"NGGAK RENAL!." Avelyn tergangun dari tidurnya dengan keringat yang sudah bercucuran di dahinya.
" Hah?! Astaghfirullah haladzim apa ini? Aku mimpi Renal meninggal?. Ya Allah, hp aku mana yah...m" Avelyn mencari ponselnya dan mencari nomor Renal.
Tut...
Panggilan terhubung.
" Assalamualaikum kenapa ren, malem-malem tel-" belum juga di seberang sana menyelesaikan ucapannya, Avelyn langsung menyela
" Waalaikumussalam, Renal ini Renal kan? Iya kan ? Aku nggak mimpikan?." Tanya Avelyn dengan suara bergetar menahan tangis yang siap tumpah.
" Iya Ren ini aku, kenapa si? Kok kamu kaya mau nangis ? Kenapa hey?." Tanya Renal dari seberang sana khawatir. Avelyn yang sudah tidak sanggup menahan air matanya keluar begitu saja berikut dengan isakan kecil. Perasaannya lega mengetahui bahwa kejadian itu adalah mimpi bukan nyata.
"Hey... Kok nangis sih? Kenapa sayang hm?." Ucap Renal makin panik begitu mendengar suara tangis Avelyn dari seberang telfon.
" Aku kesana ya, jangan nangis." Mendengar Renal akan menghampirinya takut mimpi itu akan jadi nyata Avelyn langsung buka suara tidak mengizinkan Renal untuk keluar.
" Jangan. Kamu jangan kesini, jangan pokoknya jangan, kamu dirumah aja hiks, aku baik-baik aja Renal, udah kamu dirumah aja ya." Ucap Avelyn khawatir, dia tidak mau Renal kenapa-kenapa, jujur dia sangat takut mimpinya akan menjadi nyata, semoga itu hahya bunga tidur.
" Kenapa? Yaudah nggak , aku di rumah aja, tapi kamu jangan nangis ya, aku khawatir, bilang sama aku kenapa ? Stevan ganggu kamu lagi?." Tanya Renal khawatir, mereka berdua saling menghawatirkan satu sama lain.
" Nggak ih bukan itu, aku nggak apa apa, udah kamu tidur lagi aja, jangan keluar-keluar pokoknya ya." Ucap Avelyn sedikit merengek memaksa Renal untuk tidak meninggalkan rumahnya.
" Iya sayang. Yaudah kamu jangan nangis ya aku temenin, udah bobo lagi masih larut. Besok kita bakal melalui hari yang panjang loh, udah tidur lagi aku temenin." Ucap Renal membuat Avelyn sedikit lega.
" Tapi kamu jangan keluar-keluar loh." Avelyn menyakinkan lagi.
" Iyaaa.. aku nggak kemana mana cantik, lagian mau kemana sih malem malem gini. Tidur lagi ya ssttt..... " Renal menyakinkan Avelyn dari seberang sana Avelyn menurut dan membaringkan tubuhnya lagi, benar besok ia akan melalui hari yang panjang.
***
Esoknya Avelyn bangun pagi-pagi buta jam 3 pagi melaksanakan sholat malam dan melanjutkan dengan murotal Al-Qur'an dan setelah selesai dirinya kembali mengantuk akhirnya ia tertidur dan terbangun lagi mendengar suara Azan subuh dan akhirnya ia bangun , semua keluarganya pun sudah bangun seperti biasa menjalankan sholat subuh secara berjamaah selepas selesai sholat subuh mereka langsung pergi ke gedung pernikahan untuk dirias.
Keluarga Renal ternyata sudah sampai lebih dulu di gedung , menyambut kedatangan Avelyn beserta keluarga, akhirnya Avelyn dan Renal mulai di rias oleh MUA.
Menjelang jam 7 prosesi pernikahan segera dimulai. MC mulai membacakan acara yang akan dimulai semua kerabat sudah berkumpul, acara demi acara terlewat dan kini mereka menuju ke bagian akad, acara paling sakral yang di tunggu kedua mempelai.
Avelyn menunggu di samping pelaminan, dan mendengarkan Renal mengucap akad dihadapan ayahnya dan para saksi
Tangan Renal sudah terjabat dengan tangan Hendry. Ucapan sakral itu mulai terucap dan di jawab oleh Renal dengan satu kali tarikan nafas tidak mengulang, semua saksi berteriak SAH!.
" Alhamdulillah..."
" Silahkan mempelai wanita memasuki pelaminan untuk penyematan cincin dan penandatanganan buku nikah." Ucap MC, Avelyn masuk dengan di dampingi Marsel kalanya, dia seperti Putri kerajaan cantik sekali dengan mengenakan gaun putih menjuntai Renal tersenyum melihatnya.
Avelyn duduk bersanding dengan Renal, ritual tukar cincin pun terjadi, Avelyn mencium tangan Renal bersamaan Renal yang mencium kening Avelyn dan mereka menandatangani buku nikahnya.
Tanpa sadar ada satu tamu yang rupanya tidak ikut berbahagia akan terjadinya pernikahan ini, ia memalingkan muka tidak ingin melihat prosesi tadi, siapa lagi kalau bukan Stevan, ya memang dia di undang di sini.
Disaat resepsi tiba, dimana tamu menyalami pengantin, Stevan datang dan menyalami Avelyn lebih dulu dengan tatapan yang sulit di artikan.
" Selamat ya atas pernikahannya." Ucap Stevan begitu ia berada di hadapan Avelyn dan dibalas anggukan serta senyum manis oleh Avelyn.
" Makasih ya Van, silahkan di nikmati hidangannya." Balas Avelyn.
" Haha iya santai aja, makasih juga." Balas Stevan tertawa sumbang, bergeserlah ia, menjabat tangan Renal dan menariknya lebih dekat dibisikkannya sesuatu.
"Jaga baik-baik Avelyn, sampe lu ketauan sama gua buat dia nangis, ga segan segan gua rebut dia dari elo, camkan itu." Bisik Stevan penuh penekanan disetiap nadanya, Renal yang mendengarnya pun tersenyum miring dan menarik Stevan agar lebih dekat lagi.
" Ga usah khawatir, dan ya, emang Mauren mau sama Lo? Haha kalah saing mah kalah aja kali." Balas Renal tak mau kalah
" Makasih ya bro, dah tuh nikmatin hidangan sepuasnya mumpung gratis." Ucap Renal melepas jabatan tangan mereka yang bertaut.
Wajah mereka saling menukar tatapan benci, seandainya ini bukan di acara pernikahan mungkin mereka udah sparing.
Akhirnya Stevan pun turun dengan perasaan kesal terhadap Renal. Mungkin kata orang titik mencintai orang paling dalam adalah mengikhlaskan dan semua itu bohong, Stevan tidak rela Avelyn dimiliki orang selain dirinya, hatinya sakit melihat dia tertawa dengan selain dirinya, dia cemburu. Dia benci itu!.
TAMAT
Tamat beneran no boong boong kleb wkwk
Maap ya kalo tamatnya gantung kurang nge dell, maybe nanti ada extra part hehe...
Sampai jumpa lagi....
Makasih loh yang udah setia baca cerita ini
Love you all😭🤗❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
bully [END] on REVISI
AcakEntah lah seberapa kuat lagi aku bersekolah, aku bersekolah hanya untuk cari ilmu, aku tidak mengganggu kalian kenapa kalian mengganggu ku, apa salah ku ____/mauren avelyn/___ Kenapa gue suka banget gangguin tuh bocah, haha rasanya sehari ngga ngru...
![bully [END] on REVISI](https://img.wattpad.com/cover/156722282-64-k17664.jpg)