43. DEBU DAN KENANGAN

75 1 0
                                        

HAPPY READING

JANGAN LUPA VOTE AND COMMENT

(Tandai Typo)

•••••

Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, tapi ada sekitar dua puluh lima lebih anak muda di sebuah markas ini masih setia memandangi seseorang yang tertidur dengan nyenyak dari Videocall.

"Yaudah Nja, Lo pulang Bayu udah on the way jemput Lo," ucap Gibran.

Senja yang berada di sebrang sana hanya mengangguk. Ia mendengarkan namun matanya tidak terlepas dari seseorang yang tengah tertidur dengan damai di hadapannya.

"Senja," ucap Gibran lagi. Namun kali ini fokus Senja benar teralihkan.

"Yaudah call-nya gue matiin ya."

"Iya."

"Gue nanti ke sana, jangan lupa kesehatan Lo juga dijaga."

"Iya."

Dan panggilan video itu akhirnya berakhir. Gibran menutup layar laptop miliknya. Ia menghela napas, menatap satu per satu orang yang ada di sini.

"Jangan sedih, kalian yakin kan Guntur kuat. Kalau Guntur sadar, gue yakin dia bakal nonjok kalian satu-satu kalau kalian berani nunjukin raut wajah kayak gitu dihadapannya," ucap Gibran yang mencoba menenangkan semua kawannya di sini.

"Sepi ya gak ada bang Guntur," ujar Aldo dan pandangannya beralih pada sebuah figura yang yang terdapat foto Guntur dan juga semua anggota BALVAGOS.

"Di sini kita berdoa. Kita semua yakin Guntur kuat, Guntur aja bisa lawan sepuluh preman sekaligus," timpal Reyland.

"Iya, kita semua harus yakin Guntur bisa kembali."

Semua manusia di sini termenung. Pikiran mereka tertuju pada satu orang. Ketua mereka. Pemimpin mereka. Orang yang telah mendirikan BALVAGOS.

Guntur Langit Syandyakala.

***

Sementara di lain tempat, terlihat seorang pemuda tengah membujuk temannya untuk ikut bersamanya. Tapi bukannya mau, justru temannya lebih memilih untuk tetap diam di sana.

"Tunggu sebentar," ucap gadis itu yang tidak lain adalah teman dari pemuda tadi, Bayu.

"Tunggu sampai kapan sih Nja, orang tua Lo nyariin."

Bicara lagi tentang acara pertunangan Senja dan Lingga, itu memang dibatalkan.

Kini wanita tua yang tidak lain adalah Oma dari Senja, sudah tahu bagaimana tingkah laku pemuda yang akan dijodohkan kepada cucu satu-satunya.

Dan itu semua berkat Bayu. Dia yang telah memberitahu semuanya, termasuk keadaan Guntur juga.

"Tunggu sampai Tante Niken datang."

Bayu hanya bisa menghela napas. Pandangan Senja hanya terarah pada seseorang. "Kalau gitu gue ke depan dulu," ucap Bayu yang kemudian ia melangkah ke luar ruangan.

Tidak ada jawaban dari gadis itu. Kini hanya tersisa Senja dan juga Guntur yang tengah tertidur.

"Lo kapan bangunnya, seminggu lagi tahun baru loh," ucap gadis itu dengan lirihnya.

"Kalau Lo bangun sebelum tahun baru, gue janji deh, bakal turuti semua keinginan Lo."

"Bener. Kalau ini gue gak bohong."

"Asalkan Lo bangun, kalau nggak gue bakal ninggalin Lo."

"Gue tahu kok, alasan Lo gak mau gue sama Lingga. Gue juga udah tahu Lingga kayak gimana orangnya."

"Bangun ya Tur," ujar gadis itu lirih. "Gue bakal tunggu Lo, apapun keadaannya asalkan Lo bangun."

Tanpa sadar, air mata gadis itu luruh. Tetesan air mata itu mengenai tangan pemuda yang terbaring. "Gue akan nunggu Lo sampai kapan pun Lo bangun."

***

"Guntur kalau nanti kita ngak satu sekolah bareng gimana?" Tanya seorang gadis yang tengah duduk di sebuah bangku taman yang langsung mengarah pada pemandangan danau yang masih jernih.

Terlihat pemuda dengan seragam olahraga itu menoleh pada gadis yang duduk di sebelahnya, "ya kalau gak satu sekolah gapapa, yang penting hati gue sama hati Lo tetap satu."

Gadis itu kesal karena tidak diberikan jawaban yang serius, "Guntur... Ih maksud gue bukan gitu."

"Lo mahhh gue ajak serius juga."

Pemuda itu terkekeh, "Lo jangan ajak gue serius, biar gue aja yang seriusin Lo."

"Guntur lama-lama gue gibeng pala Lo juga nih ya."

Pemuda itu terkekeh, "iyaa iyaa Sayang."

***

"Balvagos itu bukan hanya numpang nama! Di balvagos kalian harus terima konsekuensinya!"

"Balvagos gak butuh orang-orang yang hanya bermodalkan senjata, tapi yang balvagos butuh itu tenaga!"

"Tenaga untuk kalian sanggup atau tidak!"

"Jadi jangan pernah sekali-kali terbesit di pikiran kalian itu, ah gue masuk balvagos biar gue dikenal banyak orang."

"Balvagos bukan seperti itu!"

"Ingat! Kalau takut, pulang! Jangan sok jadi berani hanya untuk cari nama aja."

"Ingat itu!"







•••••
HAI EVERYONE!

NEXT PART GAK?

SHARE CERITA INI YAA!!

(Don't forget to follow me)
zazaatan

Juni 2022

Guntur SyandyakalaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang