jeongwoo menyusuri koridor rumah sakit, ia berjalan cepat. tapi kemudian tertahan.
"lo mau kemana jeongwoo" tahan junkyu
"bukan urusan lo, minggir. lepasin tangan gue!!" jeongwoo
"lo jangan dengerin papa, lo tetep adik gue" junkyu
"nggak!! gue ngga mau lagi! sakit" jeongwoo
"lo ngelawan, makanya sakit. coba lo diem ngga ngelawan" junkyu
"ngga bisa! mulai sekarang gue ngga bakal ngelawan lo, gue bakal pergi. minggir!" jeongwoo berusaha melepas cekalan junkyu
"ngga bisa!!" karena terlalu keras tanpa sengaja junkyu mendorong jeongwoo hingga tubuh jeongwoo bertubrukkan dengan dinginnya tembok
jeongwoo menutup rapat mata nya, rasa nya sakit jeongwoo ingin teriak tapi suara nya tertahan di tenggorokan
"lo kenapa dorong dia bajingan!" haruto datang dan balik mendorong junkyu
"gue ngga sengaja" junkyu
jeongwoo perlahan berdiri dari sana dan berjalan pelan meninggalkan haruto dan junkyu yang masih sibuk beradu mulut
Jeongwoo bingung kemana dia harus pergi, "jeongwoo lo mau kemana?" haruto
"lepasin gue! Lo sama aja!" jeongwoo mendorong haruto menjauh
"iya, gue memang sama aja kaya mereka ngga ada hati. Maaf" haruto
"itu lo tau! Jangan deketin gue lagi. Lo mau nya sama yedam kan, ya udah! Sana!" jeongwoo
"gue ngga mau sama dia jeongwoo"
"jangan siksa gue haruto, pergi! Gue ngga mau liat muka lo!" jeongwoo meninggalkan haruto membeku di sana
•°•°•
Entah sudah sejauh apa jeongwoo berjalan tanpa tujuan yang jelas, dunia nya terasa kosong.
Jeongwoo duduk di trotoar jalan, diam menekuk lutut. Air mata nya mengalir, ia merasa tak pantas lagi untuk bisa menghirup udara dengan bebas
"mau mati" Isak jeongwoo lalu berdiri tepat di tengah jalan yang cukup sepi
"capek, sakit, udah luka! Ngapain gue masih ada di sini!" teriak jeongwoo seorang diri
"luka gue udah tertindih tindih satu sama lain, gue mau mati!" jeongwoo menutup mata nya membiarkan sinar silau itu terus mendekat
Tapi sedetik kemudian terbuka lagi karena mendengar nama nya di panggil, "jangan deketin gue lagi" jeongwoo mendorong haruto hingga kepala haruto terbentur dengan trotoar
Belum sempat jeongwoo menangkap semua apa yang terjadi barusan, tubuh jeongwoo terpental entah sejauh apa ia tak tau
Yang jelas jeongwoo merasa dingin dan sakit, berusaha bertahan untuk tetap membuka mata pun jeongwoo kesulitan
"jeongwoo kenapa?!" haruto tak jauh beda kondisi nya dengan jeongwoo
"jangan deketin gue lagi" ucapan jeongwoo terpatah patah bahkan untuk menyelesaikan kalimat itu sangat sulit
Haruto memilih membaringkan tubuhnya tepat di sebelah jeongwoo, "sembuh, gue mau sembuh"
"lo, gue ngga mau lo terluka. Mau sekecil apa pun itu" haruto berusaha menyelip kan tangannya di bawah kepala jeongwoo
"tapi dengan segala kesalahan yang udah gue lakuin itu ngebuat gue jadi sumber luka lo yang jadi nya tumpang tindih"
"maafin gue, gue ngga ada niatan nyakitin lo. Tapi cara yang tanpa sadar gue lakuin itu ngebuat lo kaya gini" haruto memeluk jeongwoo
Membiarkan darah kepala jeongwoo mengalir ke dada nya, "s-sakit haruto" Isak jeongwoo
"yang mana yang sakit?" tanya haruto
"d-disini" jeongwoo menunjuk kepala dan kaki nya bergantian
"kita tidur aja ya sayang" haruto
"sakit, ngga tertahan" keluh jeongwoo
"iya, disini memang sakit nanti kalo tidur udah ngga sakit kok. Tidur aja ya" haruto menutup mata jeongwoo dengan tangannya
Continued
512 words
Chapter ini romantis banget ya :) ❥
KAMU SEDANG MEMBACA
Luka✓
Novela Juvenil✎ -> end Haruto terus melakukan kesalahan di dalam hubungannya hanya untuk satu tujuan, jeongwoo yang sangat terluka, dan yedam yang terus mengontrol karena sebuah perbandingan Start : 23 sept 2021 End : 13 nov 2021
