34. PENYERANGAN (3)

45 1 0
                                        

34. PENYERANGAN (3)
.
.

Maaf update nya lamaaaaaaa banget.





















Sepi pembaca juga..















Tapi gapapa...












Makasi buat yang udah baca












Vote komennya jangan lupa yaaa















Happy Reading 🦖💛







BUGH.

Lingga mengusap sudut matanya yang membiru akibat pukul tiba-tiba yang dilayangkan Bayu.

"Gak usah banyak bacot!"

"Oke baiklah terserah tuan muda Bayu Pratama."

Bayu tidak terima, ia kembali melayangkan pukulan kepada Lingga tapi kali ini meleset. Bayu berada dibawah Lingga. Tapi tidak lama, Guntur dengan sekali gerakan membawa Lingga beradu padanya.

Guntur mengisyaratkan ada seseorang di belakang Bayu.

BUGH.

BUGH.

Sambil berbalik badan, dua kali tendangan berhasil Bayu layangkan kepada seseorang dengan rambut gondrong itu.

Lingga kini tak tinggal diam, ia melayangkan tinjuan kepada Guntur dan berhasil.

Ujung mata Guntur sedikit membiru, dan kepalanya sedikit pening akibat tinjuan yang diberikan Lingga kepadanya. Tapi Guntur tidak menyerah.

BUGH.

Tendangan itu Guntur layangkan.

BUGH.

Lagi sekali Guntur menendang, memukul Lingga. Napas mereka saling memburu. Wajah Lingga kini sudah dipenuhi lebam-lebam.

Guntur menatap Lingga sengit. Dengan sekali pergerakan Guntur membawa Lingga berada dibawahnya.

Mendekatkan dirinya pada Lingga, "maksud perkataan Lo apa?"

Lingga masih bisa tertawa, "gak maksud apa-apa cuma mau bikin Lo takut aja."

"Cepat kasih tau gue apa maksud Lo?!"

BUGH.

Tinjuan itu Guntur layangkan tepat di dada kiri Lingga, membuat Lingga terbatuk-batuk. Tak lupa hidungnya kini yang mengeluarkan darah segar akibat pukulan yang tiba-tiba lagi Guntur layangkan kepadanya.

"Lo ya-kin bakal ma-u tau?"

Setelah itu terdengar suara langkah kaki yang beradu dengan dedaunan yang jatuh ke atas aspal.

"LINGGA!"

Seseorang yang baru saja datang itu mengambil alih Lingga membawanya pada pangkuan gadis itu.

Seluruh orang di sana menatapnya bingung. Mereka semua menghentikan perkelahiannya, "Senja?"

Setelah Guntur membuka suara dengan nada lirihnya, gadis itu mendongak menatap lawan bicaranya, "Lo.. Lo yang buat Lingga kayak gini?!"

"Lo yang bikin Lingga kayak gini?!"

"Jawab Guntur!"

Guntur terdiam. Ia terkejut. Benar-benar terkejut. Kenapa harus Lingga? Seharusnya ia yang berada di posisi Lingga.

Tapi Guntur tidak ingin air mata Senja keluar lagi untuk kedua kalinya karena dia. Apa yang harus ia lakukan.

Bayu juga sama terkejutnya. Ia berjalan mendekati Senja, menyuruh anggota LEO untuk membawa ketua mereka ke rumah sakit.

Karena tadi sejenak sesaat Senja datang, Lingga pingsan mungkin karena terlalu lelah.

Setelah Lingga dibawa oleh anggotanya, Bayu membawa Senja ke dalam dekapannya. Senja tidak lagi menangis, ia masih syok. Pandangan itu juga tidak terlepas dari mata Guntur.

Guntur menatap Senja dengan pandangan sulit diartikan. Banyak pertanyaan berkecamuk di kepalanya. Ada apa hubungan Senja dengan Bayu? Kenapa bisa Senja mengenal Lingga? Sampai-sampai ia menangis karenanya.

Guntur beralih menatap tangganya yang terkepal, tangan yang digunakan untuk memukul Lingga tadi.

"Gue gak tau mau bilang apa sama Oma," ujar Senja masih didalam dekapan Bayu.

"Sstt.. nanti kita bilang baik-baik. Lo tenang dulu Lingga gak bakal kenapa-kenapa," ucap Bayu sambil mengelus pundak Senja.

Senja melepas pelukannya, menatap ke arah Guntur yang masih saja terdiam menatap Senja, "kenapa Lo lakuin ini sih?!" Ujar Senja.

Senja berdiri berhadapan dengan Guntur, "gue pikir Lo baik-baik. Tapi apa? Lo itu sama aja kayak Lingga."

Guntur berjalan hendak memegang tangan Senja, tapi ditepis kasar oleh Senja, "Nja semuanya gak seperti yang Lo pikirkan."

"Gak gimana, gue liat jelas dengan mata kepala gue sendiri Guntur!"

"Andai Lo tau, Lingga celaka gue yang kena!"

Mendengar penuturan Senja, Guntur terkejut. Apa maksudnya?

Bayu yang melihat situasi ini mendekati Senja, "kita pulang," ajak Bayu kepada Senja.

"Gue yang antar," ujar Guntur.

"Gak usah. Gue sama Bayu."

"Tapi-"

Bayu dan Senja sudah berjalan, Guntur hendak mengejar namun langkahnya ditahan oleh Reyland dan Gibran, "udah biar mereka dulu," ujar Gibran.

"Tapi-"

"Tur, udah biar Senja sama Bayu dulu. Mungkin memang Senja butuh Bayu saat ini," timpal Reyland.

"Kalian boleh balik ke markas. Obat luka kalian dulu, baru pulang ke rumah," ucap Gibran.

Seluruh anggota BALVAGOS mendengarkan, mereka kembali ke markas begitu juga dengan Guntur, Gibran, dan juga Reyland.

***

"Anjing!" Umpat Guntur sambil membuang botol air mineral yang baru saja ia minum.

Kini, di markas BALVAGOS hanya tersisa beberapa saja, yang lainnya sudah pulang duluan.

"Woo.. Lo kalo kesal jangan gitu dong, paha gue kena kan jadinya," ucap Gibran sambil mengusap pahanya yang terkena lemparan botol dari Guntur.

"Lo kesal Tur, gegara Bayu atau si Lingga?" Tanya Reyland.

"Dua duanya kalo bisa!"

"Katanya gak demen ama mantan. Ehh yang ini malah dicemburuin," ujar Gibran, ia bangkit dari sana mengambil air dingin yang berada di dapur markas.

"Lo nyindir gue?!"

"Lah situ kesindir? Padahal gue gak ada niat loh," timpal Gibran dari dapur.

"Lo sindir gue, gue depak Lo!"

"Ihh takut bapaknya nge-gas."

"Tur, ini pemikiran gue ni ya, gak tau Lo sama atau gak. Gue rasa Lingga sama Senja itu ada hubungan deh," ucap Reyland.












•••••
HAI EVERYONE!

NEXT PART GAK?

JANGAN LUPA VOTE AND COMMENT YAA
THANKS!
🦖💛

(Don't forget to follow me)

zazaatan

Februari 2022

Guntur SyandyakalaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang