"Tada! Selamat datang di rumah baru gue!" seruku memperkenalkan rumah baruku.
"Wish, gila bagus juga rumahnya. Ternyata Lo orang kaya, Nash," puji Firly.
Lain dengan Firly, Ratih malah menatap berbeda kepada rumahku, dia tidak berucap sepatah kata pun bahkan sekedar memuji seperti Firly.
"Ayo, masuk." Aku mempersilakan mereka untuk masuk. Firly mengekor di belakangku. Namun aku masih heran, kepada Ratih? kenapa dia diam saja sembari melihat ke halaman sebelah.
"Heh, Ratih. Ayo masuk!" Paksaku memeluk tangannya.
Ratih pun menurut dan ikut masuk ke rumah.
***
Kami mengerjakan pekerjaan rumah di kamarku, bukan kami lebih tepatnya Ratih yang banyak mengerjakan tugas kelompoknya. Ah, jujur saja ini tidak benar, seakan-akan aku memanfaatkan kepintaran Ratih.
"Kalian itu gimana, sih. Cepet cari artikel tentang nilai dan norma," ketus Ratih.
"Iya, ini lagi nyari," jawab Firly sembari mengutak ngatik ponsel. Padahal dia sedang mencari efek IG yang bagus.
"Iya Fir, cepet cari, nanti kalau gak nemu Lo mau presentasi apa?" belaku.
Firly memasang wajah memelas sambil memegang perut buncitnya. "Gue gak bakalan konsen kalau perut gue terus dangdutan."
Dia menatapku dengan senyuman lebaynya. "Nash, kasih perut gue makan?" Firly Menaik turunkan alis.
Alah, rasanya aku ingin menghantam wajahnya dengan bantal, tetapi tidak mungkin aku membiarkan dia kelaparan. Dia juga tamu, tentu tamu harus dilayani. Aku pun menyanggupi dan beranjak untuk membawa makanan agar perut Firly tidak berdisko lagi.
Saat aku Melawati lemari, hawanya terasa berbeda. Sesuatu yang membuatku tahu bahwa ada sesuatu di dalam sana. Aku penasaran dan mencoba untuk membuka pintu lemari pakaianku.
"Nash, cepet dong kasian, nih si Ratih," protes Firly.
Sontak aku langsung berkacak pinggang dan melupakan tujuanku sebelumnya. "Si Ratih atau perut Lo!" timpalku.
Firly terkekeh. Memasang wajah tak berdosanya, kemudian aku pergi ke dapur dengan sedikit kesal. Oh, iya aku belum pernah mengatakan bahwa aku bisa melihat hantu, ya ... Aku bisa melihat makhluk tak kasat mata, kemampuanku ini menurun dari nenekku. Entah mengapa kelebihan itu bisa diturunkan padaku. Walaupun kelebihan, tetapi aku kurang suka dengan hal ini.
Kenapa? Karena aku penakut, walau begitu aku juga sedikit berani karena terbiasa juga. Aku paling tidak suka ketika hantu itu tiba-tiba menampakkan diri di depanku.
Seperti saat aku masih SMP, aku tengah tidur setelah menyelesaikan PR-ku, aku tidur dengan posisi ternyaman, hingga aku merasakan geli di telapak kakiku, lantas aku menutup telapak kakiku dengan selimut, tetapi masih saja kakiku ada yang menggelitiki.
Aku berang dan langsung aku menendang dia yang menggelitik dengan sekuat tenaga, tak lama terdengar suara benturan tembok. Mungkin hantu itu berciuman dengan dinding kamarku.
"Mampus Lo! Hantu jelek, tambah jelek mukanya benjol!" Ejekku pada sosok berwajah hitam legam. "Makanya jangan pernah, ganggu harimau yang tidur!" Kemudian aku menyingkap selimut sampai menutupi wajah.
"Kamu bukan harimau, tapi monyet," pekik si hantu sambil menghilang ketika aku akan melemparinya dengan bantal.
"Ih, dasar hantu!"
Ah, mengingat kejadian itu membuat aku jengkel. Bisa-bisanya sesama jelek meledek jelek. Aku harap tidak bertemu lagi dengan hantu seperti itu, sekali-sekalilah dengan hantu goodlooking dan goodrekening juga.
Setelah beberapa menit, akuu kembali lagi ke kamar dan menyuguhkan makanan kepada Ratih dan juga perut Firly.
"Nash, asli gue pasti betah di sini," ucap kagum Firly.
Aku mendengus. "Buat Lo betah, buat gue enggak!"
"Kenapa?" tanya Firly.
Aku menghela napas. "Gue, ada rasa takut di sini, gue kurang nyaman, hawanya tuh beda banget, kalau pun bisa gue pengen tukeran kamar sama Abang gue, tapi dia malah gak mau."
"Ih, janganlah, Nash ini tuh nyaman banget buat gue," ungkap Firly.
"Kenapa Lo bisa beli rumah ini?" tanya Ratih untuk pertama kalinya dia bertanya padaku.
"Ya, mana gue tahu 'kan papa gue yang beli," jawabku.
"Lo udah tahu seluk beluk rumah ini?" tanya Ratih.
"Tahu, rumah ini di jual sama orang kaya gitu aja."
Ratih terlihat menatapku aneh, kenapa dia? Sepertinya dia tahu sesuatu, pasalnya dia orang daerah sini.
"Lo tahu sesuatu Ratih?" tanyaku memastikan.
Dia terlihat menegang, lalu menatap Firly yang sama penasarannya denganku.
"I-iya, gue tahu ini rumah yang jualnya orang kaya, rumah ini milik seorang salah satu pengusaha sukses," jawab Ratih.
"Terus kalau dia orang kaya, kenapa jual rumahnya, padahal ini masih bagus, kalau mau rumah ini dibesarin lagi," timpal Firly.
Aku mengangguk menyetujui pendapatnya. "Bener juga."
"Ya, mungkin mereka mau pindah dan bangun rumah lagi, 'kan namanya orang kaya pasti bebas," sergah Ratih.
Aku mengangguk, setuju juga dengan pendapat Ratih. "Sultan mah bebas!" seru Firly.
"Ish, cepet kita kerjain ni tugas," titah Ratih.
"Eh, Ratih kasian tugasnya nanti nangis, kalau kita kerjain," aku terbahak diakhir kalimatku.
Ratih melempar pulpennya kepadaku. "Serius."
***
Aku merebahkan tubuhku di kasur, Firly dan Ratih rajin juga mereka mengerjakan kerja kelompok ini sampai hampir adzan Maghrib. Semoga saja kepintaran Ratih menular padaku.
Aku bangun dan menatapku dari pantulan cermin, tak sengaja netraku menangkap sesuatu di bawah meja rias, sesuatu seperti kain atau pakaian.
Aku menghampiri meja rias dan membawa seongok kain itu. Ternyata benar ini pakaian, aku mengibas pakaian itu yang penuh debu, aku langsung bersin ketika debu itu mengepul. Selidik-selidik ternyata itu sebuah jaket berwarna abu-abu.
Terlihat ada bercak-bercak noda yang kering di jaket itu, aku penasaran. aku mencium noda itu, ternyata hanya bau debu saja. Ini jaket siapa? Aku mencoba memakai jaket itu dan berlenggak-lenggok di cermin.
"Bagus banget jaketnya, tapi gue gak suka, ini buat cowok." Aku melepas jaket itu dan melemparnya ke sudut kamar.
"Ah, mau tidur aja, deh." Aku menyibak selimut dan menutup mataku.
Trek ... Trek ... Trek ...
Terdengar skelar lampu yang dimainkan, dan lampu juga hidup mati hidup mati. Argh, makhluk apa lagi sekarang yang menggangguku.
"Heh! Plis jangan ganggu lagi!" teriakku sekuat yangku bisa, aku sudah muak dengan ini.
Terdengar suara pintu terbuka. "Nash, Lo peramal? gue belum ngerjain Lo juga," ucap kakaku Nashrul.
Aku tidak menyangka jika ada kakakku, dan dugaanku benar bahwa yang menggguku tadi adalah hantu, tapi sampai saat ini dia tidak menampakkan diri, ke mana dia? Apakah dia hantu ganteng ataukah hantu cantik.
"Heh, bocah kalau Maghrib itu, sholat terus ngaji, jangan tidur." Dia berkacak pinggang melihatku.
Ah, sekarang dia terlihat seperti emak-emak legend. Lain kali aku akan memberinya daster agar semakin komplit kemiripannya.
"Cepet, jadi cewek jangan males." Dia menarik tanganku hingga aku terbangun.
Dengan malasnya aku pun bangun dan melaksanakan perintah kakakku yang ganteng melebihi pria tertampan di dunia.
TBC
06/02/23<3
KAMU SEDANG MEMBACA
Hantu Galau
Genç Kurgu[End] [Complete] #1 teenfintion 21/05/22 #3 teentlit 14/06/22 #1 Dareen 22/06/22 #1 keluarga 07/06/23 #1 ngakak 07/06/23 #1 arwah 07/06/23 #3 tertawa 08/06/23 #3 remaja 08/06/23 Nashita kesulitan menjalankan aktifitas di sekolahnya gara-gara dia bis...
