19. Kinan

73 23 13
                                        

Aku merasa seperti mati suri. Seharian tidur dan enggak bangun-bangun. Apalagi sedang datang bulan. Kemarin sepulang les dari Om Brian, aku sudah merasa agak meriang. Malam-malam badanku panas. Baru ketahuan paginya dan diantar ke klinik. Setelah itu aku tertidur, sampai makan siang yang berada di atas nakas samping tempat tidur masih utuh.

Saat siang tadi aku sempat membuka mata sebentar dan melihat Mama menaruh makanan di kamar. Kayaknya Mama pulang sebentar dan pergi ke sekolah lagi untuk mengajar.

Saat melihat jam pada ponsel, ternyata sudah jam tiga sore. Aku keluar kamar sambil berpegangan dengan dinding. Sudah lumayan enggak terlalu pusing. Waktu panasnya tinggi, kayaknya buat berdiri saja enggak kuat.

Setelah buang air di toilet samping kamar, aku kembali ke atas ranjang dan makan nasi beserta lauk yang sudah dingin. Lalu meminum obat. Kemudian aku membuka ponsel dan mengecek pesan yang masuk. Ada pesan dari Ray. Entah kenapa aku tertawa geli. Soalnya kami memang jarang bertukar pesan. Paling-paling cuma tulisan, "di mana lo?" "Oiii, buruan! Gue tinggal kalau lelet."

Oiii, ke mana lo? Masih hidup?

Aku hanya mengirim emoticon yang bertuliskan I'm okay. Tanpa kusadari, kedua mataku terpejam sambil memegang ponsel.

***

Lagi-lagi aku ketiduran. Sudah jam lima sore. Aku harus bangun, kalau enggak nanti malam kedua mataku terang benderang. Sepertinya aku sudah lumayan membaik.

Saat aku ingin minum, ternyata teko air di dalam kamar sudah kosong. Aku memutuskan untuk beranjak ke dapur.

Sudah jam lima, artinya Mama dan Papa sudah pulang sedari tadi. Akan tetapi saat aku melihat ke ruang tengah dari arah dapur, enggak ada siapa-siapa. Biasanya Mama dan Papa menonton di sana sambil selonjoran di atas karpet atau sofa. Keduanya sering berebut, antara menonton berita sesuai keinginan Papa, atau sinetron India favorit Mama.

Namun sepertinya aku mendengar suara Dayana dari depan. Lalu terdengar suara orang mengobrol dari ruang tamu. Sambil membawa segelas air, aku pergi ke ruang tamu untuk melihat siapa di sana.

Refleks aku menyemburkan air yang baru saja kuminum. For God's sake! Kenapa Ray ada di sini?!

"Lho, ini anaknya udah bangun. Ini katanya mau jenguk. Siapa tadi namanya?" tanya Mama.

"Ray, Tante." Ray hanya tersenyum, lalu kembali menunduk malu.

Cih, sejak kapan dia malu-malu kucing? Oh, pasti dia habis ketemu Papa. Aku mengintip dari pintu, Papa sedang menyiram tanaman di halaman. Aduh, aku bakal diintrogasi sama Papa enggak ya? Kenapa sih Ray pakai acara datang ke rumah?

"Adek udah enakan? Sini, duduk temenin Ray. Ray bawain semangka buat Adek tuh." Mama menepuk bantalan sofa di sampingnya.

"Udah enakan, Ma." Aku duduk sambil merapikan beberapa helaian rambutku.

Pasti rambutku sudah menyerupai singa. Sudah gitu, aku belum mandi pula. Lalu Mama pergi meninggalkan kita berdua membawa semangka yang dilapisi plastik hitam. Sebelumnya Mama kembali menawarkan es sirup yang tak kunjung diminum oleh Ray.

"Lo sakit?" tanya Ray.

"Bukan. Gue sengaja bolos." Aku melihat kedua mata Ray yang menyerupai emoticon yang bermata garis menanggapi ucapanku. "Lagian, udah tahu sakit. Tapi udah mendingan kok."

Kami sempat terdiam beberapa saat sampai Ray membuka ranselnya dan mengeluarkan sebuah buku.

"Ini buku buat lo. Di Goethe biasanya pake ini. Coba aja pelajarin dulu." Ray menaruh buku itu di atas meja.

Lazy BoyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang