Chapter 29: Don't Be Afraid

132 17 1
                                        

▫️▫️▫️

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

▫️▫️▫️

Kurang dari 20 jam lagi, Asha akan menjalani operasi besar sebagai upaya pengangkatan sel kanker yang selama ini bersarang pada otaknya. Operasi yang memungkinkan ia bebas dari rasa sakit kepala, juga dari rasa bosan akibat mimisan yang sering kali terjadi padanya. Operasi yang juga memungkinkan Asha meregang nyawanya.

Ya, ada resiko besar dari operasi itu. Yang selama ini membuat ia tak pernah mau melakukannya. Tetapi kini, Asha memilih untuk menjalankan prosedur itu. Demi orang tuanya. Karena jika memang Tuhan berkehendak untuk membuatnya tetap hidup, maka ia yakin ia akan bisa bertahan melewati operasi itu.

Kini bersama dengan Arvin dan Arsaki yang sudah berbaikan, Alasha menelusuri lorong rumah sakit. Tak mau menyia-nyiakan waktu untuk tetap berada di dalam ruangan yang terasa pengap baginya.

"Mau ke taman lagi?" Kepala Asha mengangguk menjawab pertanyaan Arvin. Sesaat setelahnya kursi roda yang Asha naiki berbelok ke kiri. Guna mencapai tempat tujuan mereka saat ini.

"Sekarang Asha masih boleh makan kan?"

"Masih kok, mau makan apa? Mas Saki beliin."

Asha tampak berpikir sejenak. "Emm, Asha pengen Burger."

"Ga boleh."

"Ih kok ga boleh?"

"Ya ga boleh. Yang lain aja."

"Mie instan—"

"No." Potong Saki dengan tegas. Membuat Asha kembali mem-pout-kan bibirnya.

"Kamu pengennya jangan yang aneh-aneh Asha." Arvib menasehati.

"Ya terus apa dong?"

"Bubur ayam aja." Kali ini Asha yang menolak "Ga mau."

"Trus apa?"

"Es krim. Harus boleh loh!"

Saki melemparkan pandang pada Arvin. Mencoba bertanya apakah mereka harus mengizinkan Asha untuk makan es krim, atau tidak.

"Bolehin aja lah, Mas." Arvin buka suara. "Ya udah, tunggu sini. Mas beliin dulu, mau rasa apa?"

"Stroberi"

"Oke tunggu ya" Selanjutnya, Saki pun pergi dari sana. Mencari penjual es krim terdekat, demi menuruti keinginan adiknya.

Sementara itu, bersama dengan Arvin, Asha tetap berada di taman. Memainkan gelembung sabun yang ia ciptakan menggunakan bubble gun yang sebelumnya ia minta kepada ayahnya.

Asha sangat menyukainya. Beberapa kali ia hampir berteriak karena saking semangatnya. Mungkin jika sekarang Asha diperbolehkan untuk melakukan banyak aktivitas seperti biasanya, dan juga jika tubuhnya tidak terlalu lemah seperti sekarang. Ia pasti sudah melompat-lompat dan berlarian sejak tadi.

Not a Secret Admirer [Complete]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang