Happy Reading^^
▫ ▫ ▫
"Bunda, airpods Asha dimana ya?" Teriak Alasha yang kini tengah menuruni anak tangga untuk sampai ke lantai dasar tempat bundanya berada.
"Di nakas ga ada? kemarin bunda liat disitu" Elva menjawab. Ia tengah menyiapkan sarapan dengan di bantu salah satu ART.
"Ga ada"
"Coba dicariin dulu yang teliti, siapa tau jatuh atau nyelip di belakangnya" Satya yang juga berada disana ikut menambahkan.
"Ok, Asha cari lagi deh" Asha berbalik, ia kembali ke kamarnya guna mencari pelantang telinga itu. Ia harus menemukannya karena hari ini akan ada pelajaran sosiologi yang guru pengajarnya --Bu Ica-- lebih suka bercerita tentang anak kesayangannya daripada menerangkan pelajaran. Maka dari itu, daripada nanti ia mengantuk lebih baik ia mendengarkan musik menggunakan Airpods nya.
Sampai di kamar, Asha langsung menuruti ucapan ayahnya. Ia memeriksa celah yang ada di belakang nakas. Benar saja, Airpods miliknya jatuh kesana. Dengan sedikit tenaga, Asha mencoba menarik nakas tersebut agar ia bisa dengan mudah mengambil Airpods itu.
"Nah dapet" Ucapnya setelah berhasil mengambil airpods tersebut, pandangannya yang awalnya terfokus kepada AirPods kini teralihkan oleh benda lain. Yaitu pada sebuah gulungan kertas yang berada ditempat yang sama ketika Asha menemukan Airpods tadi.
Karena penasaran, Asha pun mengambilnya.
Kini gulungan itu sudah berada ditangannya. Gulungan berwarna kuning kecoklatan yang sedikit berdebu, terlihat sedikit usang.
Asha lalu meniupi gulungan kertas tersebut. Berusaha mengurangi debunya. Setelahnya ia, membuka gulungan itu.
Keningnya langsung mengkerut dan matanya menyipit, mencoba mengamati dengan lebih baik isi gulungan tersebut.
Sebuah gambar seorang perempuan yang menggunakan pakaian khas ala kerajaan, lengkap dengan mahkota diatas kepalanya, terlukis sempurna pada gulungan itu.
"Gambar siapa?" Asha bermonolog. Seingatnya ia tak pernah memiliki gambar seperti itu, apa ini milik kedua orang tuanya?
Baru ingin beranjak untuk bertanya, Asha menyadari sesuatu. Wajah perempuan dalam gambar itu, mengapa mirip sekali dengannya. Meski hanya sebuah gambar, tapi itu benar-benar seperti wajahnya. Tapi siapa yang menggambarnya. Dan, Asha juga kan tak pernah memakai gaun atau mahkota seperti yang ada di gambar itu.
Sadar bahwa ia tengah membuang waktu, Asha memilih untuk kembali menggulung gambar tersebut dan meletakkannya diatas nakas.
"Ah, mungkin lukisannya ayah" Gumam Asha. Selanjutnya ia keluar dari kamarnya untuk turun dan bergabung dengan kedua orang tuanya yang tengah sarapan.
▫ ▫ ▫
Mata yang awalnya sayu itu mengedip beberapa kali sampai akhirnya terbuka lebar setelah menyadari tempatnya berada saat ini.
"Ini dimana?" Ia bermonolog seraya menolehkan kepalanya, memandang sekeliling.
"Perasaan tadi gue di sekolah, masih make seragam juga ni" Ucapnya lagi usai memastikan baju apa yang tengah ia kenakan.
Kaget dan bingung, dua hal yang jelas Alasha rasakan. Pasalnya, ia benar-benar tak tahu dimana ia sekarang.
Ia yang awalnya duduk bersandar dibawah sebuah pohon yang ia ketahui adalah jenis pohon maple kini bangun, beranjak pergi dari sana. Masih dengan perasaan bingungnya, juga mata yang terus melihat sekitar.
Kakinya melangkah pelan, menelusuri jalan setapak yang ada disana.
Aroma semerbak dari beberapa jenis bunga yang tertanam di kanan-kiri jalan memasuki indera penciumannya. Pohon-pohon rindang yang tumbuh subur menyejukkan suasana yang ada disana. Terdapat pula beberapa paviliun kecil yang terlihat begitu nyaman untuk beristirahat. Lengkap dengan matahari yang bersinar tak begitu menyengat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Not a Secret Admirer [Complete]
Teen Fiction[𝐑𝐨𝐦𝐚𝐧𝐜𝐞-𝐅𝐚𝐧𝐭𝐚𝐬𝐲] 𝑬𝒕𝒉𝒆𝒓𝒂𝒍𝒂𝒏𝒅 𝑼𝒏𝒊𝒗𝒆𝒓𝒔𝒆 𝑩𝒐𝒐𝒌 𝟏 - "Dia si cewek aneh yang punya kaitan penting sama gue" ***** Alasha Catalina Radeva atau biasa dipanggil Asha. Gadis remaja kelas 11 SMA yang kehidupannya mendadak...
![Not a Secret Admirer [Complete]](https://img.wattpad.com/cover/284239470-64-k910580.jpg)