18. Dion vs Milan

55.6K 5.4K 34
                                        

Happy reading, jangan lupa vote dan comment nya. Terima kasih...

***

Setelah perbincangan singkat mereka, Lydia memutuskan kembali ke kamarnya untuk istirahat, membiarkan Terra, Dion, dan Milan di ruang tamu bersama dengan siaran kartun yang sejak tadi menyala.

         Milan menatap Terra dan Dion bergantian secara terang-terangan, tidak pakai rasa tidak enak. Dion sendiri tidak merasa risih dengan tatapan Milan, dia malah menikmati teh peppermint yang tadi sempat dibuatkan Lydia untuknya, sambil sesekali mencomot kastengel dan nastar yang ada di atas meja televisi.

         Berbanding terbalik dengan Terra yang jelas-jelas menatap kesal pada Milan. Terakhir kali mereka bertemu, mereka tidak baik-baik saja. Sampai sekarang juga Terra dan Milan belum berkomunikasi. Tapi lelaki ini nekat datang ke apartemen Terra, dan sialnya di saat yang tidak tepat.

         "Mau ngapain deh lo kesini?" Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari bibir mungil Terra.

         "Kalian beneran mau married?" Bukannya menjawab, Milan malah menanyakan hal lain.

         "Mil, gue nanya lo mau ngapain kesini? Belom dijawab tapi udah nanya yang lain." Milan menatap Terra tajam, kesal dengan sahabatnya yang repot menanyakan keberadaannya. Padahal Milan hanya ingin tahu kebenaran dari gosip yang beredar di sosial media kemarin. Ternyata pagi ini dia malah bisa bertemu langsung dengan lelaki yang katanya calon suami Terra ini.

         Yang membuat Milan lebih penasaran lagi, katanya calon suami tapi tante Lydia juga baru tahu hari ini. Milan benar-benar tidak habis pikir apa yang ada di otak Terra. Milan akui lelaki bernama Dion ini memang memiliki aura yang luar biasa memikat untuk mampu membuat para kaum hawa bagaikan ikan yang kehabisan air.

         "Kok tante baru kenalan sama calon suami lo Ter hari ini? Tapi kalian udah mau married? Ada sesuatu yang gue lewatkan nggak?" Tatapan Milan jelas menusuk Terra.

         "Banyak! Makanya jangan cari ribut terus sama gue! Nggak tau apa-apa kan lo jadinya! Udah, kalau lo nggak punya kepentingan mending pulang sana, ini weekend. Atau nggak pergi ke rumah Sintia, ajak dia kemana gitu dari pada gangguin gue!" Terra sudah menunjukkan taringnya.

         "Capek gue ngomong sama lo, dikit-dikit larinya ke Sintia. Jadi tumbal terus Sintia sama lo mah."

         "Pulang!" Seru Terra dengan suara yang masih bisa di kontrol, takut-takut membuat Lydia keluar dari persembunyiannya.

         Dion yang dari tadi diam memperhatikan pertengkaran dua orang yang katanya sahabat itu kini mulai jengah dengan tingkah kekanakan mereka.

         "Kamu mau tahu apa tentang hubungan kami?" Akhirnya Dion angkat bicara juga, menghentikan perdebatan dua orang itu.

         "Semuanya. Gue kenal Terra dari dulu banget. Dia nggak lagi dekat sama lelaki manapun, apalagi pacaran. Nggak mungkin tiba-tiba mau married begini. Jelas gue curiga, apalagi sama lelaki yang gue nggak kenal sama sekali," Terra benar-benar ingin menyeret Milan keluar sekarang. "Dan lo kan bos barunya Terra. Terus tadi bilang ke tante Lydia kalau kalian udah kenal hampir setahun? Terra aja baru kenal lo pas di kantor kan. It doesn't make sense at all." Terra baru ingin membuka mulutnya, tapi tangan Dion mengisyaratkan agar dia tetap diam, yang tentu saja dituruti oleh Terra. Tanpa sepengetahuan mereka, gerakan kecil itu diperhatikan lekat-lekat oleh Milan.

         "Kalian sahabat dari kecil kan? Tapi sekarang kalian sudah sama-sama dewasa. Saya rasa hal itu sudah berbeda. Terra punya hak untuk tidak menceritakan hal-hal yang tidak mau dia ceritakan sekalipun kalian sahabat. Pahami batasannya." Telak, perkataan dion benar-benar memukul telak Milan. Harus Terra akui Dion memang yang terbaik kalau masalah membuat orang lain bungkam, Dion tidak ada duanya.

TerraCotta (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang