Destiny

2.3K 211 25
                                        

"Sasi lo hebat banget sih. Gak nyangka kamu tomboy-tomboy gini jago masak juga."

Liana mencomot tempe yang baru saja keluar dari penggorengan.

"Enak banget sumpah!"

"Ya pasti dong, apalagi nasi liwetnya." Salsa mengambil secuil nasi liwet menggunakan centong.

"Kenapa lo gak coba buka usaha rumah makan aja Si? Padahal lo itu serba bisa, bahkan lo bikin kue ultah buat anak gue aja bisa." ucap Siti.

Sasi hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan temannya, kemudian ia mengangkat tempe terakhir dari penggorengan.

"Lo tau gue kan Sit, gue itu orangnya malesan kalau disuruh bikin usaha kaya gitu."

"Tapi sayang banget skill lo jadi sia-sia."

"Hmm iya sih, sebenarnya gue mau aja usaha kaya gitu, tapi gue belum ada modalnya." Jawab Sasi.

"Gue bisa aja pinjemin lo modal buat buka usaha lo, kalau lo mau." Ujar Liana.

Liana memang termasuk dari keluarga berada, bahkan suaminya itu adalah menteri di negara yang kini mereka tempati.

"Hmm nanti gue pikirin lagi deh, tapi thanks ya Li udah mau bantu gue."

"Santai aja kali, kaya sama siapa aja lo." Liana menepuk bahu sahabatnya dari jaman SD itu.

"Eh tinggal bikin sambel nih, Sal lo bikin sambelnya ya. Gue paling gak bisa bikin sambel yang enak soalnya."

"Ternyata kelemahan lo gak bisa bikin sambel." Ejek Salsa membuat Sasi tertawa.

"Kayanya gue harus belajar dari elo Sa." Canda Sasi.

"Rela gue ajarain lo sampe jadi duta sambel Si."

Sasi berjalan keluar dapur, ia melihat teman-teman SD lelakinya yang sedang bercanda.

Ya, mereka sedang mengadakan reuni SD setelah sekian tahun tidak berjumpa.

"Eh Si, makanannya udah jadi belum?" Tanya Malik sambil mengelus perutnya mengkode bahwa ia sudah sangat lapar.

"Tinggal bikin sambel aja, eh Tofik lo ambilin daun pisang buat nasi liwetnya."

Tofik yang baru ingin duduk mengurungkan niatnya.

"Yeh markonah kenapa gak dari tadi!" Sewot Tofik.

"Sekalian lo kan lagi pegang pisau." Ucap Sasi karena kebetulan Tofik lagi memegang pisau bekas membelah jambu untuk dibikin rujak.

Dengan tidak rela Tofik kembali keluar dari sana.

"Eh si Ikram belum datang ya?" Tanya Malik.

Sasi mengerjapkan matanya. Tentu saja Ikram, pantas saja ia merasa ada yang kurang ternyata cowok itu belum datang.

"Emang dia udah balik dari papua?" tanya Liana yang baru saja keluar dari arah dapur dan ikut bergabung bersama mereka.

"Udah semingguan dia balik." Jawab Juang yang memang bertetangga bersama Ikram sekaligus dia suami dari Siti.

Diantara semua teman SD-nya, cuma Siti dan Juang yang memang ditakdirkan untuk berjodoh.

Sekedar info, Juang sudah mencintai Siti dan mengejar-ngejarnya dari jaman SD sampai sekarang, Juang termasuk pria tampan yang banyak disukai oleh wanita diluaran sana, ya.. siapa sih yang gak suka sama pria bertubuh kekar dan tampan, apalagi dia seorang pimpinan di PEMDA, dan Siti adalah si wanita gendut yang berhasil menaklukkan hati seorang Juang.

"Yang bener? Setahu gue dulu dia itu gendut, eh pas gue lihat postingan di ig-nya, gila makin cakep aja apalagi badannya beuh mantep." Ucap Liana yang disoraki para lelaki.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 17 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

About Us Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang