06. Si Hantu Penolong

694 83 80
                                        

"Itu, keliatannya 'kan, belum tentu apa yang dilihat sama kayak kenyataannya, kadang mata juga bisa tertipu."---Ratih--- Hantu Galau.


________

"Eheh, cepetan masuk ... Ada guru baru! Ganteng lagi, ditambah dia itu duda, loh." Salah satu teman kelasku berseru, dia sangat antusias dengan kedatangan guru baru yang akan pertama kali mengajar di sini dan jadwalnya masuk ke kelasku.

Hmm, aku jadi penasaran seganteng apa, sih guru itu? Pasalnya aku belum pernah melihatnya.

"Eh, kalau gitu Rafiq tukeran dulu, yah bangkunya. Biar gue bisa liat guru ganteng itu sepuasnya!" seru Firly ikut-ikutan.

"Eh, Lo enak liat cogan, nanti malah gue yang dihukum gara-gara duduk di belakang!" balas laki-laki bernama Rafiq.

"Ih, pliss ... Dong hari ini aja," Rayu Firly.

Ah, sungguh aku sangat kesal dengan kejadian ini, saganteng apa guru itu? Hingga temanku saja berebut bangku. Hah, sudahlah terserah mereka saja aku tidak mau ikut-ikutan.

"Eh, cepet siap-siap dia mau jalan ke sini!"

Sontak semua murid duduk di bangku masing-masing, mereka duduk dengan rapi dan terlihat sok disiplin, aduh aku sedikit muak dengan wanita di kelas ini.

Terdengar suara langkah kaki yang teratur, tak lama seorang pria dewasa sudah di ambang pintu. "Assalamu'alaikum ..." ucapnya dengan nada lembut.

Oh, tidak ternyata seganteng itu? Itu bahkan kelebihan ganteng, pantas saja cewek-cewek di sini sangat antusias menyambut kedatangan guru baru itu. Namun, aku langsung tersadar ketika melihat seorang perempuan di belakangnya, yang membuatku tercengang adalah perempuan itu bukan manusia.

Aku merasakan aura hitam di tubuh perempuan itu, aku tahu karena dia terlihat berbeda jika di samakan dengan manusia. Wajahnya putih pucat, rambut acak-acakan juga memakai pakaian SMA, dan berada di belakang guru baru itu.

"Selamat pagi anak-anak," sapanya dengan senyuman yang ramah.

"Pagi, Pak!" seru semua murid.

"Hari ini adalah hari pertama saya mengajar di sini, sebelumnya perkenalkan nama saya Hardi, kalian bisa sebut saja pak Hardi."

Aku berusaha untuk menatap Pak Hardi, jangan sampai aku menatap hantu wanita di belakangnya, aku tidak mau berurusan lagi dengan hantu, aku tidak mau digoda lagi oleh sosok yang seperti itu.

Hantu perempuan itu terus mengikuti Pak Hardi kemana pun dia melangkah, aku pun salah fokus ketika mendengarkan penjelasan Pak Hardi. Aku kesal, kenapa guru tampan itu harus membawa dedemit ke sini?

Hingga pandanganku bertabrakan dengan hantu itu, dia menatapku tanpa ekspresi. Aku menelan salivaku susah payah dan kembali fokus pada papan tulis pura-pura tidak melihat.

Hingga hampir dua jam hantu itu terus mengikuti Pak Hardi, apakah dia tidak BT terus mengikuti manusia? Kenapa dia tidak main hp saja dari pada harus mengikuti orang mengajar.

"Oh, tunggu bapak ngangkat telepon dulu," izin Pak Hardi, lalu keluar dari kelas.

Saat melihat ke depan aku terkejut, hantu itu tidak mengikuti Pak Hardi, dia malah berdiri di pojok dan menatapku datar. Tidak! Apakah dia tahu kalau aku bisa melihat?

Aku memalingkan pandanganku, lalu menunduk sembari menggerakkan pensil di tanganku. Jantungku berdetak kencang, aku takut, takut hantu itu tahu bahwa aku bisa melihatnya.

Aku mencoba untuk melihat ke depan dengan ragu. Aku mengembuskan napas, akhirnya hantu itu sudah tidak ada, aku tak perlu lagi khawatir, kemudian aku kembali menulis lagi dengan perasaan was-was takut hantu itu ada lagi.

Hantu GalauCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang