18. Tempat Rahasia

504 65 39
                                        

"Mantra? Mantra apaan?" tanya Gandum

"Rahasia!"

Gandum berdecih. "Cuma sebutin Matra doang, pelit amat."

Aku tidak peduli ucapannya karena jika aku membocorkannya ke hantu itu tidak akan menjadi rahasia lagi, mantra ini adalah ajaran dari guruku sewaktu di MTs. Tak kusangka ini ternyata berfungsi dengan baik, guruku mengatakan sebelum kita membuka pakaian harus membaca 'bismillahi ladzi laa illaaha illaa huwa' atau mengucap basmalah saja, agar aurat tidak terlihat oleh jin.

"Terus Lo mau apa sama gue?" tanyaku agar dia tidak memikirkan soal mantra lagi.

"Gue mau minta bantuan lo."

"Oke, gue bantu Lo kalau gampang. Kalau susah gue skip!" timpalku.

"Ini gampang kok! Sama kayak hantu cewek cantik waktu itu."

Aku mengernyit. "Kok, Lo tahu? Lo ngintip gue, yah!" tuduhku.

"Ya, tahulah! Lo kerasukan, gue ada di sana."

"Kok, gue gak liat Lo."

"Ya, iyalah Lo 'kan pingsan."

Aku mengembuskan napas, jadi selama ini Gandum memperhatikan secara diam-diam. Aku punya pengawal ternyata, tanpa sadar aku tersenyum kikuk.

"Woy!" Gandum menjentikkan jarinya di depan wajahku.

Aku tersentak, menatap sengit Gandum. "Ih, apaan, sih?"

"Senyam-senyum bae Lo, gue sambet Lo!"

"Emang Lo berani masuk ke tubuh gue?"

"Gak, tubuh Lo gak pas buat hantu ganteng kayak gue." Sombongnya sembari menurun naikkan alis.

"Oh, lo ngatain gue jelek gitu?!" bentakku.

"Gak! Maksud gue bukan itu, aduh!" Dia menggaruk kepalanya. "Maksud gue, bentuk tubuh Lo itu ... Yang gak pas buat gue, ngerti gak?"

Aku memiringkan kepala ke sebelah kiri, kemudian  mengangguk paham. Tak perlu aku menanyakan lagi, kalau soal itu otakku langsung encer.

"Oke, lanjut! Lo mau minta bantuan apa?" tanyaku lagi.

"Gini ... Gue mau minta tolong cariin nyokap gue."

Aku terbelalak, apa katanya? Dia tak salah menyuruhku mencari ibunya yang bahkan belum kenal nama dan rupanya. Ini sangat gila.

"Gila, yah. Dari sekian juta orang Indonesia, gue harus cari nyokap Lo?" Aku menggeleng. "Gak, gue gak bisa!"

Gandum berdecak, sepertinya dia kecewa. "Nash, pliss ... Gue pingin liat nyokap gue, gue pingin mastiin kalau dia baik-baik aja."

"Lo, 'kan hantu. Bisa carilah kemana Lo suka!"

"Gak semudah itu, tanpa petunjuk juga gue gak bakal bisa ketemu sama nyokap gue, karena itu gue butuh bantuan orang lain."

"Gue, juga butuh petunjuk. Petunjuk apa yang mau Lo kasih ke gue?"

Gandum berjalan ke meja belajar, lalu menunjuk buku harian miliknya. "Ini, juga petunjuk."

Aku mengembuskan napas, dia sangat merepotkan bahkan tidak ada upah sebagai uang muka karena membantunya. Aku jadi berpikir untuk menjadi pemburu hantu saja.

"Kalau ada Lo kenapa gak Lo aja yang kasih tahu, gue males baca tau gak!" timpalku.

"Ya, udah terserah!"

Aku diam masih menatap Gandum, jujur saja aku masih tidak percaya kalau dia hantu. Dia terlihat seperti manusia biasa, aku ingat dia nampak babak belur saat malam pada jam-jam tertentu, dia pernah ada di halaman yang sekarang menjadi taman janda bolong kakak Nashrul.

Hantu GalauCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang