27. MATCHMAKING PROBLEM
.
.
Jangan lupa tekan bintang ⭐
Happy Reading🐣💛
Di kediaman keluarga Damar Bhayangkara terlihat cukup ramai sekali. Mereka tengah berbincang-bincang masalah bisnis, masalah hidup, dan masih banyak lagi.
Terlihat pemuda tampang berkulit putih dan berhidung mancung duduk santai menanti sang putri rumah ini untuk datang.
"Kamu sudah bilang Senja kamu ada di sini kan?" Tanya wanita tua kepada sang pemuda tadi.
"Sudah Oma, Senja bilang lagi bentar akan sampai."
Kemudian obrolan yang sempat tertunda tadi di lanjutkan.
Kini sepertinya wanita tua itu mengingat apa yang dikatakan pemuda dihadapannya ini tadi siang, "kamu yakin Senja sama cowok itu?" Tanyanya lagi.
"Tadi sengaja aku ikuti Oma, memang Senja sama dia."
"Bu dia kan anak teman aku, jadi gapapa lah," ujar Damar yang mendengar percakapan wanita tua itu dengan pemuda ini.
"Gapapa gimana posisi di sini Senja udah punya calon, jadi janganlah. Saling menjaga perasaan satu sama lainnya."
Tak terasa, setelah mereka berbicara datanglah gadis yang sedari tadi mereka bicarakan dari arah luar rumah.
Senja Ariestya Mentari, gadis itu baru saja pulang dari jalan-jalan malamnya bersama Bayu. Karena tadi siang itu tertunda setelah bertemu pemuda yang kini tengah duduk di sofa sambil memberikan senyum kemenangannya.
"Assalamu'alaikum, maaf Senja baru pulang," ucap Senja kemudian menyalimi para orang tua di sana.
"Habis jalan sama cowok itu? Kamu tau dari tadi Lingga nunggu kamu?" Wanita tua itu langsung memberikan pertanyaan yang kurang bermutu bagi Senja.
"Maaf Oma," ucap Senja dengan nada sangat pelan.
"Senja dengar Oma. Posisi kamu di sini sudah punya calon, jadi tolong hargai perasaan Lingga, dia aja hargai perasaan kamu. Bukan seperti kamu yang malah asik jalan sama cowok lain."
"Lihat Lingga, dia bahkan rela nunggu kamu, pantau kamu, kalau gini terus besok Oma bakal satu sekolahkan kamu dengan Lingga," lanjut wanita tua itu sambil terus menatap cucunya.
"Jangan Oma! Senja gak mau satu sekolah sama dia," ujar Senja cepat.
Senja terus saja menatap pemuda itu dengan tatapan sengitnya, "dasar tukang ngadu," gumam Senja.
"Minta maaf sama Lingga," ucap wanita itu mutlak.
Mendengar itu Senja menggelengkan kepalanya, "gak! Emangnya aku salah apa."
"Minta maaf sama Lingga."
"Gak Oma. Mama Papa tolong," ujar Senja tetap tidak mau melakukan apa yang diperintahkan wanita tua itu.
Sedangkan di sana, Damar dan Kayla menatap nanar putrinya itu. Mereka tidak bisa membela karena keputusan wanita tua itu sudah mutlak tidak bisa diganggu lagi.
"Minta maaf Senja!"
Senja yang pasrah dengan pernyataan itu kemudian melangkahkan kakinya menuju pemuda yang kini tersenyum ke arahnya.
Senja berdiri dihadapannya, "gue minta maaf."
"Tutur katanya yang baik!" Ujar wanita tua itu.
Menarik napasnya pasrah Senja kembali berucap, "aku minta maaf."
Pemuda itu tersenyum, "jangan diulangi lagi, aku maafin."
Senja masih memberikan tatapan permusuhan kepada pemuda itu, "kalau Lo gak ngadu gak bakal kayak gini. Babi! Mukanya minta ditabok," ucap Senja dalam hati.
"Besok sekolah kamu diantar Lingga—"
"Tapi Oma—"
"Gak terima bantahan. Keputusan Oma mutlak! Atau kamu satu sekolah dengan Lingga?"
Senja menghembuskan napasnya pasrah, "oke besok Lingga yang antar sekalian jemput juga gapapa."
***
Sesuai perkataan tadi malam, saat ini pemuda yang kemarin malam menang banyak itu tengah menanti di atas motornya. Menanti sang calon keluar dari rumahnya.
"Selamat pagi cantik," sapa pemuda itu saat melihat Senja yang sudah keluar dari rumahnya dan menghampirinya.
"Cantik cantik noh hidung Lo yang cantik!" Bukannya balas dengan sapaan manis juga, Senja malah membalasnya dengan nada yang ketus.
Tak ambil pusing dengan balasan Senja, pemuda itu memberikan helm yang memang dikhususkan untuk Senja olehnya.
"Nah gini kan enak dilihatnya. Lingga tolong ya antar Senja kalau kamu sempat tolong juga jemput dia," ujar wanita tua itu yang tiba-tiba saja muncul dari arah belakang Senja.
Pemuda itu tersenyum ke arah wanita tua itu,
"Iya Oma Lingga usahakan."
Senja juga memutar arah pandangannya, menghadap wanita tua yang kini memberikan senyum manisnya, tidak seperti kemarin malam.
Awalnya Senja kira malam itu adalah yang terakhir ia mendapatkan ceramah, tahunya malah wanita tua yang tidak lain adalah oma-nya itu menginap di rumahnya dan alhasil tadi pagi juga sama ia mendapat ceramah yang panjang lebar.
"Iya Oma nanti katanya Lingga jemput Senja kok," ucap Senja kemudian arah pandangannya kembali ke arah pemuda itu, "iya kan? Nanti kamu bakal jemput aku? Awas aja kalo gak!" Lanjut Senja sambil memberikan senyum manis yang dibuat-buat.
"Iya nanti aku jemput," ucap pemuda itu sambil mengelus rambut Senja yang dihiasi pita kupu-kupu miliknya.
Wanita tua itu tersenyum, "yaudah kalau gitu berangkat gih. Nanti kalian telat."
"Yaudah kalau gitu kami pamit Oma, assalamu'alaikum," ucap Senja kemudian menyalimi tangan keriput wanita tua itu yang diikuti oleh pemuda di sampingnya.
Setelahnya, pemuda itu melajukan motornya meninggalkan pekarangan rumah Senja.
Sekitar lima belas menit berlalu, kini keduanya sampai di depan halte bus. Senja meminta pemuda itu menurunkannya di sana karena ia tahu sekolah yang ditempatinya saat ini bermusuhan dengan sekolah pemuda yang mengantarnya sekolah dan ia juga tahu bahwa pemuda ini adalah pentolan dari sekolahnya.
Setelah menyerahkan helmnya, Senja berucap, "lain kali gak usah ngadu!"
Pemuda itu tetap tersenyum, "gue gak ngadu juga Lo bakal ketahuan. Jadi salah gue selamatkan Lo duluan?" Ucap pemuda itu.
"Emang gak salah. Tapi cara Lo yang salah menempatkan gue dalam masalah."
Senja menunjukkan senyum miringnya, "ingat di depan Oma kita sebatas sandiwara. Lingga Angkasa," ucap Senja kemudian meninggalkan pemuda itu dalam diam.
Lingga Angkasa, pemuda itu menatap punggung Senja yang kian lama makin menjauh.
Dalam diamnya ia tersenyum miring, "kita liat aja nanti."
•••••
HAI EVERYONE!
NEXT PART GAK?
JANGAN LUPA VOTE AND COMMENT YAA
THANKS!
(Saran kritik)
🐣💛
(Don't forget to follow me)
November 2021
KAMU SEDANG MEMBACA
Guntur Syandyakala
Teen Fiction[SELESAI] Namanya Guntur Langit Syandyakala Pemuda yang paling anti dengan masalah percintaan tapi dalam kehidupan nyata dia sering kali mengucapkan kata-kata manis untuk sebagian besar penggemarnya yang lebih banyak dari kalangan perempuan. Bagaim...
