BAB 34

497 28 32
                                        

Tinggal 1 hari saja pernikahan Avelyn dan Renal akan terlaksana, mereka sudah melakukan fitting baju pengantin dan sudah menyewa segala macam persiapan untuk pernikahan mereka.

Avelyn kini tengah diberi wajengan Ayah dan ibunya, memberi bekal dalam membina bahtera rumah tangga.

" Adek nanti kalian sebelum 40 hari itu jangan marahan ya, ya gimana pun sifat asli kalian akan kebuka semua dan kalian nggak bakal hidup bersama cuman 1 atau dua hari tapi sampai maut memisahkan, gimana kalo belum 40 hari aja udah marahan apa bisa bertahan sampai lama? maka dari itu kalian jangan marahan ya." Ucap Kiran sembari menatap Avelyn tulus.

" Iya Bu." Jawab Avelyn tersenyum lucu.

" Jangan lepas komunikasi ya dek, karena komunikasi juga itu kunci bertahannya suatu hubungan, dan yang terpenting saling percaya oke?." Ucap Hendery ayah Avelyn dan lagi lagi Avelyn mengangguk.

" Aduh gimana dong dek masa Kaka nanti sendirian sih di rumah, gak ada temen mainnya dong." Marsel merajuk seperti anak kecil dihadapan mereka ber tiga

" Ih Abang kaya anak kecil aja deh, ya kalo kangen sama Adek main lah kerumah Adek sama Renal dong." Ucap ibunda Kiran gemas pada anak tertuanya itu yang saat ini sedang merajuk tidak ingat umur.

" Ah males ada Renalnya. Maunya adek aja." Kiran dan Hendery dibuat tertawa oleh ucapan Marsel barusan, sedangkan Avelyn tersenyum dan menghampiri kakaknya.

" Kak, Avelyn itu sayang banget sama kakak, kakak nggak usah khawatir kalo adek bakal lupa kalau aku ini punya kakak, Avelyn bakal inget terus loh bakal kangen juga, jadi kak Marsel nanti sering sering main ya, soalnya Avelyn juga bakal kangen terus sama kakak." Ucap Avelyn dan memeluk kakaknya itu, Marsel membalas pelukan Avelyn dan tersenyum.

" Yaudah pokoknya nanti kakak main terus loh, kalo Renal bikin adek nangis bilang sama kakak, biar kakak hajar jadi bubur." Ucap Marsel yang membuat Avelyn tertawa dan menganggukinya.

Sedangkan Dilain sisi, Stevan tengah berada di tongkrongannya bersama anggota gengnya, raut mukanya sedari tadi terlihat muram dan disadari oleh salah satu rekannya yaitu Rico.

" Kenapa dah Lo van? Sepet amat tu muka kaya mau ditinggal nikah aja Lo." Ucap Rico barusan mendapat lirikan maut dari Stevan, Rico tidak takut hanya karena lirikan Stevan malah dia tertawa terbahak-bahak.

" Aelah bener nih Lo ditinggal nikah. Kasian amat bos." Nasib-nasib memang ya kayaknya Stevan ini jadi bahan ledekan orang-orang, mungkin ini juga bayaran dulu sewaktu dia membully Avelyn.

" Ck, diem Lo!, sok tau, dasar bocah prik!. Minggir." Stevan akhirnya menjauh dari samping Rico, memang anak itu sangatlah jail dan nomor satu soal meledek. Rico tertawa melihat Stevan kesal.

Hari sudah mulai malam, rupanya dua insan yang akan segera bersatu itu tengah bertukar kabar melalui saluran telepon.

" Kenapa belum tidur hm?." Tanya Renal dari seberang sana

" Belum ngantuk, kamu juga kenapa belum tidur kan udah malem banget." Jawab Avelyn yang tengah berbaring di kasurnya dengan selimut yang sudah seleher.

" Nanti, kalo kamu udah tidur, sekarang kamu tidur dulu, udah malem loh nanti sakit, tidur ya cantik. Nanti kalo udah nikah sama aku kamu nggak boleh tidur terlalu malem pokoknya. Udah bobok ya.." Renal menyeru dengan halus, dia khawatir Avelyn akan sakit nantinya.

" Hm iya iya...." Balas Avelyn

" Selamat tidur calon ibu dari anak anaknya Renal... Hehe."

" Ih kamu apaan sih, udah ah mau tidur, assalamualaikum..." Ucap Avelyn yang pipinya bersemu merah merona menahan malu. Sedangkan Renal hanya tertawa di seberang telfon, sembari menjawab

"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh... Jangan lupa baca doa ya... Good nite!." Balas Renal

"Hm.. nite."

Tut.... Panggilan terputus

Avelyn dan Renal dilarang untuk bertemu dahulu karena dalam adat mereka itu pamali* , mereka juga tidak di perbolehkan keluar jauh jauh, takut terjadi apa-apa.

Renal mengendarai motornya ntah kemana dengan kecepatan penuh, sepertinya ia buru-buru sekali, tengah malam begini memang jalanan lengang jadi dia bisa menambah kecepatan tanpa harus takut ada motor atau mobil.

Namun disaat bersamaan saat Renal akan berjalan lurus di sebuah perempatan namun di sebelah kiri jalan juga ada truk yang akan melintas lurus , berhubung jalan sepi kedua kendaraan itu sama sama melaju dengan kecepatan kencang, dan saat mencapai di satu titik temu, motor dan tubuh Renal tertabrak truk tersebut, yang membuat tubuh Renal terpental sangat jauh dikarenakan dorongan truk yang begitu melaju cepat dan juga dirinya , sedangkan motornya tergilas ban truk tersebut.

Renal jatuh dengan kepala bagian belakangnya terbentur trotoar sangat keras , membuat darah mengalir sangat deras, membanjiri jalan, tempat dimana Renal terpental disitu ada pos ronda kebetulan ada babak bapak komplek yang sedang berjaga, melihat itu bapak bapak komplek langsung bergegas menghampiri dan menelepon badan yang berwajib, serta menelepon ambulans.

ambulan datang lama sekali dikarenakan jarak jalan disitu dengan rumah sakit lumayan jauh dan setelah tiba petugas langsung menggotong tubuh Renal keatas brankar dan membawanya kedalam mobil untuk segera ditangani. Sedangkan polisi menelisik TKP dan menelepon keluarga Renal.

Namun sayang, di tengah perjalanan menuju rumah sakit, jantung Renal sudah tidak berdetak lagi, membuat dokter yang ada di ambulans panik dan memasang alat AED untuk memacu detak jantung Renal agar kembali seperti semula namun nihil hasilnya sama saja, Renal pergi.







TAMAT























AED* (automated external defibrillator) adalah sebuah alat medis yang dapat menganalisis irama jantung secara otomatis dan memberikan kejutan listrik untuk mengembalikan irama jantung jika dibutuhkan. Alat ini berfungsi untuk menolong orang yang mengalami henti jantung.

Nggak TAMAT bercanda doang
Masih bersambung kok hehe
Gimana nih Renalnya pergi.

bully [END] on REVISITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang