Hatiku rasanya remuk kala mendengar ucapan Pak David yang meminta kami semua untuk melupakan kasus Ibra dan Bunga. Seandainya yang terkena kasus tersebut bukan anaknya pejabat, apakah Pak David akan bersikap sama? Namun jika orang yang menyebarkannya mempunyai jabatan yang lebih tinggi dari Om Rashid, Pak David mau apa?
Sepertinya hal tersebut enggak akan terjadi. Usai perkumpulan di auditorium, Cello membagikan undangan makan di salah satu restauran mahal saat weekend nanti. Ini sih Ibra berusaha menyogok semuanya.
Anak-anak yang haus popularitas, pasti akan menyambutnya dengan sukacita. Mereka menutup mata atas kejadian foto itu, dan menganggap kesalahan yang dilakukan Ibra hanya sebatas kenakalan remaja yang biasa. Sedangkan bagi yang enggak suka dengan mereka, memilih untuk tak acuh.
Aku merasa mual melihat Ibra dan Cello yang sedang membagikan undangan di area rooftop. Makanya aku mengambil kotak makan di meja prasmanan dan berniat untuk makan di area kolam renang sendirian.
Rasanya makanan sulit tertelan oleh tenggorokan. Aku melahap nasi beserta ayam goreng sambil berlinang air mata.
Oh iya, aku lupa menyebutkan sesuatu. Setelah mengambil kotak makan tadi, aku berjalan menuju tangga dengan tergesa-gesa. Namun saat melewati dining room, aku enggak sengaja melewati Ibra.
Dia menghampiriku seraya menyodorkan sebuah amplop yang berisi undangan. Oh, bukan itu saja, mulutnya mendekati telinga kiriku. "Lo pasti menyesal udah mutusin gue. By the way, good job buat foto skandalnya. Tapi seperti yang lo lihat, gue enggak kesentuh. Kali ini gue ngebiarin lo lepas, dan minta Papi buat enggak mengusut siapa yang nyebarin foto itu."
Aku mengambil amplop tersebut dan merobeknya di depan mata Ibra.
***
Untuk menghilangkan kesedihan, aku mulai sibuk belajar untuk persiapan UN dan rentetan ujian lainnya yang semakin dekat. Makanya sesampainya di kelas, aku berniat untuk belajar soal-soal latihan.
Namun aku enggak menemukan pulpen di tempat pensilku. Aku baru ingat bahwa sebelumnya dipinjam oleh Dayana. Dengan sangat terpaksa, aku pergi ke kelasnya.
Langkahku sempat terhenti ketika ingin masuk ke kelas XII IPS-1. Ray duduk di posisi yang sama ketika di kelas XI, yaitu tepat di belakang Dayana dan masih sebangku dengan Gamal.
Aku hanya bisa mematung kala Ray menatapku. Dia menatapku seolah aku ini orang asing yang menumpang untuk lewat. Lalu terngiang-ngiang kata-kata Om Brian.
"Dia itu suka marah-marah sama ngejek kamu buat nutupin rasa sukanya."
Ah, mana mungkin Ray masih menyukaiku. Apalagi setelah aku menusuknya dari belakang. Tadinya aku berniat untuk menganggap Ray enggak ada. Eh, sewaktu aku mengambil pulpen dari Dayana, si Gamal malah menyapaku. "Hai, beautiful! Kok udah lama enggak main ke sini? Lagi marahan ya sama si kampret samping gue? Dia itu cuma cemburu lo punya pacar, beautiful."
Kemudian terdengar erangan dari mulut Gamal. Aku yakin bahwa Ray menginjak kakinya dari kolong meja.
"Oh iya, Ki. Nanti mau makan siang di mana? Biar gue anterin kotak makannya. Kita makan bareng," ujar Dayana.
"Di kolam renang aja, Day. Thank's ya. Gue ke kelas dulu."
Semenjak aku menceritakan Dayana perihal kejadian Ibra yang membisikkanku saat di dining room, dia berjanji akan mengambilkan kotak makan. Dayana enggak akan membiarkanku bertemu dengan Ibra lagi.
Namun ketika istirahat, Dayana telat. Padahal aku sudah lapar. Untung saja dia datang sebelum bel masuk berbunyi.
"Sorry, gue tadi habis balikin buku ke library. Nih, cepetan makan." Dayana menyodorkan kotak makanku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lazy Boy
Fiksi RemajaKinan merutuki nasibnya gara-gara didepak oleh sekolah dari perwakilan olimpiade sains. Ini semua akibat kesalahan yang dilakukannya di tahun lalu. Ah, Kinan jadi gagal mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri! Padahal kalau dia berhasil membawa p...
