Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Memasuki rumah dengan langkah sempoyongan, Jihoon hampir terjungkal jika saja tidak berpegangan erat pada sofa ruang tamu yang sedang tidak diisi oleh siapapun, mengingat jam yang kini menunjukkan pukul setengah dua belas malam.
"Serahin Waiji buat gua dan lo bakal tau Gadis dimana, juga.... lo ga perlu ngurus si Winter itu, gua yang urus dia dan keluarganya"
Ucapan Ben beberapa saat lalu kembali melintasi pikirannya, menatap lekat pada bingkai besar foto keluarganya yang terpajang di dinding ruang tamu, membuat Jihoon menahan airmatanya sendiri ketika melihat senyuman manis mendiang ibunya itu.
"Bu, Jihoon harus gimana? Jihoon sayang sama dia bu..." lirih pria itu seraya mencengkram erat pinggiran sofa.
"Jihoon ga mungkin nikahin Winter, Gadis lagi ngandung anak Jihoon"
"Ji..." panggil suara Rose yang baru saja menuruni tangga dan kini menghampiri adiknya itu.
"lo mabok?" tanya Rose saat sudah mendekat dan mencium aroma alkohol yang begitu menyengat dari pakaian sang adik.
Berdecak sebal, Jihoon memilih melangkah meninggalkan Rose yang segera mencengkram erat pergelangan tangannya.
"Lepas kak, lo berhasil... berhasil bikin hidup gua kacau" ucap Jihoon begitu penuh penekanan.
"Lo sendiri yang bikin hidup lo kacau ji... gua minta lo pelajarin waiji, tapi apa???? lo malah terjerumus sama cinta cintaan, dan sekarang lo malah nyalahin gua??!!" geram Rose yang segera menyentak genggamannya saat Jihoon kini berbalik dan menatapnya tajam.
"hati ga ada yang bisa ngatur, kalo gua jatuh cinta sama dia, kenapa emangnya? salah?" balas Jihoon begitu sengit.
"Salah.... waktu lo ga tepat untuk cinta cintaan disaat Waiji lagi keadaan diujung tanduk, lo pikir buat apa lo dipercepat gantiin Ayah?"
Jihoon mendadak bisu, yang dikatakan Rose ada benarnya, niat awalnya memang membantu Ayah serta kakaknya yang mengatakan perusahaan sedang tidak stabil karena berita Ayahnya yang saat itu sakit dan harus mendapat perawatan intensif karena penyakit paru paru serta gula darahnya.
"Lo taukan tujuan utama kita itu nyingkirin Ben dan Ayahnya tanpa sepengatahuan Ayah, lo sendiri tau gimana saham ayahnya Ben udah semakin meningkat saat itu, lo rela liat Waiji pindah ketangan Ben"
"ROSE!!!!" Bentakan sang Ayah mengejutkan keduanya, mereka berdua menoleh kearah sumber suara dan menemukan Ayahnya yang baru saja keluar kamar dengan pakaian tidurnya, kini berjalan mendekat dengan tatapan murkanya.
"Maksud kamu apa dengan Ben dan Ayahnya?" geram Park Junsu yang membuat Rose segera menelan ludahnya kasar dan mengalihkan tatapannya.
"yah... Ben dan Ayahnya itu mau nyingkirin kita, mereka..."