Orang tua memiliki pengaruh besar terhadap anaknya.
__________________________
Waktu telah menunjukkan pukul 11 malam. Bungsu Uhm itu nampak terduduk dengan kepala yang terombang-ambing karena menahan kantuk.
"Nghh~" lenguhan pelan itu kembali membuat Lisa terjaga.
"Chaeyoung~ah... kau sudah bangun?"
Ada usapan lembut menyapu kening dan rambutnya pelan. Rosé menoleh pada Lisa yang tersenyum kecil di sisinya.
"Apa ada yang kau rasakan? Mual atau—"
"Lisa~ya... aku takut." Ujar Rosé pelan kembali memejamkan matanya.
Lisa beranjak duduk di bibir kasur dan meraih tubuh Kakaknya itu untuk didekap "Aku disini Chaeyoung~ah."
Dapat Lisa rasakan jika baju bagian punggungnya itu mengetat karena remasan tangan Rosé. Hati kecil dalam dadanya itu bergemuru melihat keadaan sang Kakak.
"Ingin ku telfon Appa?" Tanya Lisa ragu.
Semua orang tau hubungan Lisa dan Kijoon tidaklah baik, tapi gadis itu bersedia menurunkan egonya. Karena menurut Lisa sedewasa apapun seorang anak, mereka tetap membutuhkan sosok orang tua.
"Aniyo." Jawab Rosé lesuh.
"Ingin ku panggilkan Dokter Kim? Mungkin dia bisa membuat mu sedikit tenang atau memberikan mu obat—"
Rosé menggeleng pelan dalam pelukan Lisa "Cukup dirimu."
****
Jisoo termenung, tangannya bergerak memainkan pulpen itu dengan hati gelisah. "Kakak ku mengidap Hematophobia yang parah."
Jisoo mengusap wajahnya kasar saat bayang-bayang wajah pucat Rosé terus terlintas di kepalanya.
"Ck, ada apa dengan aku." Gusar Jisoo meletakkan pulpen ditangannya.
Saat sedang sibuk dengan pikirannya, sebuah usapan pelan itu terasa membelai rambut cokelat Jisoo "Putri Eomma sedang memikirkan apa?"
"Aniyo, bukan apa-apa." Bohong Jisoo tersenyum.
Jiah itu sosok Ibu yang begitu peka terhadap anak-anaknya. Kebohongan sekecil apapun dapat ia ketahui hanya dengan melihat mata putrinya.
"Jisoo tidak mau cerita pada Eomma?" Tanya Jiah duduk disisi putrinya itu.
Sulung Lee itu terdiam sejenak dengan wajah murung "Tadi... Rosé dilarikan ke rumah sakit."
Raut wajah Jiah berubah tegang seketika
"R-Rosé? Teman mu yang kemarin datang? Bagaimana bisa?"
"Adiknya bilang phobianya kambuh. Wajahnya sangat pucat saat dia ditemukan pingsan dalam toilet." Jelas Jisoo membuat jantung Jiah berdegup tak beraturan.
"Eomma, baik-baik saja?" Tanya Jisoo terkejut mendapati wajah Jiah yang berubah pucat.
"N-nde, Eomma hanya terkejut mendengarnya. Apa Rosé baik-baik saja?" Jisoo mengangkat bahunya bingung.
"Aku tidak tahu. Dia langsung dilarikan kerumah sakit oleh Adiknya. Semoga saja tidak parah, besok akan ku cari tahu."
Wanita Lee itu mengangguk kaku "Arraseo, kau harus bangun pagi untuk sekolah. Jadi tidurlah."
"Selamat malam, Eomma." Seru Jisoo saat Jiah pergi begitu saja.
"Tidak biasanya Eomma lupa mencium ku."
KAMU SEDANG MEMBACA
Fraternal
FanfictionTidak ada kata selamanya dalam dunia ini. Baik pertemuan ataupun perpisahan. Karena pada akhirnya, ada saat dimana yang bertemu akan diberpisah dan yang berpisah akan kembali dipertemukan.
