HAPPY READING
*****
Cklek
"Bang Gesta makan yuk."
Gesta mengalihkan pandangannya dari jendela luar kamar, ke arah Linggar yang sedang berdiri di ambang pintu kamar.
"Hm."
"Kata Yayah ada makanan kesukannya Bang Gesta di meja makan. Ayo bang kita makan!"
Gesta hanya menganggukan kepalanya mendengar ucapan Linggar. Tatapannya kembali mengalih ke luar jendela yang menampakan pemandangan gemercik gerimis air hujan di luar sana. Angin dingin berhembus masuk ke dalam sela-sela pentilasi udara. Membuat udara malam ini, terasa dingin dan menyejukan.
"Bang Gesta kenapa? Kok lesu? Lagi darah rendah, ya?" tanya Linggar seraya berjalan menghampiri Gesta yang tengah duduk di sofa dekat jendela balkon kamarnya.
"Bang Geー
"Gue iri sama lo,"
Setelah sekian menit lamanya Gesta bungkam. Dia mulai mengeluarkan suaranya yang terdengar serak dan lebih berat dari biasanya.
Linggar mengeryit heran,"Lo iri sama gue? Soal?"
"Semua nya. Lo hebat ngerebut semuanya dari gue," jawab Gesta, menatap lurus ke depan sana yang masih menampilkan rintik-rintik hujan yang semakin lama semakin deras.
"Bang Gesー
"Keluarga gue hancur, nyokap gue mati, sahabat gue mati, rumah peninggalan nyokap gue juga di jual sama bokap." gumam Gesta dengan nada yang hampir tersamarkan oleh suara air hujan yang terdengar semakin deras di luar sana.
Linggar terdiam sejenak sebelum ahirnya angkat bicara,"Bang, bukan salah gue keluarga lo hancur. Bukan salah gue nyokap lo meninggal. Dan bukan salah gue juga bang Rean meninggal. Apalagi soal rumah lo yang di jual, itukan salah lo."
"Gak ada yang nyalahin lo disini, Ling. Gue cuman lagi adu nasib sama hujan."
Linggar mengalihkan pandangannya keluar jendela kamarnya yang bertepatan dengan balkon dihadapannya,"Lo salah kalau mau iri sama gue. Hidup gue gak sesempurna yang lo bayangin."
"Menurut gue hidup lo sempurna dan berhasil buat gue iri," Gesta beranjak dari sofa nya dan berjalan menuju pintu keluar kamar,"Yang paling buat gue iri sama lo adalah kasih sayang dari Papa. Lo dapetin kasih sayang itu dari kecil sepenuhnya, sedangkan gue? I think it's just my expectation that won't come true at all." Sambungnya.
Gesta menghembuskan nafasnya secara kasar lalu pergi begitu saja meninggalkan Linggar yang masih diam menatap lurus ke arah jendela kamarnya.
Hawa dingin masuk ke dalam sela-sela pentilasi udara. Sebuah lirikan tajam dari ekor mata Linggar ditujukan untuk Gesta. Saat cowok itu sudah sepenuhnya keluar dari dalam kamar.
"Tanpa sadar lo sendiri yang bunuh sahabat lo," Linggar menghembuskan nafasnya pelan. Sebelum akhirnya ikut keluar dari kamarnya menuju meja makan yang berada di lantai bawah.
*****
"HAH?!!! SERIUS?! LO JANGAN BOONG, DIS!"
"Duarius malah! Gue mana pernah sih boong sama lo? Kalau lo gak percaya, tanya sendiri deh sama orangnya," titah Gendis dengan santainya.

KAMU SEDANG MEMBACA
GESTA [END]
Teen FictionTahap Revisi! -kamulah alasanku di ciptakan oleh tuhan. Gesta Algantara, cowok yang di kenal kejam, ganas, dan tidak segan membantai lawannya jika sudah berurusan dengan para pasukannya, yaitu geng Avilas. Sosok Gesta dimata orang lain sama saja se...