32. Ray

70 21 19
                                        

Gue bisa melihat Bapak'e panik ketika dipanggil ke sekolah. Bukan ini yang gue penginin. Foto itu cuma untuk dipamerkan ke depannya supaya Bapak'e tahu bagaimana kelakuan anak tirinya. Bukan Bunga bangkai yang gue khawatirin. Pastinya juga bukan emak sosialitanya. Secuek-cueknya gue, gue sayang lah sama bapak sendiri.

Makanya gue kalap setiap melihat Kinan. Gue paham dia putus cinta, tapi kenapa harus mengorbankan keluarga orang lain, sih?

Ponsel gue membuyarkan lamunan gue. "Oke, Ray ke parkiran sekarang."

Tadinya gue mau menunggu di depan ruangannya Pak David. Eh, tapi nanti kelihatan mencolok banget. Meskipun gue yakin beberapa orang sudah tahu kalau gue sama Bunga itu punya hubungan keluarga, ya tapi tetap aja gue enggak mau terlalu mengeksposnya.

Akhirnya gue menunggu di lorong Music Room. Sebelum gue turun, gue sempat melirik dari jendela Music Room. Gue melihat ada seorang cewek sedang duduk di hadapan salah satu meja keyboard. Dia enggak memainkan keyboard, melainkan menatapnya kayak kurang kerjaan.

Gue tahu siapa dia. Cewek yang sudah gue hapus dari hati gue semenjak kemarin.

***

Kali ini Bapak'e enggak membawa kami ke restauran seafood favoritnya atau makan di mal. Dia menggiring gue ke rumah gedongnya.

Ah, muak banget gue ke sini. Apalagi sewaktu gue melihat foto keluarga mereka yang dibingkai pigura emas. Seakan mereka menertawakan gue ketika baru saja melangkahkan kaki masuk ke ruang tamu. Gue ingat banget dulu Bapak'e mengajak gue untuk foto bersama. Pasti gue nolak lah. Enggak sampai hati gue melukai hati Emak.

"Ray, kamu enggak ada sangkut pautnya sama foto ini, kan?" tanya Bapak'e setelah duduk di salah satu sofa dengan ukiran kayu jati.

"Ayah serius nuduh Ray? Jadi yang anaknya Ayah itu Ray atau si Bunga bangkai?" Gue memelotot ke arahnya.

"Ray! Jaga omongan kamu!"

"Dia yang bikin masalah, kenapa Ray yang kena? Ayah baru tahu kalau kelakuan tuh anak kayak sampah?"

"Ayah takut kamu mau balas dendam ke Ibra, karena cemburu kalau dia pacaran sama Kinan."

Jantung gue berdetak kencang. Kedua telapak tangan gue mengepal keras. Berkali-kali gue mengembuskan napas berusaha untuk tetap waras.

"Kenapa Ayah selalu menganggap Ray serendah itu? Ray tahu kalau selama ini kerjaannya menyusahkan Ayah. Tapi seburuk-buruknya anak Ayah ini, Ray enggak pernah berbuat sampah kayak di foto itu." Gue yang tadinya menunduk mulai menatap Bapak'e lurus ke arah kedua bola matanya.

"Ray enggak ada waktu buat pesta seperti yang Bunga lakuin. Tahu enggak apa yang ada di otak ini?" Lalu gue menunjuk ke kepala. "Bunda. Ray harus memastikan Bunda enggak kecapekan kerja sendirian. Bunda makan apa enggak, kalau di rumah enggak ada orang. Ray mutusin buat nerima tawaran Ayah kuliah di luar negeri supaya nanti bisa dapat kerja di perusahaan bagus. Biar Bunda enggak usah kerja lagi."

Kemudian gue bangkit dari sofa yang gue duduki. "Tapi kalau Ayah memandang Ray sebagai anak yang nyusahin. Lebih baik lupain aja kuliah di Jerman. Ray enggak bakal mati cuma enggak bisa ke Jerman."

Bapak'e enggak bisa menahan gue yang menangkis cekalan tangannya. Gue melangkah lebar-lebar melalui taman rumah yang rasanya berkilo-kilo meter. Entah kenapa gerbang besar dari kayu itu terasa jauh. Gue cuma menatap tanaman hias yang entah apa namanya dengan nanar. Gue jadi ingat kalau Emak suka banget sama tanaman, tapi kita cuma mampu beli tanaman-tanaman kecil di pot. Ah, muak banget gue sama keluarga ini.

***

Hari ini Bapak'e kembali ke sekolah. Tujuannya memang menyelesaikan masalahnya si Bunga bangkai. Tadi sewaktu istirahat, kami semua penghuni kelas XII dikumpulkan di auditorium lantai lima bersama Pak David.

Lazy BoyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang