Lagu Payung Teduh yang berjudul 'Untuk Perempuan yang Sedang Dipelukan' menemani perjalanan pulang Aruni dan Raga. Mereka pulang setelah salat asar dan mengunjungi rumah Bi Irni yang ternyata tidak ada orang, kata tetangganya saudara Bi Irni dan ibunya ke kampung sebelah mengunjungi paman Bi Irni yang lagi sakit.
Suasana sore yang mendung dengan kecepatan mobil yang sedang ditambah lagu dari Payung Teduh membuat suasana di dalam mobil begitu sulit dideskripsikan. Antara Raga dan Aruni, mereka memilih diam satu sama lain. Lagu berganti, masih lagu dari Payung Teduh, tapi judul yang berbeda 'Di Atas Meja'.
Di penggalan refnya, Aruni menggumam mengikuti lagu. Raga meliriknya. "Lo tau?" Tanya laki-laki itu, lalu berfokus kembali ke jalanan.
"Refnya doang," kata Aruni.
Setelahnya tidak ada lagi perbincangan di antara mereka hingga memasuki daerah kota. Langit tampak sudah menggelap, dan sahut menyahut suara pengeras masjid terdengar menandakan waktu magrib sebentar lagi akan tiba.
"Ga, bisa mampir di mini market depan gak? haus gue," pinta Aruni.
Raga mengangguk, dan menghentikan mobilnya di depan mini market yang Arunj maksud. "Gue tunggu di sini yah?" Kata Raga.
Aruni mengangguk sambil mengucap, "iya." Lalu turun dari mobil meninggalkan Raga yang mengawasi pergerakannya hingga memasuki mini market. Raga kemudian mengalihkan pandangannya di depan sana, entahlah pikirannya jauh menerawang. Pelan-pelan tanpa ia atur, pikirannya malah tertuju pada gadis yang baru pergi dari sisinya. Raga mendengus menyesali kekonyolannya tersebut, ia lalu mengusap wajahnya gusar, dan kembali mengarahkan pandangannya di pintu mini market.
Tidak lama terlihat Aruni keluar dengan dua botol air mineral di tangannya. Raga masih memperhatikan pergerakan gadis itu saat seseorang dengan tubuh yang lumayan tinggi menghampirinya. Raga masih memperhatikan interaksi keduanya, bahkan saat laki-laki itu meraih tangan Aruni, dan entah kenapa Raga rasanya marah melihat Aruni tidak menolak. Raga masih melihat saat tangan laki-laki itu lepas dari tangan Aruni, kemudian salah satu tangannya itu menepuk bahu Aruni, dan mereka saling bertukar senyum, setelahnya gadis itu pergi menuju Raga. Menuju mobil.
Hembusan napas Aruni terdengar di telinga Raga saat gadis itu duduk di dekatnya. Raga menoleh dan berucap dengan nada tanya, "siapa?"
Aruni menoleh pada laki-laki yang berada di dekatnya itu, dilihatnya Raga yang menatapnya pula -- dalam. "Nih, gue beli juga buat lo." Tanpa menjawab pertanyaan Raga, Aruni menyodorkan sebotol air mineral pada laki-laki itu.
"Siapa?" Raga mengulang ucapnya seraya meraih botol itu dan menaruhnya. Aruni bingung dengan pertanyaan Raga. Namun, detik berikutnya ia tersadar 'siapa' yang dimaksud oleh Raga. Ia pun menolehkan kepalanya di jendela mobil, dilihatnya laki-laki yang tadi menyapanya sedang memasuki mobil berwarna putih. "Oh dia? Dia Andra, Ga."
Sejenak Raga terdiam mendengar jawaban Aruni, lalu ia kembali melontarkan pertanyaan, "dia minta lo balik?"
Aruni menggeleng pelan. "Dia cuma minta gue selalu baik-baik di tempat pelarian gue."
Raga tidak membalasnya lagi. Ia malah menatap Aruni dengan tatapan yang sulit gadis itu artikan, kemudian laki-laki itu menghembuskan napasnya seraya membalikkan badan menghadap ke depan. Tanpa mengatakan sepatah katapun, Raga menjalankan mobilnya bersamaan dengan suara azan yang terdengar sahut menyahut. Waktu magrib telah tiba.
Tidak cukup lima belas menit, mereka sudah sampai di rumah Raga, dan sepanjang perjalanan dari mini market tadi, Raga tidak pernah bicara apapun, bahkan saat Aruni turun dari mobil, laki-laki itu tidak ikut turun, ia justru memutar kembali mobilnya menuju jalan raya.
Aruni sendiri bingung dengan sikap Raga yang tiba-tiba mendiaminya seperti tadi. Ia menatap mobil Raga yang secepat kilat menghilang dari pandangannya. Dengan perasaan yang bertanya-tanya, Aruni melangkah memasuki rumah.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARUNIKA (SELESAI)
Teen FictionHanya kisah sederhana yang lahir dari imajinasi anak manusia. Tidak menjanjikan manfaat, tapi mengharapkan keluasan hati dari yang membacanya, agar dapat memetik satu makna saja di sepanjang alur cerita. Mohon maaf jika tokoh-tokohnya tidak terlalu...
