Chapter 32: Reunion

123 14 0
                                        

▫️▫️▫️

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

▫️▫️▫️

Kabar tentang komanya Asha membuat banyak orang terkejut. Begitu pula dengan Elang. Ia sampai tak bisa berkomentar apa-apa ketika dirinya baru saja mendapat kabar itu dari Arvin, sepupu Asha.

Sedih, jelas sekali ia sedih. Meski begitu setidaknya ada yang masih bisa disyukuri. Karena Asha masih hidup. Meski dalam keadaan yang tak sadarkan diri saat ini.

"Gue tutup dulu bang." Arvin hendak mengakhiri panggilan tersebut. Namun belum sempat ia menyentuh tombol merah pada ponselnya, Elang menahannya.

"Dev..."

"Kenapa?"

"Apa gue boleh jenguk Alasha?"

Diam untuk sepersekian detik.

"Gue ga tau ayah bunda bakal bolehin atau engga, tapi lo coba aja kesini." 

"Ya udah, nanti gue kesana" Sahut Elang, dan telepon terputus setelahnya. Ia pun kembali mengalihkan perhatiannya pada Everly dan Araska yang ada di depannya. Ya, ia sedang mengunjungi kafe Aurora.

"Kenapa Lang?" Everly bertanya ketika menemukan hal yang tidak beres pada Elang ketika ia selesai dengan teleponnya.

"Alasha..."

"Dia koma."

"Hah?"

"Serius Bang?"

Kakak adik itu sama-sama memberikan respon terkejutnya. Sementara Elang mengangguk, tanggapan yang dilakukannya untuk lebih meyakinkan kedua orang itu.

"Kok bisa? Asha kenapa emangnya?"

"Asha itu pengidap kanker otak Ev, dia ngejalanin operasi pengangkatan sel kanker. Dan sekarang setelah operasi itu, dia koma."

Oke, Everly benar-benar terkejut sekarang. Ia bahkan sampai menutup mulutnya karena itu. Ia sama sekali tak tahu menahu soal ini. Arsaki tak pernah menceritakan kepadanya, padahal sebelumnya tak jarang mereka membicarakan soal adik-adiknya.

"Serius, gue ga nyangka."

"Gue juga." Raska ikut menyahut.  "Semoga Asha bisa cepet sadar."

"Semoga."

Kini beberapa saat telah berlalu. Araska sudah tidak bergabung dengan Elang dan Everly. Sedangkan Everly memilih untuk mengajak Elang ke taman di dekat danau. Mencoba untuk memberi tempat yang lebih nyaman pada Elang untuk bisa sepenuhnya bercerita padanya. Karena Everly tahu, Elang membutuhkan ia untuk menjadi pendengarnya.

"Gue ga tega, Ev." Elang mulai membuka suara. Dan Everly dengan setia menunggu pemuda itu untuk melanjutkan ucapannya.

"Gue ga tega kalo Asha sakit begini."

Not a Secret Admirer [Complete]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang