22. Ray

77 21 15
                                        

Lagi-lagi gue berkelakuan di luar kendali. Saat gue sama Kinan beradu argumen di depan perpustakaan, anaknya Pak David datang. Pasti dia mau berulah. Tepatnya sama Kinan, bukan gue. Mana pernah gue berurusan sama dia?

Entah keinginan dari mana, gue langsung maju ke depan Kinan. Jadi Davina berhadapan dengan gue. Soalnya terakhir gue melihat mereka berdua bertemu, Kinan berakhir dengan basah kuyup.

"Gara-gara lo, gue jadi enggak lolos olimpiade! Lo emang sengaja kan berdoa biar gue gagal?!" Suara Davina yang memekik bikin kuping gue lumayan budeg.

"Ngapain gue buang-buang waktu ngedoain lo? Kalau gue berdoa juga enggak bakal ngaruh kali. Tuhan kita aja beda," sahut Kinan.

Spontan gue menyemburkan tawa. Namun terhenti melihat pelototan Nyi Pelet di depan gue.

"You!" Davina menunjuk gue. "Her boyfriend? Relax, enggak bakal ada adegan guyur-guyuran. It won't happen again. But, I believe in karma. One day it will get to you, Kinanthi." Davina melenggang pergi dengan rambut cokelatnya yang berkibar-kibar diterpa angin. Halah, sinetron banget sih tuh cewek!

"Thank's," ucap Kinan saat gue berbalik ke belakang.

"Gue males aja minjemin jaket ke elo kalau disiram lagi," sahut gue.

Kinan terkekeh. Melihat dia tertawa, gue jadi lega.

"Berarti udah enggak marah sama gue, kan?" tanya gue yang membuntuti Kinan berjalan menuju gazebo.

"Masih marah lah." Kinan mencebikkan bibir mungilnya. Ih, kenapa gue fokus ke situ? Dasar biadap! Otak mesum! Sampah masyarakat! Makhluk hina!

Gue mengalihkan pandangan ke arah tanaman hidroponik kangkung yang tumbuh dekat gazebo. Ternyata udah ada Cutbray di sana dan dia berteriak sambil melambaikan tangan. Kayaknya mereka berdua sudah berdamai.

"Terus lo mau apa imbalannya?" tanya gue.

"Traktir gue," sahut Kinan.

"Wah, gue juga mau ikut lah kalau denger traktiran!" sambut Cutbray.

"Traktir dia juga. Kita satu paket," tunjuk Kinan ke arah Cutbray.

"Kalian meras gue ya?" sindir gue.

Kinan hanya mengedikkan bahunya. Kemudian Gamal datang sambil membawa sekotak pizza. Dia berjalan melenggang begitu saja dan menaruh pizza di tengah gazebo.

"Lo ngapain, man, berdiri aja? Sini, mau pizza, enggak?" panggilnya.

"Sejak kapan lo bergabung sama mereka?" Gue akhirnya duduk di samping Gamal.

"Bukannya kita udah bikin klub makan siang bareng bertiga? Ada anggota tambahannya juga sekarang," tunjuk Gamal ke arah Dayana.

"Kotak makan gue ketinggalan di kelas," timpal gue sambil mengambil satu potong pizza.

"Dimakan nanti juga bisa, man. Hari gini masih bawa bekel."

Sebenarnya gue senang sih kumpul bareng mereka. Ternyata punya teman itu menyenangkan. Gue pikir bakal ribet. Mungkin karena mereka beda dari yang lain.

Di tengah-tengah kita bercengkrama, gue melihat siluet tubuh yang familiar menghampiri. Ah, si cowok Korea.

"Ki, can we talk for sec?" panggilnya.

Kinan beranjak dari duduknya sambil membersihkan remah-remah pizza pada roknya.

"Her boyfriend?" tanya Gamal kepada Cutbray ketika Kinan pergi.

"Not yet. Paling bentar lagi," jawab Cutbray.

Kenapa hati gue perih gini? Sudah begitu, Gamal menabur garam di atasnya lagi.

Lazy BoyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang