03. Lo Mau Gak Jadi Pacar Gue?

1.1K 105 123
                                        

Semua murid sudah berbaris rapi, sedangkan aku masih sibuk mencari topi di dalam ranselku. Hari ini hari Senin saatnya upacara bendera, entah apa yang harus kulakukan saat ini, topi yang kucari masih belum ditemukan juga, apakah aku lupa membawanya?

Setelah sibuk merogoh tas, topi itu ternyata tergeletak di lantai, huh, aku terlalu ceroboh. Segera aku membawa topi itu, lalu berlari keluar dan bergabung di barisan kelasku.

"Nash, lama amat, sih. Untung belum mulai," omel Firly sesampainya aku di sampingnya.

"Ah, gue sibuk cari topi, eh ternyata ada di kolong meja," balasku.

"Lo, sih pagi-pagi udah tidur di kelas."

"Iya, gue ngantuk banget, semalem gue gak bisa tidur soalnya beda kamarnya."

"Eh, Lo jadi pindahan?" tanya Firly.

"Iya, jadi kemarin udah beres-beres, tapi Fir ... Gue kurang suka sama rumahnya?" bisikku.

"Lah, kenapa? Bukannya rumahnya bagus, yah."

"Iya, emang bagus, tapi kayak hawanya, tuh beda banget. Semalem juga gue gak bisa tidur karena ngedenger suara jeritan cowok yang kesakitan."

Firly menganga. "Masa, sih, jangan bohong Lo. Rumah di daerah mana?"

"Di komplek perumahan kenanga," timpalku.

"Wah, seriusan itu satu komplek, dong sama si Ratih dan gak jauh dari sana ada rumah gue."

Aku menganga tak percaya, kenapa aku tidak tahu. Aku tidak pernah bertanya secara detail tentang Ratih. "Wah, masa sih?"

"Iya, dan konon katanya di komplek itu--"

"Ish, berisik tahu gak!" tegur Ratih yang berada di depanku, aku tidak sadar ternyata sedari tadi Ratih mendengarkan obrolan kami.

"Ini lagi upacara, jangan berisik," bisiknya penuh penekanan.

Aku dan Firly terdiam, jujur saja aku cukup takut dengan Ratih. Dia pendiam dan cuek, dia selalu bawa serius disetiap keadaan.

Tiba-tiba seseorang berbaris di sampingku, aku menoleh ternyata laki-laki yang bernama Gandum itu. Aku mulai kesal, sekarang setiap kedatangan dia akan membuatku berang dan merasa ingin memukul wajah menyebalkannya itu dan lagi, kenapa dia berbaris di situ? Padahal itu adalah barisan untuk murid perempuan di tambah lagi dia masih memakai jaket abu-abunya.

"Ngapain Lo di sini? Sana ke barisan kelas Lo," bisikku pada Gandum.

"Gak, gue mau-nya di sini," ucapnya tanpa menoleh padaku.

"Gak boleh di sini, ini tempat cewek!" tekanku.

Dia malah diam dan terus menatap ke depan, ingin kumemukulnya. Namun, tanganku hanya bisa dilayangkan tanpa menyentuhnya, pasalnya ada siswa lain yang melihatku dan dia menujukku. Bila sampai aku memukul orang ini, bisa-bisa aku dilaporkan, lalu dihukum dan dipisahkan barisannya, aku tidak mau itu terjadi. Aku juga heran kenapa anggota OSIS yang berjaga di belakangku tidak menyadari keberadaan laki-laki berjaket abu-abu ini.

***

Setelah selesai upacara, aku sudah tidak melihat sosok laki-laki pengintip itu. Mungkin dia bergabung dengan teman sekelasnya.

"Ratih!" teriakku kala melihat Ratih duduk dan mengibas-ngibas topi ke lehernya.

"Apa?" tanya ketus.

Aku mendekat dan duduk di bangkunya yang bersebelahan dengan Ratih. "Lo tinggal di kompleks kenanga, 'kan?"

"Iya," jawab Ratih singkat.

Hantu GalauCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang