Chapter 17: Nightmare

149 16 1
                                        

Happy Reading^^

▫ ▫ ▫

Pukul menunjukkan angka 01.42 waktu bagi semua orang untuk tidur dan mengistirahatkan tubuhnya. Begitu pula dengan Elang, ia tengah tertidur lelap. Tengah berkelana dalam mimpinya, sampai akhirnya mimpi itu malah mengusiknya. Di sana, di mimpinya, ada seseorang yang memeluknya dari belakang dengan amat sangat erat. Melebihi eratnya pelukan dari mama. Bahkan rasanya pelukan itu begitu nyata, ia bahkan sampai terbangun karenanya.

Elang menguap, mengucek mata, lalu mendudukan tubuh dan mencoba menajamkan pandangannya. Memperhatikan sekitar. Meski sebenarnya tidak ada hal yang aneh. Tidak ada siapapun disana. Ia yakin. Hanya saja ia ingin memastikan apakah yang tadi itu hanya mimpi atau memang nyata adanya. Kalau itu nyata atau hanya mimpi sekalipun, pertanyaannya tetap sama, siapa orang yang sudah memeluknya sampai sebegitu eratnya.

Ingin kembali tidur, tetapi ponselnya menyala, menarik perhatian Elang. Ternyata ada sebuah pesan masuk ke ponselnya.

"Fyi, gue ga bisa tidur Lang. Nina boboin dong" Isi pesan yang ternyata dari Justin. Si sobat laknatnya.

"Najis. Ga peduli njing" Elang mendadak emosi, dini hari begini malah mengirimkan pesan yang sama sekali tidak penting. Menyesal rasanya karena Elang sudah menyia-nyiakan waktunya yang berharga untuk membaca pesan tersebut.

Ia kemudian meletakkan ponselnya dan kembali bersiap untuk melanjutkan tidurnya. Tetapi ponsel itu bergetar dan kembali menyala. Penasaran, Elang mengambil dan membuka ponselnya itu.

Dan untungnya itu bukan pesan dari Justin, tetapi sialnya pesan itu tak lebih penting dari pesan Justin.

"INFO RESMI. Selamat, anda mendapatkan hadiah uang tunai sebesar 175jt rupiah dari JanganHalu.com. Pin 23517. Hubungi 088725783529 untuk keterangan lebih lanjut"

"B**gsat"

Singkat padat jelas.

Elang akhirnya melemparkan ponselnya sembarang. Tak peduli jika ponsel itu bergetar dan menyala lagi.

▫ ▫ ▫

Ini adalah mimpi terburuknya, dari sekian banyak mimpi di masa lalunya, yang ini benar-benar yang terburuk.
Asha bahkan sampai terbangun dengan mata yang basah karena air mata saking takutnya ia dengan mimpi itu.

Masih terfokuskan pada mimpinya itu, Asha kini akhirnya sadar bahwa ia terbangun bukan di kamarnya. Selain itu, terdapat sesuatu yang menggelikan di hidungnya, tangannya juga terhubung dengan selang infus. Dia pasti sedang dirumah sakit saat ini.

Ah iya, Asha baru ingat bahwa siang tadi dia bertemu segerombolan orang asing dengan seorang lelaki yang berkaitan dengan mimpi buruknya barusan. Ia bahkan sampai menangis dan ketakutan tadi. Sampai akhirnya Arvin juga Alfa datang menolongnya. Mas Ar bertengkar dengan lelaki tadi, sedangkan Alfa menenangkannya. Setelah itu dia tak sadarkan diri. Ya, Asha mengingatnya.

Beberapa saat suasana hening menyelimuti Asha yang masih setia dengan ingatannya. Hingga akhirnya suara pintu terbuka mengalihkan perhatian gadis itu, dilihatnya Arvin masuk kesana "Sha, kamu udah bangun?" kata kakak sepupunya itu sambil mendekat ke arah Asha.

"Mas Saki, Asha bangun" Ucapnya lagi, mengarah pada Arsaki yang terlihat tengah tertidur di sofa. Tak lama kemudian, Saki akhirnya ikut bangun. Sedangkan Asha masih tetap diam tak mengeluarkan suara.

"Kamu nangis, kenapa? Ada yang sakit?" Arvin bertanya khawatir usai melihat jejak air mata di wajah Asha. Sementara yang di tanya hanya menjawab dengan gelengan pelan.

Not a Secret Admirer [Complete]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang