HAPPY READING
***
Gesta menyusuri setiap koridor rumah sakit menggunakan kursi roda, yang di dorong oleh Gendis. Sedangkan sohib-sohib jahanamnya hanya mengikuti dari belakang sambil sesekali menengok satu persatu ruangan. Mencari bocil yang dimaksud oleh Gesta.
"Ges, ngapain sih kita harus nyari tuh bocil? Penting amat?" tanya Sadam. Ia menyenderkan kepalanya di pundak Gio sambil terus berjalan mengikuti langkah sahabatnya itu.
"Penting. Gue takut dia kenapa-kenapa. Masalahnya dia hampir ketabrak gue,"
"Lo cuman hampir nabrak bocil doang. Kenapa lukanya sampe parah begini dah? Kek nabrak trek aja." sahut Keenan.
"Sebenernya gue ngebut buat sampe sekolah. Eh tapi di tengah jalan gue liat ada bocil yang lagi di kejar-kejar nyokapnya yang bawa sapu. Yaudah gue ngerem dadakan sampe gue kebanting. Untung aja ada si Dehwi yang nolongin," jelasnya.
"Tapi sekarang lo gapapa kan? Ada yang sakit gak?" tanya Gendis.
Gesta mendongakan kepalanya lalu tersenyum,"Enggak. Cuman kepala gue doang yang masih agak nano-nano. Ya maklum lah kejedot pembatas jalanan. Masih untung gue gak pingsan terus amnesia juga,"
"Kalau lo amnesia gimana?"
"Kalau gue amnesia? Gue lupain lo, terus nyari cewek baru. Kasian gue, punya hati tapi gak ada isinya."
Gendis menghela nafasnya pelan. Entah perasaan dia saja atau emang sekarang Gesta jadi alay?
"Ges, ciri-ciri anak kecil yang gak sengaja mau lo tabrak itu kayak gimana?" tanya Sadam.
"Dia itu pake baju warna putih, celana gambar tayo, rambutnya ponian,"
"Lo nabrak anak cewek?"
"Enggak, dia cowok."
"Oh..., tapi Ges, kita daritadi udah mondar-mandir rumah sakit, gak ada anak kecil yang ciri-cirinya kayak gitu," gumam Gendis.
"Tapi gue yakin, Dis! Tuh anaknya juga tepar di samping gue! Soalnya dia kaget terus pingsan mleyot gitu!"
Gesta mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru rumah sakit. Ia merasa bersalah membiarkan anak itu begitu saja.
"Kak!"
Gesta mengalihkan pandangannya ke arah lain saat sebuah suara menyapa indra pendengarannya. Teman-teman Gesta yang berada di belakangnya pun ikut menghentikan langkah kakinya saat melihat seorang anak kecil berjalan ke arahnya sambil tersenyum.
"WOUY DEK! lo gak kenapa-kenapa. Gue udah tremor duluan mikirin lo. Lo gapapa kan, Cil?" tanya Gesta beruntun. Begitu bocil yang sempat tidak sengaja ia tabrak tadi menghampirinya.
"Enggak kok, Kak. Maaf, ya gara-gara Saka nyebrang gak hati-hati, kakak jadi luka-luka gini," Anak kecil yang namanya Saka itu, nunduk sambil maenin jari-jari imutnya.
Gesta menggelengkan kepalanya pelan,"Gapapa kok, lagian Kakak gak kenapa-kenapa juga. Kamu sendiri ada yang luka?"
Saka mendongak lalu menggeleng,"Enggak Kak. Tadi kata Dokter, Saka cuman kaget aja, makanya pingsan."
"Yakin gapapa? Kamu kesininya sama siapa?"
"Saka kesini sama babysister nya Saka."
Gesta menganggukan kepalanya paham,"Yakin gak ada yang luka? Muka kamu pucat gitu,"
"Enggak kok, Kak. Yaudah ya Kak, Saka pamit dulu! Sekali lagi Saka mau bilang minta maaf. Karena Saka, kakak luka-luka, dadah Kakak!" Saka berlari seraya melambaikan tangannya ke arah Gesta dan yang lainnya. Bocah berumur kira-kira 7 tahun itu tersenyum manis hingga matanya menyipit.

KAMU SEDANG MEMBACA
GESTA [END]
Teen FictionTahap Revisi! -kamulah alasanku di ciptakan oleh tuhan. Gesta Algantara, cowok yang di kenal kejam, ganas, dan tidak segan membantai lawannya jika sudah berurusan dengan para pasukannya, yaitu geng Avilas. Sosok Gesta dimata orang lain sama saja se...