15. Tentang Perasaan

197 36 222
                                    

HAPPY READING

***

Gesta memacu kendaraanya membelah jalan raya yang di penuhi oleh pengendara-pengendara lainnya. Semilir angin sore berhembus menerpa helm fullface yang ia kenakan. Sorot matanya menajam saat ia melewati sebuah tempat Les yang masih terbuka.

Dia menghentikan laju kendaraanya di depan tempat Les matematika yang ia tuju. Saat ini tujuannya tak lain dan tak bukan adalah menjemput Galen pulang dari tempat Les.

Gesta sebenarnya sedikit malas untuk menjemput anak kecil. Tapi ini berhubung Gio tidak bisa menjemputnya karena sedang merawat adiknya, yang paling bungsu, yang sedang demam. Jadilah, Gesta sebagai kawan sekaligus ketua yang baik hati, budi pekerti dan tidak sombong. Mau menjemput Galen di tempat Les matematika nya.

Gesta membuka helm full face nya lalu menggantungkannya di kaca spion motornya.

"Gue jadi kangen Bunda," gumamnya. Saat melihat beberapa anak kecil yang mulai berlarian keluar dari tempat Les menuju ke arah orang tuanya masing masing.

"Gesta gak punya Papa."

"Gege punya Papa kok!"

"Mana? Pasti Papa kamu malu punya kamu tuh, makanya kamu di tinggalin."

"Eh Gesta kan cuman anak pembantu,"

"Gesta mana punya keluarga kayak kita,"

"Anak pembantu kok bisa sih sekolah disini? Kata mommy aku ini kan sekolah orang-orang kaya. Bukan kayak Gesta, anak pembantu."

Gesta menghembuskan nafasnya kasar saat sekelebat bayangan masalalu nya terlintas di benaknya.

Masa dimana kesenangan masa kecil hanyalah sebuah kata yang merupakan ekspetasi bagi kehidupannya. Gesta kecil yang selalu mendapat perlakuan berbeda dari teman-temannya, membuat ia sedikit menutup diri dan sulit mempunyai teman. Hanya Gendis, Adreas dan Rean saja yang mau berteman dengannya masa itu.

Hingga suatu hari saat dia sedang di bully di bawah pohon mangga dekat sekolah Sd nya. Geral datang menolongnya dengan cara menghamburkan uang ratusan ribu di hadapan anak-anak lain yang membully Gesta.

"Ambil-ambil. Kalian banyak omong, masih kecil mulutnya udah gak bisa di jaga. Kata mamah, gak baik ngatain olang kayak gitu. Udah ah sana itu uang buat beli mulut kalian bial diem. Hush...hush.., Dasal anak kecil."

Gesta tertawa kecil mengingat ucapan Geral. Dulu Geral adalah pribadi yang sangat sombong dan suka pamer sana-sini. Tapi entah kemana sekarang sifat sombongnya itu hilang.

Lagi asik-asik flesbek masalalu, tiba-tiba saja sebuah teriakan nyaring terdengar ke telinga nya. Membuat ia langsung mengalihkan atensi nya ke arah lain.

"GEGE NYA ALEN!!"

Gesta tersenyum tipis. Ia turun dari motor dan dengan sigap langsung menangkap tubuh Galen yang berlari ke arahnya.

"Hey jagoan! Gimana Les nya?"

"Baik dong, Ge! Alen dapet nilai selatus di kuis matematika. Pintel kan Alen?"

"Iya pinter. Yaudah yuk pulang, Gege anterin." Ia menggendong tubuh mungil Galen lalu mendudukannya di bagian posisi depan motor.

"Wah Gege, motolnya bagus! Ada lampu kelap-kelipnya," ucap Galen antusias melihat dasboard motor Gesta yang menyala.

Selesai memakai helmnya Gesta ikut naik ke atas motornya. Dengan posisi di belakang Galen. Cowok itu menggapai stang motornya, lalu mencengkramnya dengan kuat.

GESTA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang