HAPPY READING
****
"Ayo Papah anterin,"
"Pah, Gesta udah gede bukan bocil tk lagi. Yakali di anterin sih? Udah SMA. Hari ini mau lulus loh Pah. Masa dari kemarin-kemarin Papah anter jemput Gesta terus,"
Gesta frustasi selama 2 minggu terakhir dia bersekolah ini. Papahnya benar-benar selalu mengantar jemput Gesta seperti bocah paud. Mana kalau di turunin depan gerbang lagi. Kan para sohib jahanamnya itu malah ketawa ngejek banget, sama dia.
Ya, Gesta emang mau sih sekali-sekali di anterin Papahnya, bisa akur sambil ngobrol-ngobrol di dalem mobil. Tapi, gak gini juga! Gara-gara papahnya sering anter jemput dia. Gesta jadi gak bisa full time nikmatin setiap hari, menit, detik, bahkan jam sama Gendis.
Kalau mau malmingan aja harus banget sembunyi-sembunyi biar gak ketahuan bapaknya, dan berakhir dengan kata,
"Gak boleh. Udah malem, entar kamu masuk angin,"
Gesta kan bukan bayi! Yakali tiap hari keluar malem buat tawuran, balapan, kadang ngedugem. Masih aja gak boleh sih? Gak asik nih bapaknya.
"Justru kamu mau lulus. Ayo, papah anterin. Sekalian Papah langsungー
Gak ada cara lain!
Semoga aja ini berhasil.
Gesta menatap ayahnya dengan puppy eyes andalannya. Bibirnya mempout ke depan dengan mata yang berkedip-kedip seolah memohon,"Please..., sekali aja, ya, ya, ya? Hummm...," pintanya.
"Tapi Papah mau nganterin kamu,"
"Kan Papah udah dua minggu nganter jemput Gesta sekolah. Hari ini, berhubung hari kelulusan Gesta. Gesta mau bawa motor sendiri. Mau pergi sama Gendis loh Papah,"
Richard menghela nafasnya,"Gestaー
"Nantikan Papah bisa dateng juga ke acara kelulusan Gesta. Plis, ya? Boleh ya? Iyain ya? Ayo anggukan kepala Papah!"
Richard mau tak mau akhirnya mengangguk. Dia menyerahkan kembali motor ninja milik Gesta kepada anaknya itu.
"Hati-hati. Jangan ngebut, pake helm yang bener, teruー
"Pah..., anak mu ini atlet balapan liar loh. Ngipling dijalan sambil salto aja bisa. Gak usah khawatir, Gesta pernah kecelakaan kok. Patah tulang doang kan waktu itu, dah ah,"
Gesta sebagai anak baik, sopan santun, dan anak sholeh. Sebelum berangkat, alangkah baiknya cium tangan terlebih dahulu pada bapaknya.
"Yaudah ya ASSALAMUALAIKUM!"
"Wa'alaikumsallam," gumam Richard sambil memperhatikan gerak gerik Gesta. Dari mulai mengeluarkan motornya dari garasi, hingga pergi meninggalkan kawasab rumah sambil melambai-lambai kearahnya.
Drrtt...Drtt...
Bergetar~
Ponselnya bapak Richard bergetar.
Richard mengambil ponselnya yang berada di dalam saku celana hitam bahannya. Dahinya mengeryit saat melihat nomer milik anak pertamanya yang tertera disana. Tidak biasanya Panji menelpon.

KAMU SEDANG MEMBACA
GESTA [END]
Teen FictionTahap Revisi! -kamulah alasanku di ciptakan oleh tuhan. Gesta Algantara, cowok yang di kenal kejam, ganas, dan tidak segan membantai lawannya jika sudah berurusan dengan para pasukannya, yaitu geng Avilas. Sosok Gesta dimata orang lain sama saja se...