HAPPY READING
***
Sesampainya di kantor polisi. Beberapa saksi, seperti Adreas, Gesta, Mang Asep, diamankan oleh para polisi. Orang tua Restu, Orang tua Rean, dan termasuk orang tua Linda, ikut andil dan menjadi bagian dari saksi mata tersebut.
Sedangkan Linggar? Boro-boro mau manggil orang tuanya. Emaknya aja dia gak tahu sebulan ini pergi kemana. Beneran serasa jadi anak pungut dia.
"Kamu itu buat malu aja! Kamu mikir gak sih sama yang kamu lakuin itu gimana, Restu Anjar!"
Restu membuang wajahnya ke arah lain saat mendapatkan toyoran bertubi-tubi dari sang ayah. Restu Anjar Lesmana? Itu nama Asli Restu sebelum dia menghilangkan sendiri nama Anjar dari kehidupannya. Dia terlalu muak, memiliki nama orang yang sudah menelantarkannya begitu saja.
"Kamu buat malu Papah! Kamu gak pernah bisa buat orang tua bangga! Dasar gak tahu di untung! Seharusnya kamu malu sama yang kamu lakuin sekarang. Papah gak pernah ngajarin kamu berbuat bejat kayak gitu, Restu Anjar!" bentak ayah Restu dengan nada yang meninggi.
Saat ini hanya ada orang tua Restu yang sengaja meminta waktu untuk berbicara empat mata bersama Restu.
"Bahkan Papah dari dulu gak ada waktu buat Restu. Kalau Restu brengsek, itu juga gara-gara Papah! Papah gak pernah ada buat Restu! Kemana aja kalian selama ini, hah?!" Restu menatap kedua orang tuanya dengan mata berkaca-kaca. Suaranya bergetar menahan rasa sesak di dadanya.
Di dunia ini, Restu tidak perlu barang mewah, atau apapun. Dia hanya menginginkan keluarga nya! Ayah dan Ibunya selalu berdalih, kerja untuk kebahagiaan Restu. Tapi yang Restu dapatkan hanyalah omong kosong! Dia tidak merasa bahagia dengan uang mereka yang selalu diberikan mereka setiap bulannya.
PLAK
"Jaga mulut kamu! Dimana kesopanan kamu sama orang tua, HAH?!" Anjar menampar pipi putra satu-satunya dengan keras. Sampai wajah Restu memaling ke arah lain karena tamparannya yang terlalu keras.
Pipi Restu terasa panas. Dia memegangi pipinya yang sedikit terasa perih akibat tamparan yang begitu menyakiti hati dan fisiknya,"Kalau Papah kesini cuman buat nambahin masalah Restu, mendingan Papah sama Bunda pulang! Restu gak butuh kalian! Restu udah biasa sendiri! Gak usah pura-pura kasian sama Restu,"
Ia berdiri dari tempatnya duduk lalu menghela nafasnya berat,"Maaf kalau Restu buat kalian kecewa. Restu bukan anak yang bisa kalian banggain. Kalau kalian malu punya Restu, bilang aja anak kalian udah mati. Biar kalian gak malu punya anak yang masuk penjara. Restu pantes ada disini. Semoga kalian bahagia sama keluarga baru dan anak-anak yang lebih baik daripada Restu,"
Kembali menghela nafasnya pelan Restu merentangkan kedua tangannya,"Boleh peluk bunda? Restu kangen," lirihnya.
Namun rentangan tangan Restu tidak mendapat respon apa-apa. Membuat ia hendak kembali menurunkan tangannya dengan raut wajah kecewa,"Gapapa. Kalau Bunda gak mau peluk Restu," lirihnya dengan suara pelan.
Grep
"Bunda kangen juga sama kamu. Maafin Bunda gak pernah ada waktu buat kamu, sayang. Maaf kalau Bunda gak pernah ada disaat kamu butuh,"
Riana, ibunda Restu. Memeluk anaknya dengan erat. Menumpahkan rasa rindu nya yang mendalam. Jujur, dia sangat menyayangi Restu. Namun, egonya yang membuat dia selalu berpatokan kepada suaminya. Dia terlalu sakit hati untuk kembali menginjakan kaki ke rumah itu lagi, sehingga membuat anaknya terlantar begitu saja. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaan dan keluarga baru yang dia bangun sendiri. Sehingga melupakan adanya Restu.

KAMU SEDANG MEMBACA
GESTA [END]
Novela JuvenilTahap Revisi! -kamulah alasanku di ciptakan oleh tuhan. Gesta Algantara, cowok yang di kenal kejam, ganas, dan tidak segan membantai lawannya jika sudah berurusan dengan para pasukannya, yaitu geng Avilas. Sosok Gesta dimata orang lain sama saja se...