4. Ray

171 26 19
                                        

Definisi istirahat menurut gue adalah tidur. Makanya hampir setiap jam istirahat, gue tidur. Ya kecuali gue lapar. Eh, kali ini ada yang mengusik gue.

Gue yang setengah terpejam bisa mendengar ada suara sayup-sayup yang menyebutkan nama gue. By the way, gue tidur ya, bukan mati. Jadinya masih bisa dengar.

"Ada Ray?"

"Ray?"

"Ya ampun! Udah setengah tahun sekelas, masa enggak tahu siapa Ray?"

Gue tebak yang teriak tadi si Cutbray. Suara melengkingnya khas, tapi kalau nyanyi dia enggak terlalu terdengar secempreng ini. Gue pernah lihat dia tampil di Assembly tahun lalu. Walaupun gue nontonnya sambil nguap-nguap.

"Oh, si pelor?"

Yap, itu panggilan lain gue. Anak kelas bakal berkerut kening saat ada yang menyebutkan nama Ray. Mereka biasa manggil gue 'pelor' alias nempel dikit molor. Terus mereka akan menunjuk ke pojokan. Jarang sih ada yang nyariin gue.

Sampai ada guru yang memanggil gue Rayi malah dikoreksi, "pelor, Mister! Enggak ada yang namanya Rayi." Emang kampreto orang-orang ini.

Gue sebenarnya bisa aja mengangkat tangan dan mengarahkan dia kepada keberadaan gue. Ah, tapi males. Ngapain coba? Apalagi gue ingat kejadian angkot kemarin. Untung aja dia cewek. Kalau cowok, udah gue pites.

Suara derap langkahnya terdengar mendekati gue. Enggak lama kemudian dia bilang, "Ray. Ini gue Kinan."

"Terus?" kata gue, tapi masih dengan posisi telungkup di atas meja.

"Oh, lo bangun? Gue mau minta maaf soal kemarin."

Akhirnya gue mengangkat kepala dan menatap dia. Kalau di depan gue ada kaca, pasti muka gue kelihatan sepet. Kerennya, cewek yang namanya ... Kinan ya? Dia tetep senyum aja gitu. Jangan-jangan?

"Ya, dimaafin deh." Sebenarnya biar dia enggak lama-lama di depan gue.

"Makasih ya. Oh iya, Ray. Gue mau nanya-nanya info beasiswa kuliah di luar negeri dong."

Kedua alis gue bertaut. "Kenapa sama gue?"

"Soalnya gue lihat lo minta koreksiin personal statement sama Mrs. Zalina."

"Terus?"

"Ya, makanya gue nanya. Ih!"

"Kan, banyak yang bisa ditanyain. Lagian jangan sok tahu, main nebak-nebak," tukas gue.

"Emang banyak yang mau kuliah di luar negeri, tapi kebanyakan mau ikut GTC," sahutnya.

"Ya udah, ikut juga gih."

"Enggak punya duit gue."

Lagi-lagi kedua alis gue bertaut. "Ya udah, ngepet dulu aja. Biar jadi kaya." Terus gue lanjut menelungkupkan kepala di atas meja.

Gue cuma bisa dengar decakan kesalnya dan gue tebak dia marah, terus keluar dari kelas. Akhirnya gue bisa membalaskan dendam. Hahaha.

***

Entah gue yang lebay atau terlalu paranoid, tapi pas keluar dari sekolah, gue sampe berkali-kali menengok ke belakang. Gue takut cewek yang namanya Kinan mengikuti gue. Gue bisa bernapas lega. Dia juga enggak kelihatan satu angkot sama gue.

Baru kali ini gue melek sewaktu di angkot. Mungkin merayakan kemerdekaan setelah sebelumnya gue dituduh mesum dan celana gue dibasahin.

"Kiri, Bang!"

Setelah gue kasih beberapa lembar ribuan, gue mampir dulu ke warung dekat rumah. Emak nitip dibeliin tepung sama gula. Paling buat kue pesanan. Kemarin ada yang ke rumah pesan kue banyak buat acara lamaran anaknya.

Lazy BoyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang