Happy reading, jangan lupa vote dan comment nya. Terima kasih...
***
Dua orang manusia dingin sedang saling tatap tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Terra dan Dion duduk berhadapan, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Dion bingung dia harus menyesali tindakan gegabahnya atau malah mensyukurinya. Paling tidak dia tidak lagi dikejar-kejar untuk menikah oleh kedua orangtuanya. Melihat reaksi papanya, rasanya tidak ada penolakan untuk menjadikan Terra anggota keluarga baru mereka.
Jujur saja, ini adalah hal tergila yang pernah dia lakukan seumur hidupnya. Otaknya bereaksi tanpa diperintah ketika melihat Terra di ambang pintu tadi. Entah egonya yang terluka atau harga dirinya yang terinjak-injak, yang jelas Dion tidak ingin kalah dari Reyya. Dia tidak terima seolah-olah Reyya menganggap dia masih mengharapkannya.
Menjadikan Terra alibi memang tidak dibenarkan, tapi dia tidak bisa dibilang menjadikan Terra alibi juga karena dia benar-benar akan menikahi perempuan dihadapannya ini. Terra ibarat penawar racun yang datang padanya, sementara racunnya adalah orang-orang disekitarnya.
Dion hanya ingin ketenangan. Bebas dari omelan mamanya, desakan papanya, menyingkirkan Reyya selamanya dari kehidupannya, dan Terra jalan pintasnya. Dion tidak bisa membayangkan akan sekacau apa kehidupannya nanti, tapi menurutnya akan jauh lebih mudah berurusan dengan Terra ketimbang orang-orang terdekatnya.
Yang jadi masalah sekarang bagaimana caranya meyakinkan Terra untuk menikah dengannya. Kaum hawa selalu menuntut yang namanya cinta, dan Dion tidak akan bisa memberikannya, cintanya sudah mati bertahun-tahun yang lalu.
"Bapak mau bicara, atau mau terus diam seperti ini? Kalau tidak mau bicara saya mau kembali bekerja saja."
"Saya sejak tadi menunggu kamu bertanya. Apalagi yang mau saya bicarakan? Sudah jelas kan kalau saya menawarkan pernikahan. Pernikahan yang sesungguhnya. Seorang Dion Wijayakusuma sedang mengajak kamu M-E-N-I-K-A-H." Jelas Dion dengan penekanan pada kata menikah.
"Menikah gimana sih Pak? Mana ada orang menikah seperti kita. Kita ini dua orang asing, tidak saling kenal, dan saling bertolak belakang. Saya ke kanan Bapak ke kiri."
"Saya mengerti maksud kamu. Cinta kan?" Tanya Dion langsung. Sebelah alis Terra terangkat mendengar pertanyaan bosnya.
"Ini memang sedikit tidak masuk akal, tapi yang saya bilang tadi. Kita dua orang dewasa yang sama-sama realistis. Saya rasa cinta bukan hal yang utama dalam kesuksesan sebuah pernikahan. Saya harap kamu bukan tipe perempuan yang menomor satukan cinta, yang paling penting menurut saya adalah komitmen dan usaha." Dion percaya diri sekali dengan pidatonya barusan. Terra gemas dengan jawaban Dion. Dia tidak habis pikir apa isinya kepala lelaki itu.
"Bapak kenapa sih? Jangan bikin saya takut begini. Saya memang nggak takut-takut amat sama hantu, tapi sekarang Bapak jauh lebih menyeramkan dari hantu." Kata Terra dengan nada yang melembut. Dion menghela napas pasrah. Apa dia bilang, terlalu sulit meyakinkan Terra untuk mau menikah dengannya.
"Harus berapa kali saya bilang kalau saya serius?"
"Dengar ya Pak, saya nggak tahu masalah Bapak, yang jelas jangan libatkan saya di dalamnya. Saya nggak suka! Teman kencan Bapak kan banyak, tinggal comot satu dijadiin istri kan bisa." Terra sudah tidak bisa menahan kekesalannya lagi. Sejak tadi dia sudah jadi anak baik yang hanya bisa diam. Nyalinya hilang kalau di depan Pak Hendra, tapi kalau di depan Dion tentu dia akan menunjukkan gigi dan taringnya.
"Saya lelaki normal. Sudah saya jelaskan sejak tadi kalau saya benar-benar mau menikah, tentu saya tidak akan menikah dengan perempuan sembarangan. Dia harus punya kualitas untuk jadi istri saya. Saya juga tidak mau keturunan saya tercoreng nantinya."
KAMU SEDANG MEMBACA
TerraCotta (Completed)
Chick-LitDi usia yang nyaris kepala tiga, Terra masih tidak mengerti tujuan hidupnya apa. Selama lima tahun terakhir, dia merasa tidak ada yang berubah, waktu berhenti berputar dan tahu-tahu dia sudah dua puluh delapan tahun. Rasanya baru kemarin dia masuk k...
