31. Kinan

80 23 14
                                        

Pikiran liar untuk membalaskan dendam kepada Ibra sudah muncul berkali-kali. Tepatnya ketika aku sering dihantui mimpi buruk. Kejadian di ruang tengah mengulang terus menerus bagaikan kaset kusut di memori otakku.

Kalau Mama dan Papa tahu, aku takut Papa menyalahkan Mama. Mereka akan bertengkar. Lalu hubungan Mama akan renggang dengan Tante Astri. Apalagi aku takut kalau keluarganya Ibra mengungkit-ungkit semua jasa yang pernah mereka lakukan. Kemungkinan buruknya, mereka tahu tapi menganggap enteng soal pelecehan ini.

Tiba-tiba aku teringat akan foto yang pernah enggak sengaja kulihat dari ponsel Ray. Bagaimana jika foto itu kusebar ke seluruh penghuni kelas XII dan Miss. Deli? Ah, pasti Bunga akan terseret. Ayahnya sudah baik sekali kepadaku. Namun bukankah Ray juga benci kepada Bunga?

Kesempatan mencuri foto itu tiba ketika aku enggak sengaja bertemu dengan Ray di depan perpustakaan. Aku bukan bermaksud membuat drama dengan nangis sesenggukan di dalam perpustakaan hingga kami diusir. Cuma dadaku terasa sesak. Apalagi usai percakapan dengan Davina tadi.

Hingga ketika Ray membawaku ke area kolam renang. Lalu ponselnya terjatuh saat dia pergi ke koperasi untuk membelikanku tisu. Aku hafal bentuk pattern pada ponsel Ray. Dia orangnya ceroboh, makanya aku sering melirik saat dia membuka password-nya.

Kemudian aku buru-buru mengirim foto tersebut ke ponselku lewat chat. Setelah memastikannya terkirim, aku menghapusnya pada ponsel Ray.

Awalnya aku ragu saat Ray membantuku untuk les kembali dengan Om Brian sepulang sekolah. Cuma mimpi burukku kembali parah. Sedangkan orang yang melecehkanku malah tertawa riang bersama cewek lain.

Akhirnya aku memutuskan untuk membeli kartu khusus paket internet yang enggak perlu daftar memakai KTP. Lalu aku mengambil ponsel milik Kak Mira yang lama. Usai mengirim ke semua sasaran, aku membuang kartu tersebut. Ponsel milik Kak Mira aku buang dengan pura-pura meninggalkannya di salah satu warung yang agak jauh dari rumah.

Misi balas dendam telah usai. Aku tahu bahwa perbuatanku akan berakibat fatal. Apalagi Ray bisa membenciku. Dia sudah banyak membantuku, tapi aku malah menusuknya dari belakang.

***

Aku sudah menduga Ray akan bereaksi seperti ini. Dia menarik tanganku menuju area kolam renang. Enggak ada murid yang sedang ekskul renang. Jadi kalau Ray berteriak ke wajahku, enggak bakal jadi tontonan.

"Lo kan yang nyebarin foto itu?!" teriaknya. Oh, Ray semakin ekstrem dengan menarik kerah seragamku ke atas.

Reaksiku hanya menarik sudut bibirku ke atas. Lantas aku harus bersikap apa? Menangis di hadapannya kayak waktu itu terus mengaku kalau aku mau balas dendam, karena Ibra telah melecehkanku? Apa Ray bisa dipercaya? Aku takut dia malah menyalahkanku. "Salah sendiri pacaran. Udah tahu dosa. Itu akibatnya." Takut. Aku takut kata-kata itu keluar dari mulutnya.

"Lo punya mulut, kan? Jawab!" Usai memekikkan kata-kata tersebut, Ray pergi dari hadapanku.

Masalah satu belum usai. Sesampaiku di rumah, Dayana menghadangku di depan pagar. Hari ini sudah dua orang yang menyeretku. Jelas saja. Setelah foto itu tersebar, Bunga dan Ibra dipanggil ke ruangan konselor.

Dulu pernah ada anak kelas IX mengunggah foto berciuman di Instagram. Lalu salah satu wali murid mengadukan hal tersebut ke pihak sekolah. Lantas dia menyalahkan sekolah, karena enggak bisa mendidik anak-anak dengan baik. Makanya Miss. Deli segera melakukan sidang besar besok. Baik orangtua Ibra dan Bunga mendapatkan surat panggilan.

"Lo enggak ada hubungannya sama foto yang lagi viral itu, kan?" Dayana menginterogasiku usai mengunci rapat pintu kamarnya.

"Jangan bilang Ray yang nyebarin? Gara-gara dia mau balesin si Ibra yang udah mutusin lo," tukasnya.

Lazy BoyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang