Aku melambaikan tangan kepada Ray yang baru datang. Kebetulan Dayana sedang sibuk bersama anak-anak choir lainnya. Jadi, aku ajak Ray sekalian untuk makan bersama. Berhubung dia sudah baik kepadaku. Lagipula orang itu ternyata lebih parah dariku. Seenggaknya aku masih mempunyai Dayana. Enggak sebatang kara kayak dia.
Lalu aku menawarkannya untuk mengambilkan konsumsi dari Assembly. Biasanya saat ada acara seperti ini, murid-murid enggak ada katering dan juga enggak membawa bekal. Soalnya ada konsumsi banyak.
Meskipun ada juga yang bosan dengan makanan konsumsi. Selalu Hoka-Hoka Bento. Enggak pas field trip, Assembly, kecuali saat acara End Year. Lebih spesial, karena banyak wali murid yang datang. Walaupun menurutku, konsumsi saat ini pun sudah lumayan.
Bertepatan aku sedang mengambil kotak makanan di atas meja prasmanan, di dining room, datang dua nenek lampir. Siapa lagi kalau bukan Davina dan Shakira?
"Eh, lo kok ambil lebih dari satu? Bukannya temen lo masih di aula? Wah, korupsi ya lo?" tukas Davina.
"Temen gue kan banyak. Apa urusan lo?" balasku.
"Gue takut aja, ini kotak-kotak Hokben mau lo ambil semua. Terus lo jualin. Gue denger-denger katanya lo mau kuliah di Jerman? Makanya lo butuh duit buat kuliah di sana," ujarnya.
"Eh, Beb, masa segitunya sih? You know, from what I hear, kuliah di Jerman katanya gratis," cetus Shakira.
"Ya, tapi kan tetep aja butuh biaya pesawat, biaya hidup kayak sewa apartemen, asuransi, banyak deh, Beb," sahut Davina.
Aku malas menanggapi mereka, tapi mereka berdua menghalangi jalanku. Sengaja banget sih!
"Lagian itu bukan urusan kalian. Urusin aja olimpiade yang tinggal dua bulan lagi. Well, good luck deh." Aku sengaja menyeruak di antara mereka berdua dan menabrak kedua bahunya.
"Maksud lo apa? Lo ngeremehin gue? Lo enggak yakin kalau gue bakal lolos tingkat Provinsi?" teriak Davina. Semua murid yang berada di dining room menatap kami. Termasuk Ibra. Ya, dia selalu diam saja melihatku dipermalukan oleh dua nenek lampir ini.
"Gue enggak per-"
Tanpa aba-aba, sebuah bencana datang. Wajahku bagai diterpa selang air. Davina menyiramku dengan air di dalam tumbler miliknya. Kemudian Davina masih belum puas, sepertinya sebentar lagi pipi sebelah kananku akan memerah akibat ditamparnya.
Well, well, ada yang sok pahlawan. Tiba-tiba Ibra datang dan menahan tangan Davina. Aku sih lebih senang ketika Ray datang dan menarik tanganku pergi menjauh dari mereka. Dia mengambil kotak makan yang kubawa dan kami berjalan menuju tangga.
***
"Kita mau ke mana? Lo hobi banget megangin tangan gue lama. Kayaknya sengaja ya lo?" tanyaku saat kami menuruni tangga ke lantai tiga.
"Ya elah, sorry. Gue khilaf. Lo jangan nuduh gue mesum kayak di angkot dong. Udah tahu habis gue tolongin. Enggak tahu terima kasih lo," gerutunya.
Sontak aku tertawa ketika mengingat bahwa aku pernah menuduhnya mesum dan bahkan menamparnya.
"Sorry deh. Oke, thank you udah ngebawa gue pergi. It's mean a lot." Aku tersenyum tulus kepadanya.
Namun Ray malah terlihat gelagapan. Dia berjalan mendahuluiku dan hampir masuk ke dalam Physic lab seperti orang linglung.
"Oh iya, lo ada baju olahraga di loker?" tanyanya sambil menengok ke belakang.
Aku menggeleng. "Baju olahraga gue dicuci. Baru dibawa besok, karena ada pelajaran PE."
"Terus baju lo basah gitu gimana?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Lazy Boy
Fiksi RemajaKinan merutuki nasibnya gara-gara didepak oleh sekolah dari perwakilan olimpiade sains. Ini semua akibat kesalahan yang dilakukannya di tahun lalu. Ah, Kinan jadi gagal mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri! Padahal kalau dia berhasil membawa p...
