30. Latihan With Sesil

95 16 161
                                    

HAPPY READING

****

"Kok gak bilang daritadi sih? Kalau tahu gitu, gue nebeng aja sama Moura. Mumpung dia sendiri, bawa motor,"

"Iya, maaf ya, cantik? Gue gak tahu kalau ada jadwal buat latih anak didik gue sore ini. Lo pulang duluan naek gojek atau apa kek, bisa kan?"

"Iye bisa. Yaudah sana lo urus aja anak didik lo. Btw, yang bakalan lo ajarin siapa? Cowok anak kelas mana?"

"Anu, Dis. Gue ngajarin cewek maen voli, hehe. Gapapa kan sayang?"

Gendis memutarkan bola matanya malas. Sebenarnya tidak ada salahnya jika Gesta mengajarkan cewek atau cowok untuk bermain basket. Tapi, yang jadi masalahnya itu. Mata Gesta kadang gak bisa dijaga, dia suka jelalatan kemana-mana.

Diam seperti anak polos, bergerak menguasai dunia dua puluh satu plus. Itulah Gesta dimata Gendis.

"Iya. Selesai kapan?"

"Gak tahu. Mungkin sampe habis Maghrib baru pulang. Soalnya ngejar waktu,"

"Oh yaudah, gue tutup dulu teleponnya,"

"Maaf ya, cantik. Jangan marah,"

"Gue bukan cewek yang kayak gitu, ya Sta! Udah ah,"

"Love you,"

"Too,"

"Love you nya mana Gendis?!!!"

"Iya love you, bawel." Gendis segera mematikan sambungan teleponnya sepihak tanpa mendengar ocehan Gesta yang semakin ngawur.

Gendis celingukan di halte bis. Niat dia sekarang mau pergi ke pangkalan ojek buat mesen ojek. Setidaknya ada beberapa meter lagi, untuk sampai kesana.

Dirasa jalanan sudah sepi, Gendis hendak menyebrang. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti, mendengar klakson motor dari arah lain. Di iringi dengan suara yang sangat ia kenali.

"OY! Lo ngapain masih disini? Udah jam empat, bukannya balik."

Gendis mendengus kesal. Disana, tepatnya di hadapan dirinya sekarang. Ada Adreas dengan motor ninja hitamnya. Untuk sebagian orang, Adreas itu ganteng, tapi tidak untuk Gendis. Adreas biasa aja dimatanya.

"Kepo banget sih lo!"

"Nungguin Gesta kan lo? Dia lagi ngelatih cewek maen voli. Mungkin baliknya sore."

"Udah tahu!"

Adreas terkikik pelan,"Imut banget sih. Naik, gue anterin lo pulang," titahnya

Gendis mendelikan matanya,"Siapa lo? Lagian gue mau naik ojek aja. Daripada satu motor sama lo,"

"Mulutmu itu neng. Udah naik aja, sekalian gue mau cerita sedikit sama lo,"

"Gue bilang enggak! Ya enggak! Jangan maksa ya anda!" Gendis menghentakan kakinya kesal dan hendak pergi dari sana. Namun, suara Adreas lagi dan lagi berhasil menghentikannya.

GESTA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang