❝𝐋𝐚𝐲𝐚𝐤𝐧𝐲𝐚 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐫𝐚𝐧𝐠𝐤𝐮𝐥 𝐛𝐞𝐤𝐚𝐬 𝐥𝐮𝐤𝐚❞
Pertemuan masa kecil di bawah pohon Flamboyan yang dihiasi burung kertas warna-warni dan sebuah perjanjian untuk berteman selamanya.
❝𝐇𝐚𝐫𝐢 𝐬𝐚𝐚𝐭 𝐚𝐤𝐮 𝐛𝐞𝐫𝐡𝐚�...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
~~~
"Mah Pah kakak izin ke rumah teman dulu ya" ucap anak laki-laki yang berusia 10 tahun; Gendra.
"Iya kak, maaf mamah sama papah ga bisa anterin kamu, mamah sama papah sebentar lagi mau ke kantor ada meeting mendadak" jawab Ivana sambil mengoleskan make up di wajahnya.
"Kakak nanti sama supir aja di antaranya ya" kini pria yang di sebut papah oleh Gendra membuka suaranya; itu Yohan.
"Iya pah" jawab Gendra menatap orang tuanya yang sedang sibuk akan berangkat ke kantor mereka karena ada urusan mendadak.
Tiba-tiba saja ada panggilan masuk di handphone Yohan, dia pun segera mengangkatnya.
"Papah ke sana dulu ada telpon dari kantor" ucapnya sambil berjalan pergi dari ruangan tengah.
Tak lama kemudian ada seorang gadis kecil berusia 6 tahun yang berjalan mendekati Gendra, dia menarik pelan bajunya di bagian belakangnya, membuat Gendra menoleh untuk melihat siapa yang ada di belakangnya, dan ternyata gadis kecil itu adalah adiknya; Vanilla.
"Kak gen mau pergi ya?" tanya Vanilla dengan nada pelan.
Gendra menganggukkan kepalanya, "Iya, kenapa?"
Gadis itu menundukkan kepalanya lalu dia kembali membuka suaranya, "Emm...Vani boleh ikut ga kak?" ucapnya ragu.
Gendra menoleh ke arah mamah dan papahnya yang masih sibuk dengan dunia mereka masing-masing, dia menghela nafasnya sejenak lalu kembali menatap adiknya.
"Hm... Boleh deh" jawab Gendra tersenyum tipis.
"Hah? beneran boleh? Asik!! makasih kak—" ucap Vanilla antusias namun tiba-tiba ucapannya itu di sela oleh mamahnya, Ivana.
"Boleh apa hah!?"
"Kamu di rumah aja, kalau ikut kakak kamu ke rumah temannya nanti kamu cuman bikin malu lagi" lanjut Ivana sambil berjalan ke arah anak-anaknya.
Vanilla yang mendengar perkataan dari mamahnya itu hanya bisa menundukkan kepalanya sambil memainkan kuku jarinya.
"Gimana nanti kalau di jalan Gendra ketemu sama teman-teman mamah terus mereka ngeliat kamu. Mau di taruh di mana muka mamah kalau mereka tau mamah punya anak cacat kaya kamu, Vanilla" celetuk Ivana sambil melipat kedua tangannya.
Anak cacat.
Memang benar apa yang dikatakan oleh mamahnya bahwa dirinya itu anak cacat atau lebih tepatnya cacat fisik. Vanilla terlahir tanpa kaki di bagian kirinya, dan kini kaki kirinya harus disanggah dengan kaki palsu agar Vanilla bisa beraktivitas seperti orang-orang normal lainnya.