Chapter 28: The End Of Revenge

125 17 0
                                        

▫️▫️▫️

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

▫️▫️▫️

"Jadi gimana keputusan Mbak?"

Elva yang mendapat pertanyaan dari adiknya itu hanya menggeleng pelan. Dirinya sendiri bingung bagaimana harus memutuskan hal yang bersangkutan dengan anaknya itu.

"Mbak ga tau,"

"Mas Satya juga masih belum tau mau gimana, sebenarnya keputusan ini ada sama Asha. Mbak sama Mas Satya ga akan bisa maksa kalo Asha ga mau" Lanjut Elva.

"Tapi mbak, kalo Asha ga mau, kondisinya bakal semakin buruk dan aku takut kalo Asha ga bisa lewatin itu"

"Mbak juga sama kaya kamu Cakra, mbak takut banget. Tapi di samping itu mbak juga takut kalo Asha nanti ga bisa bertahan lewatin operasi itu"

Cakra diam, Elva pun ikut diam. Mereka berdua sama-sama terhanyut akan kondisi Asha dan segala konsekuensi yang mungkin terjadi jika Asha melakukan operasi besarnya. Kalau pun tidak, tetap saja akan ada akibat dari pilihannya.

"Mbak ga pengen lihat Asha begini Cakra, apalagi kondisinya terus menurun. Mbak bener-bener ga tega" Elva kembali berucap, seraya mengelus puncak kepala Asha. Dengan tetap menahan air mata yang ada di pelupuk matanya.

Cakra ikut memandang wajah ponakannya itu, jelas ada perasaan sedih pada dirinya. Mengingat bagaimana cerianya anak itu dulu. Dan sekarang, Asha seakan dipaksa untuk menggunakan selang infus dan terbaring lemah di ranjang rumah sakit.

"Mbak Elva belum makan kan, ayo makan dulu. Jangan sampe mbak sakit juga" Cakra mengubah arah pembicaraan, sekaligus ingin mengajak Elva untuk keluar dari sana dan mengisi perutnya. Ia sendiri khawatir dengan keadaan kakaknya itu.

Tanpa pikir panjang, Elva menuruti ucapan Cakra. Dan dengan rangkulan Cakra di punggungnya, Elva beranjak dari sana. Meninggalkan Asha yang sejak tadi berpura-pura tidur dan tetap memejamkan mata.

Yap, Asha mendengar semua pembicaraan kedua orang dewasa itu. Rasanya Asha bingung, Asha pun tak ingin melihat keluarganya bersedih seperti ini. Maka saat ia membuka netranya, ada air mata yang menetes dari sana, menyadari betapa pilu cerita tentangnya.

▫️▫️▫️

Lelaki dengan plester yang tertempel pada dahinya itu kini menatap lekat pada Elang. Sorot matanya tak bisa menyembunyikan perasaan dendam yang ada pada dirinya. Meski saat ini ia tengah mencoba untuk tetap tenang dan meredam amarahnya.

"Jelasin sama gue apa maksud omongan lo itu. Gue ga akan ngehajar lo sebelum lo selesai jelasin"

Elang yang ada disana balik menatap orang itu sebelum menjawab pertanyaan yang di lontarkannya. Sejujurnya ia cukup terkejut atas ajakan pemuda itu untuk bertemu di taman tempat mereka biasa berkumpul dulu. Tempat yang tak berubah sama sekali. Hanya jumlah mereka saja yang berubah. Jika dulu mereka bertiga bersama dengan Zavia. Kini hanya ada Elang dan Dendra. Ya, hanya mereka berdua.

Not a Secret Admirer [Complete]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang