21. Pertemuan

49.1K 5.4K 22
                                        

Happy reading, jangan lupa vote dan comment nya. Terima kasih...

***

Terra menatap dirinya sendiri dari pantulan cermin. Dress lengan panjang selutut dengan warna biru tua, rambut pendek sebahunya yang ikal dia gerai begitu saja. Ditambah lagi polesan riasan tipis yang hampir tidak terlihat. Rasanya sudah cukup kalau mau makan malam saja.

         Dia melangkah keluar, melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul lima sore lewat sepuluh menit. Lydia sedang keluar ke pusat perbelanjaan, belanja kebutuhan rumah yang sudah mulai menipis.

         Bel apartemennya berbunyi, Terra bergegas membuka pintunya. Disana Dion sudah berdiri rapih dengan celana jeans dan kemeja santai. Untung saja Terra tidak memilih baju yang berlebihan. Lihatlah betapa santainya lelaki ini.

         "Ayo jalan." Kata Dion.

         Terra mengambil stiletto hitam dan mengenakannya. Tidak lupa juga dia mengambil paper bag yang tadi sudah disiapkannya, kemudian mengunci pintu apartemen.

         "Kamu bawa apa?" Tanya Dion penasaran memandang paper bag di tangan Terra.

         "Fruit cake, masa mau ke tempat orangtua Bapak nggak bawa apa-apa."

         "Oh." Jawab singkat Dion.

         Terra dan Dion berjalan beriringan menuju ke parkiran mobil. Jujur saja Terra sebenarnya ingin menayakan bagaimana penampilannya. Bukan bermaksud untuk dipuji, dia hanya khawatir kalau penampilannya terlalu berlebihan atau malah kurang. Tapi bertanya pada Dion sama saja bunuh diri rasanya. Belum bertanya pun dia sudah bisa menebak apa jawabannya. Lelaki itu mana mau repot-repot pasti memperhatikan penampilannya.

         Tiba di parkiran, Dion langsung masuk ke mobilnya, tidak mau repot-repot membukakan pintu untuk Terra. Sementara Terra juga dengan cuek duduk di samping Dion, memasang sabuk pengaman.

         Tidak ada yang berbicara sama sekali. Perjalan mereka diisi dengan keheningan. Bahkan radio atau musik pun tidak ada. Terra yang sejak tadi mengamati jalanan juga mulai bosan.

         "Orangtua Bapak seperti apa?" Akhirnya ada suara yang terdengar di dalam mobil tersebut.

         "Biasa saja, layaknya orangtua pada umumnya."

         "Saya harus bagaimana nanti?"

         "Tidak bagaimana-bagaimana, seperti kamu menghadapi orangtua saja."

         Terra mengangguk paham, kemudian kembali mengalihkan pandangannya pada jalanan. Tuh kan, apa dia bilang. Percuma saja bertanya pada Dion. Bikin sakit hati saja karena jawabannya seperti itu.

         Empat puluh lima menit, mereka sampai di salah satu perumahan yang cukup bergengsi. Terra tercengang mendapati rumah dihadapannya. Bukan karena mewah, tapi karena rumah ini cenderung biasa saja. Untuk ukuran orang kaya menurut Terra terlalu biasa malah. Rumah ini lebih mirip rumah Milan, walapun ukurannya sedikit lebih besar dari rumah Milan.

         Di depan pintu mereka sudah disambut oleh seorang wanita yang Terra yakin adalah ibunya Dion. Wanita itu tersenyum mendapati kedatangan mereka berdua.

         "Ini pasti Terra ya? Ya ampun, aslinya cantik ya, nggak salah Dion bisa suka." Terra tersenyum kikuk.

         Sungguh, bayangan orangtua Dion di kepalanya berbeda dengan apa yang dilihatnya sekarang. Paling tidak ibu Dion adalah wanita yang hangat, bukan ibu-ibu judes seperti kebanyakan yang diceritakan orang.

TerraCotta (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang