Sebenarnya gue kepingin banget kabur dari acara Assembly. Ini kenapa Bapak'e minta gue buat merekam si Bunga bangkai main piano? Cuma gara-gara dia enggak bisa datang. Katanya takut mengecewakan dia lah, bla bla bla, pret!
Waktu gue bilang, "kenapa enggak minta tolong temennya Bunga?"
"Kan kamu anaknya Ayah. Sama siapa lagi Ayah minta tolong?"
"Perasaan sama anaknya sendiri enggak gitu-gitu amat," sindir gue.
"Masalahnya kamu enggak pernah mau tampil di depan umum, Ray."
Kena sekakmat deh gue. Lagian gue mau tampil apa? Nyanyi? Lebih baik kalian tutup telinga kalau mau selamat dunia dan akhirat. Main musik? Main suling sama pianika aja banyak yang salah. Tadinya gue berharap bisa tampil wushu taolu di acara-acara sekolah. Ya, sayang aja gue enggak pernah kepilih.
Gue berniat setelah merekam si Bunga bangkai, gue bakal kabur ke sarang favorit gue. Bodo amat, videonya nge-blur. Bapak'e paling ngomel. Tinggal gue silent aja. Terus gue kirim pesan ke Bunga bangkai.
Gue udah rekamin lo sesuai request Ayah. Sorry, HP gue eror. Jadi suruh aja temen lo.
Baru saja gue mau bersiul sambil berjalan menuju gedung satu, si kutu kupret menghalangi jalan gue.
"Kenapa lagi sih?" seru gue.
"Gue mau ngobrol sama lo," ujar Kinan. "Inget, lo masih punya utang nurutin kemauan gue."
"Oke, oke. Tapi jangan di sini. Ikut gue."
Akhirnya gue mengajak Kinan ke lorong depan Music Room. Terus seperti biasa gue langsung duduk di atas lantai dan bersandar di dinding. Music Room letaknya memang di paling ujung koridor. Makanya enggak bakalan ada yang keganggu dengan adanya gue di sini.
Gue melihat Kinan mengeluarkan buku catatan kecil dari waist bag yang suka dibawa-bawa sama dia. Terus dia membuka-buka tiap lembaran halamannya.
"Apaan tuh?" tanya gue.
"Hasil riset gue tentang Jerman," jawabnya.
"Kalau lo bisa riset sendiri, kenapa harus ngejar-ngejar gue?"
Lalu Kinan melirik gue dengan sebal. "Lo bisa enggak, enggak usah menggarisbawahi kebodohan gue?"
Kemudian dia mengembuskan napas. "Sebenernya sih gue lebih kepingin nyari temen diskusi buat studi di luar negeri."
"Kenapa enggak sama Cutbray?" tanya gue.
"Dia mau kuliah di Indo aja. Makanya dia enggak ngambil ujian A level."
"Kan banyak temen-temen kelas lo yang mau kuliah di luar negeri."
"Emang banyak. Tapi pada ikut GTC. Gue gagal ikut GTC gratis, karena gue dieliminasi enggak bisa ikut olimpiade. Lo pasti tahu kan kalau gue kalah di tingkat Kabupaten pas tahun lalu?"
Gue menggeleng.
"Ah, gue lupa kalau lo enggak peduli dengan apa pun. Jadi, gue didepak gitu aja tahun ini, karena gue gagal tahun lalu. Ya, karena Pak David dari tahun kemaren kepingin ngajuin anaknya, Davina. Terus habis itu seolah temen-temen di kelas pada ngucilin gue. Ada faktor gara-gara Davina juga sih. Gue emang enggak pernah akur dan sering berantem sama dia," jelas Kinan.
"Terus lo ngedeketin gue, karena lo pikir gue enggak bakal nge-judge lo?"
"That's right! Lo tahu sendiri kan murid-murid di sekolah ini yang mau sekolah di luar negeri pada bikin circle. Dan rata-rata tuh anak-anak yang pinter. Terus kalau ada murid yang biasa aja bilang mau kuliah di luar negeri, seolah enggak berhak gitu. Kayak mereka nge-judge kalau murid itu enggak bakal keterima. Lah, siapa dia coba? Admission kampus?" Kinan bercerita dengan menggebu-gebu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lazy Boy
Teen FictionKinan merutuki nasibnya gara-gara didepak oleh sekolah dari perwakilan olimpiade sains. Ini semua akibat kesalahan yang dilakukannya di tahun lalu. Ah, Kinan jadi gagal mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri! Padahal kalau dia berhasil membawa p...
