32. Tertangkap

118 17 180
                                    

HAPPY READING

***

BUGH

BUGH

BUGH

"ANJING! BANGSAT! SIALAN!"

"BAJINGAN! PENGKHIANAT!"

"MATI LO ANJING!"

"MATI!"

Adreas memukul secara brutal Restu. Cowok itu dengan nafas yang memburunya tak membiarkan sekalipun Restu untuk bernafas. Tidak ada yang berani mendekat apalagi memisahkan keduanya.

Bagi mereka Restu salah, dan wajar jika di berikan hukuman seperti itu.

Gesta menatap keduanya dengan tatapan datar. Dadanya sedikit sesak, mendengar kenyataan seperti ini.

"Kenapa kalian gak bilang dari awal kalau Restu, pelakunya?" tanya Gesta pelan.

Gio menolehkan kepalanya. Dia menghela nafasnya gusar,"Ges, gue bukannya gak mau jujur. Tapi gue pikir, Restu bakalan bilang semuanya sendiri. Karena gimana pun bukan hak kita untuk ikut campur masalah kalian,"

"Dan buat gue menderita selama ini? Gue di cap pembunuh sama semua orang! Gue kehilangan sahabat gue! Keluarga Gendis juga ngecap gue sebagai kriminalisme. Semua orang udah ngecap gue buruk, dan lo bilang, lo gak ada hak buat ikut campur? Itu sama  aja lo ngelindungin penjahat,"

Gesta menggeram kesal. Dia memejamkan matanya sejenak untuk menetralkan amarahnya. Tidak boleh! Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri. Semarah apapun dia, dia tidak akan pernah memukul sahabatnya sendiri. Walaupun itu berarti dia berperang dengan hatinya sendiri.

"MATI LO!"

BUGH

Setelah pukulan terakhir itu. Adreas selesai. Dia menyingkap rambutnya yang awut-awutan ke belakang. Tangannya masih mengepal, dengan tatapan yang menghunus tajam ke arah tubuh Restu yang benar-benar sudah tidak berdaya.

"Gue bakalan laporin lo ke pihak berwajib atas tuntutan pelecehan! Dan pembunuhan berencana!"

"Gue gak ngebunuh!" tampik Restu, memegangi perutnya yang sudah terasa benar-benar ngilu.

"Gue gak peduli anjing! Lo tahukan siapa pembunuh dibalik itu semua?!"

Restu mengangguk lemah.

"kenapa lo gak bilang?! Kenapa lo nutupin itu semua hah?! REAN UDAH BAIK MAU BANTU LO, TAPI APA BALASANNYA?! LO MALAH SENGAJA JADIIN REAN KAMBING HITAM, DAN KENA TUDUH KELUARGA CEWEK ITU!" murka Adreas. Ia menendang kembali tubuh Restu hingga, cowok itu benar-benar tepar dan tidak berani lagi menyahuti ucapan Adreas.

"Udah, udah. Anaknya udah tepar," Gesta maju untuk menghentikan Adreas yang hendak memukul kembali Restu.

Masih ada rasa kemanusian yang hadir di dalam hatinya, melihat tubuh Restu yang sudah babak belur. Pukulan Adreas memang tidak pernah main-main. Sejak dulu, cowok itu selalu jadi samsak utama para lawannya. Susah untuk menjatuhkan Adreas yang notabane nya juara taekwondo satu provinsi.

Adreas mengatur nafasnya yang memburu. Matanya yang menghunus tajam, tiba-tiba saja melemah dan berganti ke tatapan sayu.

"Rean...," lirihnya. Dia menundukan kepalanya dalam saat wajah Rean terlintas di benaknya.

GESTA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang