Happy reading, jangan lupa vote dan comment nya. Terima kasih...
***
Terra melirik Dion dari antara sela-sela dokumen yang sedang dibacanya. Dion tampak serius mengamati kertas-kertas yang ada di hadapannya sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. Terra jengah, selama satu minggu ini dia harus selalu ada di ruangan Dion, membantu lelaki itu dan menjawab beberapa pertanyaan yang tidak Dion mengerti.
Kali ini, Dion juga masih sibuk menyuruh Terra memeriksa semuanya seperti biasa. Yang membuat Terra tidak nyaman adalah ketukkan jari Dion pada meja, berisik dan mengganggu konsentrasinya.
"Pak?" Teguran Terra tidak diindahkan Dion. Lelaki itu masih saja sibuk dengan pikirannya sendiri dan tenggelam dalam irama ketukkan meja.
"PAK!" Tegur Terra lebih keras dan berhasil menghentikan lamunan serta jari Dion.
"Kenapa?" Tanya Dion
"Bapak ada yang bingung? Atau tidak dimengerti?" Dion menggeleng bingung karena tiba-tiba saja Terra menanyakan hal tersebut.
"Tidak, kenapa memangnya?"
"Berisik pak, saya nggak bisa konsen jadinya." Terra menunjuk jari Dion dengan lirikan matanya.
"Ck, banyak maunya." Kata Dion sebal.
Terra memilih untuk tidak meladeni Dion. Biarkan saja lelaki itu mau mengomel atau mendumel karena dirinya. Salah sendiri kenapa malah memilih dirinya untuk membantu.
Selama satu minggu ini pekerjaan Terra lebih banyak dihabiskan di ruangan Dion. Alasannya karena lelaki itu tidak mengerti. Mulut Terra sudah cukup berbusa beberapa hari belakangan karena harus menerangkan ini dan itu.
Kegiatan memeriksa dokumen yang biasa dia lakukan dengan Bagas, Dina, dan Kinan, kini harus rela dia lakukan bersama Dion. Lelaki itu ngotot untuk memeriksa semuanya sendiri tanpa bantuan siapapun kecuali Terra. Jadilah sepanjang hari Terra bagaikan dikurung di ruangan Dion.
Kembali tenggelam dengan pekerjaan mereka, tiba-tiba saja pintu ruangan diketuk.
"Masuk." Dion mempersilahkan siapapun yang mengetuk pintu untuk masuk. Seorang lelaki tinggi berperawakan rapih masuk ke dalam ruangan. Terra mengernyit berusaha meneliti siapa lelaki ini. Seingatnya tidak ada karyawan yang wajah-wajahnya seperti lelaki di hadapannya. Lelaki itu berjalan mendekati mereka, kemudian menyerahkan dokumen yang ada di tangannya yang langsung disambar Dion.
"Terra, kenalkan ini Faris teman sekaligus partner bisnis saya. Besok-besok kalau dia datang langsung suruh masuk saja ke ruangan saya kalau saya sedang tidak ada tamu." Terra bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Faris.
"Terra Pak."
"Oh Terra? Kamu yang membantu Dion disini ya? Sekertarisnya Direktur yang dulu?" Tanya Faris yang malah mendapatkan gelengan dari Terra.
"Bukan Pak, saya Manajer Keuangan disini, tapi dijadikan sekertaris juga sama Pak Dion." Faris terkekeh geli mendengar jawaban Terra. Lelaki itu tidak tahu saja kalau tawa kecilnya bisa membuat Terra menahan napasnya selama beberapa detik. Dan tanpa sengaja Dion juga memperhatikan itu.
"Bapak mau minum apa? Biar saya minta OB buatkan."
"Tidak perlu, Faris hanya mengantar dokumen ke sini, dia langsung balik lagi ke kantor. Benar kan Ris?" Dion menyerahkan dokumen yang baru saja ditandatangani dan langsung diterima oleh Faris.
KAMU SEDANG MEMBACA
TerraCotta (Completed)
ChickLitDi usia yang nyaris kepala tiga, Terra masih tidak mengerti tujuan hidupnya apa. Selama lima tahun terakhir, dia merasa tidak ada yang berubah, waktu berhenti berputar dan tahu-tahu dia sudah dua puluh delapan tahun. Rasanya baru kemarin dia masuk k...
