"Gue bukan tipe cowok yang suka minta maaf berkali-kali loh, Runi," ujar Raga menyamakan langkahnya dengan Aruni.
"Yang suruh lo minta maaf berkali-kali siapa?" Balas Aruni.
"Sikap lo nunjukin."
"Nunjukin apa?"
"Lo marah, dan harusin gue minta maaf."
"Gue gak marah."
"Lo bete sama gue."
"Iya."
Tiba-tiba tawa Raga pecah membuat Aruni menghentikan langkahnya dan menoleh pada laki-laki itu. "Kita kayak sepasang kekasih aja yang lagi perang dingin."
Aruni pun menyadari kekonyolan mereka, ia kemudian ikut tertawa. "Lo yang mulai."
"Elah, elo."
"Lo yang jailin gue."
"Tapi lo yang bete."
"Gue bete kan karena lo."
"Tuh kan, tuh kan mulai lagi." Raga tersenyum lebar pada Aruni, dan gadis itu tertawa.
"Udah ah, beli halus manis yuk." Aruni kembali melangkah.
"Halus manis? Permen kapas kali," sahut Raga ikut melangkah.
"Sama aja, Ga."
Mereka pun menghampiri penjual gulali yang berada di tengah-tengah keramaian. "Loh? Kok cuma satu? Lo nggak? Beli aja, Ga, kali ini gue yang teraktir," ujar Aruni dengan senyum bangganya saat mendengar Raga memesan gulali hanya satu.
"Gue makan punya lo aja hehehe," sahut Raga, dan setelah transaksi selesai mereka kembali mengitari pasar malam yang semakin ramai.
"Kok nggak dimakan?" Tanya Raga melihat Aruni memegang permen kapasnya yang masih utuh.
"Ntaran aja deh di mobil." Aruni mengarahkan langkahnya menuju istana balon, dan Raga mengikut saja di belakangnya. Perlu Aruni tahu, bahwa laki-laki itu paling anti jalan berduaan dengan cewek di tengah keramaian seperti sekarang, kecuali Dara orangnya -- itupun tidak pernah ia lakukan, karena waktu berduaan bersama Dara, lebih banyak ia habiskan di perpus untuk membantu gadis itu menyelesaikan tugas akhirnya.
"Gue sangat senang liat keceriaan anak-anak saat main." Aruni menatap anak-anak yang tengah menikmati permainan istana balon, sebagian dari mereka ada yang melompat-lompat, sebagian ada yang mengguling-gulingkan tubuhnya di tengah bola-bola kecil, dan sebagian lagi ada yang main peran-perangan. Seru sekali dunia anak-anak.
Raga melirik perempuan yang berdiri di sebelahnya itu. "Mereka kayak gak punya beban yah?" Komentar Raga turut melihat kerumunan anak-anak di istana balon. Sungguh Raga merasa asing pada dirinya, tapi jujur ada perasaan aneh yang dirasakannya. Nyamankah? Bahagiakah?
Aruni terkekeh mendengar ucapan Raga. "Iya, anak-anak gak punya beban." Tiba-tiba pikiran gadis itu menerawan. "Andai aja gue tau semuanya waktu masih anak-anak, mungkin gak akan sesakit ini." Ia tersenyum miring dengan tatapan yang lurus.
Raga berdecak. "Gue nemenin lo, karena pikir lo mau senang-senang di sini. Jadi, plis deh gak usah sedih-sedih gitu, rusak suasana ceria mereka tau." Laki-laki itu mengedarkan pandangannya ke orang banyak. Aruni terkekeh mendengar hiburan Raga. "Cukup di bianglala tadi soal Andra," lanjut Raga dengan nada sedikit kesal.
Aruni tidak menanggapi, melainkan melebarkan senyumnya, terima kasih buat Raga yang sudah membuatnya bahagia malam ini. Ia menoleh saat mendengar suara tangis anak kecil, dilihatnya anak laki-laki sedang berusaha ditenangkan oleh ibunya. Jarak mereka cukup dekat, dan Aruni mendekati anak itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARUNIKA (SELESAI)
Teen FictionHanya kisah sederhana yang lahir dari imajinasi anak manusia. Tidak menjanjikan manfaat, tapi mengharapkan keluasan hati dari yang membacanya, agar dapat memetik satu makna saja di sepanjang alur cerita. Mohon maaf jika tokoh-tokohnya tidak terlalu...
