26. Hari Senin

102 27 212
                                    

HAPPY READING

***

Hari senin.

Hari yang menurut Gesta membosankan dan berjalan sangat lambat. Dimana hari ini ada pelajaran matematika, sejarah dan geografi. Beruntung hari ini Gendis akan pulang. Setidaknya dia akan memiliki Vitamin A, dan C untuk menjalani hari-hari yang berat ini.

"Iya sayang, nanti aku jemput,"

Gesta mengeryitkan dahinya saat mendengar suara orang lain di depan pintu kamarnya. Cowok itu lantas keluar setelah siap dengan seragam sekolahnya.

Linggar.

Dia ada di depan pintu kamar Gesta. Berjalan santai sambil telponan, entah dengan siapa.

"Anak kelas 10 zaman sekarang udah sayang-sayangan. Zaman gue dulu, gue malah dituduh ngebunuh sampe mau masuk penjara lagi," cetus Gesta dengan nada julidnya.

"Hah? Iya bentar lagi aku otw,"

Gesta mendelikan matanya,"Otw apaan? Orang masih andukan kek gitu, dibilang otw. Anak zaman sekarang doyan banget ngebullshit."

"Iya aku tutup dulu, ya telponnya. Bye sayang, muawwahhh,"

Gesta menatap jijik Linggar yang mencium ponselnya sendiri. Jika di pikir-pikir dia sama bucinnya seperti Linggar kalau sudah bersama Gendis. Bahkan lebih alay sepertinya.

Oke dia gak terlalu ilfeel soal itu. Karena apa? Karena dia juga mengaku bucin.

Linggar membalikan badannya. Ia sedikit terkejut mendapati abangnya yang berada di ambang pintu kamarnya,"Sejak kapan abang ada disitu? Jangan di depan pintu bang. Kata nenek gue, itu penyebab kejombloan."

Gesta menggeserkan tubuhnya sedikit dari lawang pintu,"Buktinya gue gak jomblo. Lo habis ngapain tadi?"

"Telponan sama ayang. Belum pernah ngerasain yaaa?? Oh iya, kan Abang jomblo." monolog Linggar dengan santai.

Gesta mendelik,"Emang lo punya ayang? Halah palingan temen lo!"

"Punya! Mau tahu gak bang? Dulu itu gue punya pacar, namanya Linda, tapi dia mati bunuh diri," ucap Linggar dengan raut wajah horror nya.

"Iya, bunuh diri gara-gara gak kuat punya pacar modelan anak pungut kayak lo,"

Linggar tertawa kecil,"Salah. Dia itu bunuh diri gara-gara jadi korban pelecehan, terus hamiludin, tapi si cowok brengsek itu gak mau tanggung jawab, makanya dia bunuh diri. Terjun dari lantai atas rooftop rumahnya," jelasnya secara enteng. Namun, ada dua tangan yang terkepal kesal mendengar kenyataan pahit itu.

Gesta menyibakan poni nya ke belakang, menatap Linggar dengan sendu,"Kasian dong. Tega ya, yang ngelakuin itu,"

"Iya tega banget, parahnya lagi tuh cowok bukannya di penjara malah di bela sama temennya. Kan bangsat ya?"

"Iya bangsat! Terus cowok itu kemana? Gak mungkin gak masuk penjara kan?"

"Cowok itu? Mati, dibunuh. Cewek gue gak seharusnya meninggal dengan cara yang sadis kayak gitu. Dia cewek baik-baik. Tapi dunia lebih kejam, mempertemukan dia sama segerombolan cowok bejat itu." desisnya di akhir kalimat.

GESTA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang