Bii - I Will Miss You
💜💜
Hallo paman, aku merindukanmu. Aku tahu kau juga sangat merindukanku dan selalu bersedih untukku. Apa yang terjadi hari itu bukan kesalahanmu. Itu kesalahanku.
Aku minta maaf, paman. Tapi tak ada yang bisa kau lakukan untuk mengubahnya. Inilah yang ingin kukatakan padamu. Aku mohon jangan menyalahkan dirimu sendiri, karena itu membuatku sedih. Jangan bertengkar dengan mama hanya karena aku. Di duniaku yang baru, aku tidak akan bisa bahagia jika melihat kalian tidak bahagia.
Aku tahu kau akan berjuang untuk membuat semuanya baik-baik saja.
Kau adalah paman terbaik di dunia.
Kedua tangan Yibo gemetar, dan dadanya berguncang menahan tangis yang nyaris pecah, memberontak keluar serupa jeritan. Kertas itu ia letakkan kembali di atas meja, dan ia licinkan lipatannya dengan telapak tangan. Serangkaian huruf hasil karya tulisan anak kecil yang tak asing lagi baginya. Tidak diragukan lagi, itu tulisan Jin Ling.
Semua yang ia alami tidak masuk akal sejauh ini, ditambah satu lagi hal tidak masuk akal, nampaknya tidak akan membuat banyak perbedaan. Mengapa seseorang yang sudah pergi ke alam lain bisa menyampaikan ini dan membayangkan bahwa orang akan percaya dengan begitu mudah.
Yibo menjauhkan diri dari meja, bersandar pada sofa sementara sel sel otaknya yang membeku perlahan tersadar. Dia tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Pesan yang ditulis Jin Ling begitu memelas dan sedih. Tanpa tertahan, air mata membanjiri wajahnya, dan ia tidak berusaha menutupinya dari Yan Li.
Kakak perempuannya berdiri di ujung sofa dengan wajah sepucat biasa. Perlahan Yan Li mendekati adiknya, duduk di samping Yibo dan menepuk lembut bahunya. Satu upaya tanpa kata yang mengisyaratkan bahwa ia siap berbagi duka.
"Awalnya aku khawatir akan reaksimu. Kupikir kau akan marah seperti dulu, tapi kali ini kau menangis," gumam Yan Li, menyuarakan keheranannya.
Yibo menghela nafas pelan. Dia melirik Yan Li dan tersenyum. Itu adalah senyum pucat, serupa hantu yang terlihat nyata, gersang, lelah dan melankolis. Dia sepertinya akan mengatakan sesuatu, berubah pikiran, dan mengembalikan perhatiannya ke lembar kertas di atas meja.
"Apakah kali ini kau percaya pada kehadiran Jin Ling?" Yan Li berhati-hati untuk tidak terdengar mendesak. Secara naluri, ia merasakan bahwa adiknya sedang dalam kondisi tertekan yang buruk.
Kebisuan Yibo bermakna banyak hal baginya. Mungkin ia sedang berada di tengah dilema yang mengoyak keyakinannya. Mungkin ia sedang belajar melunakkan logikanya yang keras kepala. Tetapi tangisan Yibo nampak sedikit berbeda malam ini. Dia bersedih karena surat Jin Ling, tidak diragukan. Tetapi ada hal lain yang tak terucapkan namun bisa dirasakan. Diam-diam Yan Li merasa sangat buruk melihat kondisi adiknya. Dia tidak pernah terlihat sesedih ini sebelumnya, rapuh dan bisa hancur bahkan oleh sentuhan lembut.
"Yibo," ia meneliti ekspresi adiknya, tidak ada semangat hidup di sana. Matanya nampak jauh dan dipenuhi bayang-bayang penyesalan yang sulit diungkapkan.
"Katakan ada apa--" perhatian Yan Li benar-benar tulus kali ini. Entah mengapa dia sangat takut melihat kondisi mental Yibo.
Sayangnya, pertanyaan itu makin memperburuk suasana hati Yibo. Rasa frustasi, mengasihani diri sendiri, menangisi setiap momen dalam hidupnya yang sulit dan tidak bahagia, membuatnya terpuruk semakin dalam. Dia bangkit perlahan, berdiri sempoyongan dan sewaktu Yan Li mencoba membantunya berdiri seimbang, Yibo melepaskan pegangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐒𝐢𝐥𝐞𝐧𝐭 𝐋𝐨𝐯𝐞 𝐒𝐨𝐧𝐠
Fanfiction"Jika seseorang tak pernah ada, maka bagaimana dia bisa menghilang?" Kalimat yang terucap dari seorang penyanyi kafe malam bernama Sean itu selalu terngiang di telinga Inspektur Wang. Semua yang terjadi di sekitarnya selalu berbalut misteri. Kasus k...
