaf agak telat", Tiffany juga tersenyum.
"Nggak apa-apa kok ! aku belum lama nunggunya"
Tidak lama pelayan datang dan makanan dihidangkan. Mereka makan dengan tenang sesekali diselingi pembicaraan santai. Sekedar Yunho dan Tiffany menanyakan keseharian putri mereka.
"Jadi gimana ? kamu mau kuliah dimana ?", tanya Yunho. Karina menghela nafas panjang. Akhirnya tiba juga di pembahasan itu.
"Hmmm... Ma ? Pa ?", Karina mengingit bibirnya sangking gugup apalagi kedua orangtuanya menatapnya sekarang. "Aku mau kuliah disini aja. Nggak usah keluar negeri", ucap Karina to the point.
Tiffany jelas tidak suka dengan ide itu. "Kan kemaren kita udah bahas itu Karina. Kan bagus kalo kamu belajar keluar negeri", nada Tiffany mulai naik. Yunho ? dia menatap Putrinya dingin.
"Kenapa ? kamu nggak mau pisah sama anak berandal itu ? pacar kamu ?"
Karina reflek mengangkat kepalanya yang tadinya menunduk, menatap Yunho. Apa Ayahnya sedang membahas Jeno ?
"Maksud Papa apa ?"
Yunho mengeluarkan HP nya dan menyodorkannya di depan Karina. Layar HP nya jelas menampilkan foto Jeno dan dirinya saat sedang berkencan.
"Papa nggak masalah kamu mau pacaran sama siapa aja. Lagian kalian cuma pacaran. Biasalah anak muda ! tapi kalo dia sampai menghalangi masa depan kamu begini. Papa nggak bisa diam", ucap Yunho tegas.
"Karina... kami cuma mau yang terbaik buat kamu, sayang !", ucap Tiffany mendukung Yunho. Giliran memaksa Karina mereka kompak.
"Ini nggak ada hubungannya sama Jeno. Ini memang kemauan aku"
"Papa sudah cari tahu tentang keluarganya. Ternyata dia hanya anak pengusaha kecil tidak sebanding dengan keluarga kita"
Wajah Karina memanas. Dia marah. Selama ini dia selalu menahan dirinya tapi kali ini keterlaluan. Tidak percaya Ayahnya sampai merendahkan Jeno. Orang yang selalu berada di sisi nya saat kedua orangtuanya sibuk dengan kehidupan masing-masing.
"Biar Mama yang atur kamu masuk kampus mana", putus Tiffany.
"Akhiri hubungan kamu dengan anak itu. Atau Papa hentikan investasi Papa ke perusahaan orangtuanya. Itu pilihan buat kamu", ucap Yunho tegas.
"Kalian keterlaluan ! aku kecewa"
Karina berdiri dan pergi sambil menahan air matanya. Dadanya sesak. Bisa-bisanya mereka malah membawa-bawa Lee Jeno. Apa mereka tidak sadar ? mereka sedang dalam posisi tidak pantas mengatur hidupnya setelah mengabaikannya semala ini.
Karina berjalan sendirian. Mengabaikan HP nya yang terus berdering sejak tadi. Kakinya berhenti di halte bus dan duduk disana. Tatapannya kosong. Beberapa bus datang dan pergi tapi dia tidak berniat menaiki bus itu satu pun.
Malam semakin larut dan jalanan mulai sepi. Dinginnya angin malam menyapa kulitnya tapi gadis itu tidak bergeming sedikit pun.
Pikirannya dipenuhi oleh kekasihnya, Lee Jeno. Di saat seperti ini dia semakin tidak ingin melepaskan Jeno. Karina tidak ingin terus membohongi dirinya. Jeno berhasil ! berhasil merebut hatinya. Tapi kenapa ? kenapa dunia seakan tidak berpihak padanya.
Entah karena dia terlalu memikirkan kekasihnya itu hingga dia menghayal melihat Jeno ada di hadapannya. Jeno dengan ekspresi khawatirnya turun dari motornya dan langsung memeluk tubuhnya.
"Kenapa nggak jawab telepon aku, huh ? aku khawatir nyari kamu daritadi", ucap Jeno mempererat pelukannya.
"Ternyata benar Lee Jeno", ucap Karina membalas pelukan pemuda itu.
Dadanya semakin sesak. Matanya memanas. Air mata yang ditahannya sejak tadi akhirnya tercurah begitu saja. Di depan Jeno dia tidak akan bisa menahan diri.
Jeno sempat terkejut ketika Karina tiba-tiba menangis. Sedetik kemudian dia langsung mengusap lembut punggung mungil Karina menenangkan gadis itu. Dia tahu hari ini Karina bertemu kedua orangtuanya. Dia sendiri yang mengantar Karina tadi sore.
Dari keadaan Karina sekarang dia langsung bisa menebak. Sepertinya pertemuan tadi tidak berjalan lancar. Dia cukup mengenal Karina hingga tahu hubungan Karina dengan kedua orangtuanya yang cukup rumit. Dia sendiri tidak terlalu mengerti hanya sesekali mendengar cerita dari Jaemin atau keluhan Karina.
"Aku harus apa ?", lirih Karina dipelukan Jeno.
"How can I leave you ? we fall too deep. I can't hurt you anymore", batin Karina.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.tbc

KAMU SEDANG MEMBACA
Soulmate
Fanfiction(Complete) Adakah yang percaya tentang Soulmate ? Percaya manusia berpasangan memiliki satu jiwa yang terbagi dalam dua fisik berbeda. Ditakdirkan saling melengkapi. Yoora Kin 2021