BAB 33

503 38 19
                                        

Bada Isya sudah usai, kini keluarga besar Avelyn sedang berkumpul diruang keluarga seperti biasa saling menikmati waktu kumpul antar keluarga, berbagi cerita keseharian masing-masing.

Ditengah pembicaraan keluarga harmonis itu, bel rumah berbunyi, Marsel yang merupakan kakak tertua bangkit untuk membukakan pintunya.

" Assalamualaikum..." Ucap seseorang dari balik pintu.

Marsel membukakan pintu lantanas menjawab.

" Waalaikum- Mussalam." Jawabnya sempat terhenti karena ya dia kaget, dihadapannya kini ada pria paruh baya dan 2 anak laki-laki kembar ,  Marsel kaget, jelas!, yang ada dihadapannya ini keluarga Renal, tapi dia tidak tahu kalau Renal mempunyai kembaran.

" Halo bang, kita mau bertamu." Ucap Renal, tersenyum kikuk.

" Ya ampun, ayo silahkan, masuk- masuk." Ucap Marsel dan membuka pintu lebar lebar membiarkan 3 laki-laki itu masuk.

Setelah semua tamunya masuk Marsel menutup pintunya lagi dan membawa mereka semua menuju tempat keluarga dimana tadi ia berkumpul.

" Yah, Bu... Kita kedatangan tamu." Ucap Marsel Ayah dan ibunya Avelyn beserta Avelyn berdiri kaget.

" Eh ya ampun, silahkan duduk." Hendry-- Ayah Avelyn mempersilahkan tamunya duduk, dan menjabat tangan Devon-- Ayah Renal dan Reval, mereka para laki-laki duduk sedangkan Avelyn dan ibunya berada di dapur untuk menyiapkan jamuan.

" Maaf ya bertamu malam-malam begini, mengganggu waktu bapak dengan keluarga." Ucap Devon tidak enak hati.

" Nggak apa-apa pak, kami juga sedang bersantai saja kok." Balas Hendery--ayah Alfena--, mereka berdua kembali berbincang-bincang.

Sedangkan di dapur, Avelyn dan ibunya-- Kiran--, sedang menyiapkan jamuan untuk tamunya.

" Dek, itu Renal kan? Dia punya kembaran toh?." Tanya ibunya Avelyn sembari mengaduk teh manis.

" I-iya Bu." Balas Avelyn terbata, jelas dia masih kaget ternyata ucapan Renal benar adanya.

"Oalah, baru tau ibu, tumben banget ya Renal main bawa keluarganya kaya mau lamaran aj-, eh astaghfirullah Dek!, Jangan-jangan bener ini Renal mau lamar kamu." Tebak ibunya Avelyn dengan mulut yang ia tutup dengan tangannya.

Avelyn membeku, dan hanya bisa tersenyum kikuk, malu-malu dia, ya memang Avelyn tidak bicara soal kedatangan Renal.

" Aduh-aduh anak ibu..., Udah yuk bawa ini kedepan ga enak sama tamu." Ibunya Avelyn membawa nampan berisi teh sedangkan Avelyn membawa nampan berisi camilan.

" Silakan pak, dek ...." Ucap ibunya Avelyn saat menata minuman diatas Meja dan menata camilan yang tadi di bawa Avelyn.

" Terimakasih, maaf ya aduh.." ucap Devon dengan senyum kikuknya.

" Nggak apa apa pak, dinikmati Monggo..."

" Jadi gini Bu pak sebelumnya perkenalkan saya Devon, ayahnya Renal dan Reval, kedatangan saya dan kedua anak saya bermaksud menyampaikan keinginannya putra saya yaitu Renaldo Safrial, bermaksud ingin meminang Anak bapak Hendery dan ibu Kiran, yaitu Mauren Avelyn." Ucap Devon, muka Renal sudah pucat pasi ya karena dia degdegan.

Hendery, dan Marsel, mendelik kaget dan langsung sepontan menatap anak bontotnya itu Avelyn, sedangkan Kiran Ibunya Avelyn tersenyum bangga karena tebakannya benar.

" Renal mau ngelamar anak bapak ?, Aduh bapak sih setuju aja, tapi kita tanyakan saja sama putri bapak ya ? Nak gimana? Kamu mau menerima Renal?." Tanya Hendery pada Avelyn yang tertunduk malu, semua mata sekarang tertuju padanya, jujur Avelyn juga degdegan sekarang.

Avelyn mengangkat pandangannya dan melihat Ayah dan ibunya, dari sorot matanya mereka tampak setuju dan ia melihat raut muka Marsel kakaknya pun sepertinya setuju walaupun mungkin dihatinya tidak merelakan adik perempuannya akan diminta oleh Renal.

" Bismillahirrahmanirrahim, insyaallah Avelyn mau menerima pinangan mas Renal yah." Jawab Avelyn dengan satu tarikan nafas.

Renal bersorak gembira didalam hati, ingat dia masih harus menjaga image didepan mertua dan kakak iparnya, jadi dia hanya tersenyum lebar dan berucap Alhamdulillah.

" Alhamdulillah." Ucap Devon, dan menepuk pundak anaknya itu.

" Bagaimana ini nak Marsel kan mau dilangkah sama adiknya, nak Marsel nggak apa-apa?." Tanya Devon pada Marsel yang duduk menyimak sembari memakan kue kering.

" Eh, insyaallah nggak apa-apa pak, Marsel ikhlas rela ridho." Ucap Marsel dengan sepenuh hati, dan melirik adiknya dengan tatapan hangat.

" Alhamdulillah, terimakasih ya nak, ngomong-ngomong pak, untuk acara nikahannya kita bahas lagi besok ya. Kebetulan juga saya mau pamit, mau ada ketemu klien nanti jam 9"

" Iya pak, nanti kita bahas semuanya, terimakasih pak. Mah ini di bungkusan jajannya biar dibawa pulang sama pak Devon." Hendery menyuruh Kiran dan Kiran mengangguk mengambil beraneka ragam makanan didapur dan dimasukannya dalam papaer bag.

" Aduh pak nggak usah repot-repot." Ucap Devon tidak enak hati.

" Nggak apa apa pak, dibawa aja ini masih banyak kok disini." Kiran menyodorkan paperbagnya dan diterima oleh Reval.

" Makasih ya Tante,om, rejeki jangan ditolak pah." Ucap Reval yang membuat Devon membelalakkan mata, anaknya yang satu ini memang nggak ada malunya, yang membuat Devon tersenyum kikuk, Reval menyalami Hendery , Marsel, dan Kiran, dan menyapa Avelyn lantas pergi ke depan lebih dulu.

" Ya ampun Reval, maaf ya pak buk kelakuan anak saya emang kaya gitu, tapi insyaallah Renal nggak, yaudah kita pamit ya pak, makasih, maaf jadi merepotkan begini." Pamit Devon lagi, dan bersalaman sama halnya dengan Renal , mereka keluar di antar oleh seluruh anggota keluarga Avelyn.

Stevan sedang berada diatas balkon rumahnya memperhatikan pekarangan rumah Avelyn, dia merasa heran kenapa ada mobil yang tidak ia kenal disana, tatapanya makin menajam tatkala ia melihat seseorang yang dia kenal, ya benar Reval, lantas ia segera bergegas turun dan menghampiri Rumah Avelyn dengan berlari, sampailah Stevan di depan gerbang rumah Avelyn, tepakan sandalnya membuat atensi Reval teralih, senyum miring terpancar dibibir Reval, dia lantas mendekat ke arah Stevan berdiri didepan gerbang rumah Avelyn.

" Ngapain Lo disini?." Tanya Stevan tidak ramah, dengan alis menukik.

" Mau ngapel, kenapa? Iri lo?." Reval memanas-manasi Stevan yang mukanya sekarang seperti kepiting rebus.

" Ck, Cepet deh Lo pulang, ngapain Lo malem malem kesini, di usir Marsel tau rasa Lo." Reval terkekeh geli melihat Stevan kepanasan.

" Buktinya nggak tuh, nih gua malah dibawain bingkisan." Reval mengangkat paper bag dan menggoyangkan paper bag itu di depan Stevan.

" Ck shit!, Pulang gak Lo!, Pulang sana!."

" Lah ngape bos? Emang ini rumah Lo? Ngape sewot Lo? Wkwk oh iya gua mau bilang nih, tapi Lo jangan kepanasan ya ?, Btw Abang gua tadi abis ngelamar Avelyn, wkwk tunggu undangannya ya, bye gua mau pulang, kasian banget si Lo. Hahaha--- Ayah....! Tungguin Reval" Reval berucap dengan nada meledek, dia senang sekali bisa manas-manasin yang katanya pentolan sekolah. dan berbalik memanggil Ayahnya yang sudah keluar bersama Renal dan keluarga Avelyn yang mengantarkan.

Sedangkan Stevan menatap dari luar pagar,dengan perasaan campur aduk, hatinya sakit jelas, bagaikan disambar petir, tubuhnya membeku memandang kedepan tak terasa bulir bening jatuh dari matanya. Ya, dia kalah!. Dia memutar balikan arah menuju rumahnya, sudah tidak ada harapan lagi untuknya.

bully [END] on REVISITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang